Membayangkan Paris, Jerman hingga Tubaba

Tepat pada hari yang biasa diperingati sebagai Sumpah Pemuda yang lalu, toko buku independen di Pasar Santa, POST menggelar acara talk show bersama dua orang penulis muda; Rio Johan dan Dewi Kharisma Michellia. Tema yang diusung adalah Oleh-oleh dari Residensia. Rio dan Michell adalah salah dua dari peserta program Residensia. Beberapa waktu yang lalu, Komite Buku Nasional selaku inisiator program ini mengirimkan beberapa penulis Indonesia ke berbagai negara luar. Di sana para penulis melakukan riset untuk karya tulis yang sedang dikerjakan, termasuk juga berjejaring sesama penulis dan kalangan penerbit di negara tersebut.

Rio adalah salah satu yang tergabung dalam angkatan pertama program ini. Ia berangkat ke Jerman pada tahun 2016 dan baru saja menyelesaikan novelnya yang berjudul Ibu Susu. Adapun Michell baru saja pulang dari Perancis bulan September yang lalu dan saat ini tengah menyusun manuskrip novelnya. Teddy selaku empunya POST Santa mengundang mereka berdua untuk berbagi cerita selama menjalani residensia.

Sharing Residensia Rio dan Johan
Sharing Residensia Rio dan Johan @ POST Santa | © Rulli Rachman

Pengalaman pergi ke suatu daerah atau negara memang akan memberikan efek khusus kepada sang penulis. Ambience yang didapat, realita kehidupan yang dijumpai sedikit banyak memberi kontribusi dalam karya yang dihasilkan. In Other Words, sebuah memoir ditulis oleh Jhumpa Lahiri saat ia sedang berada di Italia. Tapi bukan berarti bahwa apabila sedang berada di suatu negara, maka si penulis harus menulis melulu soal negara tersebut. Rio misalnya. Walaupun ia menjalani residensi di Jerman, novelnya justru tentang kehidupan Mesir kuno. Yang cukup membantu Rio ialah fakta bahwa Berlin merupakan surganya museum. Ia rajin berkunjung ke Neues Museum, museum khusus Mesir kuno di Bodestraat untuk mengumpulkan data-data pendukung karya yang sedang ditulis. Michell, saat ditanyakan apa pendapatnya soal karya Rio mengatakan bahwa sahabatnya itu tak main-main dan betul-betul melakukan riset yang mendalam dan detail soal peradaban Mesir kuno untuk novel Ibu Susu.

Saya pertama kali mendengar tentang program residensi ini saat membaca wawancara Dea Anugrah dengan penakota.id. Dea mengaku ia memilih residensi ke Meksiko salah satunya karena ingin mengenal lebih dalam kota Comala, salah satu kota yang muncul dalam Pedro Paramo karya Juan Rulfo.

Ah, sepertinya seru memang seandainya bisa bermukim sementara, residensi di negara luar. Saya melamunkan beragam pemandangan indah di kepala untuk menggenapi imajinasi soal residensi ini. Keluyuran kesana kemari mencari inspirasi, menyesap kopi di kedai pinggir jalan sembari melihat para pejalan kaki lalu lalang. Atau pergi ke bar setempat di Munich untuk hanyut dalam gegap gempitanya October Fest. Atau memperhatikan bagaimana pelukis jalanan sedang khusyuk bekerja di Sacre-Coeur Paris, seolah-olah yang eksis di dunia ini hanya ia dan kertas kanvas di hadapannya. Oh tentu saja saya juga akan keluar masuk stadion sepakbola, menyaksikan langsung laga Paris Saint Germain atau Bayern Muenchen, bersorak sorai bersama ribuan penonton lainnya saat gol terjadi. Termasuk juga menyaksikan raut muka sedih, mendengarkan makian dan sumpah serapah dengan kosakata mereka sendiri saat tim kesayangan tertinggal satu gol sementara waktu pertandingan yang tersisa hanya beberapa menit lagi. Lamunan saya semakin lengkap saat membayangkan kegiatan rutin keluar masuk toko buku. Apalagi benua Eropa dikenal sebagai surganya toko buku. Oh, heaven!

Buku Tubaba - Proyek Sastra
Buku Tubaba – Proyek Sastra | © Rulli Rachman

Saat acara resmi ditutup, sebenarnya saya masih berniat untuk bertanya-tanya langsung kepada Rio dan Michell. Sebelum akhirnya pandangan saya terpaku pada buku berjudul Tubaba yang terpampang di salah satu rak. Tubaba adalah singkatan dari Tulang Bawang Barat. Tubaba merupakan kabupaten yang baru diresmikan pada tahun 2015 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Tulang Bawang. Buku ini merupakan kumpulan 9 (sembilan) penulis dari sejumlah kota yang datang ke Tulang Bawang Barat untuk sebuah proyek penulisan sastra. Mereka datang atas undangan dari Bupati Umar Ahmad yang memiliki gagasan besar dalam memajukan daerahnya.

Beberapa kali saya kerap menggerutu dalam hati, kenapa toko buku ini POST Santa hanya buka pada akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu saja. Namun keluhan saya bisa dimaafkan karena POST sering membuka sampul buku-bukunya agar supaya pengunjung bisa membaca sedikit isi buku. Termasuk buku Tubaba ini. Saya bisa membaca soal cerita penduduk atau legenda setempat yang agak susah diproses oleh akal sehat yang diangkat oleh A.S. Laksana dalam salah satu cerita pendek di buku ini. Saya mulai jatuh hati pada A.S. Laksana sejak membaca tulisan-tulisannya dalam Surat dari Finlandia yang rutin ditayangkan oleh beritagar. Dalam salah satu esainya, A.S. Laksana bercerita soal obrolannya dengan seseorang yang berumur 72 tahun yang tengah memancing dan ia mengungkapkan ketertarikannya dongeng rakyat Finlandia, Kalevala.

Dalam buku Tubaba ada juga cerpen dari Yusi Avianto Pareanom yang pasti anda sudah mengenalnya lewat Raden Mandasia si pencuri daging sapi. Dan ternyata Michell juga terlibat dalam proyek sastra Tubaba ini.

Oleh karena itu, tanpa ragu saya menyambar buku ini dan langsung melunasinya. Saya lihat di sudut lain Rio dan Michell masih sibuk melayani beberapa pengunjung yang asik ngobrol dengan mereka. Adzan maghrib terdengar dari Masjid sebelah pasar. Saya beranjak meninggalkan lokasi. Saya masukkan buku Tubaba yang masih terbungkus plastik dengan rapi ke dalam tas. Saya yakin, malam ini saya bisa sedikit melupakan Paris atau Jerman dan mulai membayangkan Tulang Bawang Barat.

Rulli Rachman

Bola, buku, kopi, movie

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com