Membaca Titik Nadir Demokrasi Cak Nun

Emha Ainun Nadjib telah dikenal sebagai seorang penyair, pegiat teater, budayawan dan berbagai atribut lain yang disematkan kepadanya. Maka, wajar jika selaku penulis produktif, buku-bukunya terbilang laris. Namun hal itu bukan saja lantaran rumbai-rumbai yang dilekatkan pada Cak Nun itu. Tapi lebih dari itu, semua gagasan, keluasan, kepekaan, wacana yang segar, dan tulisan kritis-reflektif dari Cak Nun memang memberi banyak nuansa tersendiri.

Titik Nadir Demokrasi, merupakan kumpulan esai hasil kegelisahan dan renungan Emha perihal beragam soal—tidak sebatas tentang demokrasi saja—dengan rentang waktu yang variatif. Kendati tak sedikit esai-esai itu dibuat pra-abad 21, tapi tetap masih relevan dengan kondisi dan atmosfer negara belakangan.

Sebut saja, misal, esai Supersemar “Tanpa Kebo Ijo” yang menjadikan kisah Ken Arok sebagai sejarah yang sangat mungkin terulang. Dan terbukti, bagai roda waktu, ia akan selalu berpotensi memutarkan nasib serupa, bergantung pada situasi-kondisi yang terbangun. Oleh Emha, kisah itu disuguhkan kepada pembaca agar menjadi salah satu alternatif sudut pandang dalam memantau banyak persoalan.

Ajakan Memperluas Cakrawala

Membaca esai-esai Cak Nun tak hanya akan mengalami satu macam sensasi. Anda akan lupa kata “bosan” tatkala membaca esainya. Meski tak jarang bahasa dan susunan kalimat khas Emha membikin pembaca “lambat-paham”. Namun, justru di situlah titik keistimewaan gaya tutur Emha. Secara praktis, Cak Nun seperti menerapkan jenis-jenis metode komunikasi lisan dan dialihkannya pada tulisan.

Sebagaimana ditulisnya, “Indonesia lebih suka mengambil dimensi seni Pancasila. Pancasila dinyanyi-nyanyikan, dideklamasikan, diupacarakan, dijadikan hiasan-hiasan ruang kursus dan penataran. Pancasila setiap saat selalu diucapkan, dibibirkan dengan amat sungguh-sungguh. Pengalamannya, perwujudannya, pengejawantahannya bolehlah iseng-iseng saja.” (hal 94)

Titik Nadir Demokrasi
Buku Titik Nadir Demokrasi | Penulis: Emha Ainun Nadjib

Ada beberapa jenis metode komunikasi dalam kebudayaan lokal, seperti diungkap Prayogi R. Saputra dalam Spiritual Journey Emha. Dari situ, bahasa nyemoni (akar kata: pasemon) atau sindiran, terdapat di atas dan didayagunakan Emha pada esai Teja Mengambang di Ufuk serta esai-esai lainnya.

Belum lagi penguasaan retorika. Juga bahasa nglulu yang menginformasikan “makna terbalik”, semisal kita saat mengejek teman yang—maaf—jelek, menggunakan kata “ganteng”. Dan ini diterapkan Emha pada banyak esai, salah satunya, “Masyarakat Penthul Nasional”.

“Psikologi budaya manusia modern ini kan asyik: lebih bangga menjadi orang berbuat dosa tapi ngaku dibanding orang yang tak berbuat dosa. Kalau ngepil terang-terangan, itu jujur dan pahlawan. Kalau bersikap tak mau ngepil, itu sok suci.” (hal 48)

Kemudian ditilik dari segi tata bahasa, sebagaimana saya ungkapkan sebelumnya, Cak Nun tak sekadar menginformasikan sesuatu lantas selesai begitu saja. Ada harapan agar kita selaku pembaca mampu mandiri dalam berpkir dan memperluas cakrawala pengetahuan semaksimal mungkin.

Saya, yang selama ini terdampar pada sikap konsumtif berlebihan, merasa terpancing untuk kembali menumbuhkan produktivitas. Hasrat berbenah seolah tersembul setelah membaca buah pikiran-pikiran reflektif dari seorang public figure yang aktivitas kesibukannya lebih sering dijadwal masyarakat itu.

Terutama ketika memandang sesuatu, Cak Nun tak hanya menggunakan satu pisau analisis. Multi-approach Cak Nun kerahkan untuk mengajak pembaca biar tidak terjebak dalam cara pandang linier-parsialistik, namun dialektika-komprehensif. Siklikal, demikian Cak Nun biasa menyebutnya.

Maka tak aneh, kalau pengantar Dr. Kuntowijoyo dalam buku Surat kepada Kanjeng Nabi, menulis “dalam diri Emha terwakili suatu sensibilitas pemuda. Yaitu pemuda yang kritis, suka protes, tapi sekaligus religius.”

Maka, sebelum betul-betul tertelan pada fase gelap Titik Nadir Demokrasi: Kesunyian Manusia dalam Negara, saya kira bukan suatu perbuatan tercela bila Anda terlebih dulu membaca buku ini.

Selamat membaca.

Data BukuKeterangan
JudulTitik Nadir Demokrasi
PenulisEmha Ainun Nadjib
PenerbitPT Bentang Pustaka
CetakanPertama, Maret 2016 (Edisi Bentang)
Halamanxvi + 272
ISBN978-602-291-165-4

Madno Wanakuncoro

Penulis yang gemar melukis, apalagi membaca. Suka kopi yang nggak banyak tingkah.