Membuka Pagi dengan Wedang Tahu Bu Kardi

Wedang Tahu
Wedang Tahu | © Yayan

Pagi di awal tahun 2017 ini aku memutuskan untuk bangun pagi. Di saat ribuan orang masih menikmati tidurnya selepas merayakan pergantian tahun, aku memilih bangun lebih pagi agar dapat mencicipi Wedang Tahu Bu Kardi yang semalam aku lihat di salah satu akun instagram tentang kuliner di Yogyakarta. Aku penasaran dengan Wedang satu ini. Karena di Yogya, setahuku hanya ada Wedang Ronde.

Aku berangkat pagi-pagi karena tak mau kehabisan. Wedang Tahu Bu Kardi konon sangat digemari. Dan akan selalu habis di sekitar pukul 09.00.

Aku berangkat Pukul 05.50 dari Karangmalang menuju Jl. Asam Gede, barat Pasar Kranggan, sesuai petunjuk. Karena belum terlalu hafal rute, aku mengemudi sepeda motor dengan pelan-pelan. Pagi itu sedikit mendung. Udara masih sejuk. Gunung merapi masih tertutup kabut tebal. Namun, masyarakat Yogyakarta tetap beraktivitas seperti biasanya.

Melalui google maps, setidaknya aku bisa menerawang lokasi Wedang Tahu Bu Kardi. Aku melihat kiri-kanan jalan setelah melewati Tugu Muda. Tak jauh dari situ terlihat plang bertuliskan Jl. Asam Gede sebelah kanan.

Gas sepeda motor aku tarik pelan, melewati perempatan pertama sembari menoleh kanan-kiri. Aku tidak menemukan apa-apa di sana. Lanjut ke perempatan ke dua; hanya ada seorang mbah yang tengah membuka lapaknya di kiri jalan. Aku kemudian sampai di perempatan terakhir di sana, juga tak ada apa-apa. Lalu berbalik dan kembali ke perempatan kedua. Di sana aku berbelok ke arah timur.

Tak juah dari perempatan kedua aku melihat toko yang masih tutup. Ternyata itu toko gudeg Yu Djuminten. Wedang Tahu Bu Kardi katanya berada di depan Toko Gudeg Yu Djuminten.

Sebelumnya aku mengira bahwa Wedang Tahu Bu Kardi berada di dalam sebuah toko. Ternyata aku salah. Setelah menoleh ke belakang, terlihat seorang ibu tengah menyiapkan dagangannya di seberang jalan. Di situ pula tertulis “Wedang Tahu.” Owalah ini tho. Aku tidak sadar telah melewatinya tadi. Aku pun langsung memutar sepeda motor. Menuju ke sana.

Belum ada pembeli lain, Wong baru jam 6.

Monggo, Mas”

“Wedang tahu satu, Bu”

“Oh iya, bentar ya, Mas, tak panasi dulu”

“iya, Bu”

Sekitar dua menit wedang tahu hangat sudah di tanganku. Semangkuk wedang tahu dengan limpahan air jahe membuat tenggorokan tak sabar lagi menandaskannya. Karena belum pernah menikmati wedang tahu sebelumnya, aku sedikit bingung harus mulai dari mana. Setelah mencoba satu sendok, huh tenggorokan langsung terasa seperti terbakar. Jahenya benar-benar membangkitkan semangat. Apalagi minumnya di pagi hari kayak gini.

“Tadi malam tahun barunan di mana, Mas?”

“Cuma di kos, Bu, macet”

“Lha iyo, macet pol”

Ternyata memang benar. Bu Kardi si punya warung, orangnya asyik dan ramah. Saat itu pula pembeli lain mulai berdatangan. Seorang wanita, sepertinya mahasiswa juga memesan wedang tahu. Disusul bapak-bapak yang menghabiskan wedang tahu secepat kilat. Lha wong aku saja belum habis setengah, dia sudah mau bayar dan pergi. Mungkin bapak tadi sudah langganan sama Wedang Tahu Bu Kardi.

Wedang Tahu ini memang bukan asli Yogya. Orang lebih mengenal wedang tahu berasal dari Semarang Jawa Tengah. Tapi minuman ini cocok untuk daerah Yogya yang beriklim sejuk. Benar-benar hangat. Harganya juga cukup terjangkau. Satu porsi wedang tahu harganya 6 ribu saja.

Muhammad Sukron Fitriansyah

Kurang tampan juga tidak jelek.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405