Membaca The Alchemist

Novel ini adalah rekomendasi seorang teman. Saat itu, sebenarnya kami sedang membahas masalah keputusan untuk menjadi single dulu. Dia bilang “May, menikah itu tidak menyelesaikan semua masalah, malah membuat masalah-masalah yang baru” Aku jawab “Iya, aku tahu!” Dia bilang lagi “Kamu perlu baca The Alchemist!” Aku sempat mengeryitkan kening. Apa hubungannya?.

“Eh, Layla Majnun itu The Alchemist bukan?” Tanyanya bingung.

“Hah, kamu apaan? Layla dan Qais itu beda. Setahuku mereka bukan The Alchemist!” Jawabku ketus. Dia segera mengecek mbah google untuk memastikan.

“Oh iya deng, Bukan! Tapi, btw, kamu emang musti baca. Tentang odyssey gitu, seru dah!” Katanya antusias. Ya, odyssey lagi? Terakhir, cerita odyssey dari Amin Maalouf yang sudah hampir setahun bahkan belum selesai aku baca.

Dan akhirnya, setelah lama mencarinya di toko buku terdekat, tiga bulan setelah pertemuan itu, aku berhasil menemukannya. Sungguh, perjuangan.

Novel ini aku selesaikan dengan penuh drama lebay di sebuah warung kopi dekat kostku. Saat itu aku banting buku ini sambil teriak heboh, membuat para pengunjung yang lain menoleh. Si tukang kopi, yang kebetulan aku kenal cukup baik—kebetulan hampir setiap hari aku nongkrong di sana—mengelus pundakku, menyuruhku sabar dan memaafkan si penulis. Pokoknya, novel ini ceritanya; anjirrrrrr!!!

* * *

Adalah Santiago (omong-omong, nama tokoh sama seperti nama tokoh di Old Man And The Sea, Ernest Hewingway), seorang penggembala domba cukup sukses, yang jumlahnya mencapai enam puluh ekor. Dari domba-domba itu, setiap tahun dia akan membawanya ke kota untuk dicukur dan tentu saja bulunya ia jual untuk dijadikan wol. Karena dia merawat dombanya dengan baik, wol yang dihasilkan pun berkualitas.

Sejak kecil Santiago adalah orang yang ingin tahu dunia. Dan akhir-akhir ini sudah beberapa kali dia mengalami mimpi yang sama: menemukan harta karun di Mesir. Dia tahu bahwa Mesir berada di Afrika, dan tentu itu jarak yang sangat jauh dengan desa tempat dia tinggal, di Andalusia, Spanyol Selatan.

Setelah mempertimbangkan dengan matang melalui dilema panjang, Santiago mantap memutuskan untuk meraih mimpinya: mencari harta karun ke Mesir.

Dia lalu menjual 60 ekor dombanya. Gila enggak, sih? Padahal kalau dipikir secara realistis, profesinya sebagai penggembala domba sudah cukup membuatnya hidup nyaman. Tapi dia menjual semua dombanya hanya karena sebuah mimpi yang padahal ia bisa saja mengabaikannya.

Dan, mulailah Santiago berkelana. Dia meninggalkan Andalusia menuju Mesir, Afrika, demi mecari harta karun terpendam di piramida-piramida seperti dalam mimpinya. Dalam perjalan dia bertemu dengan pak tua aneh yang mengaku seorang raja, dan mengajarkan si anak lelaki tentang petanda-petanda. Dia lalu sampai di sebuah kota yang asing dengan bahasa yang dia tak mengerti.

Perjalannya untuk meraih mimpi yang tidak jelas juntrungnya itu tidak mulus banget kayak pantat bayi sih. Tak lama dalam perjalanan, Santiago tertipu dan kehilangan semua hartanya dari hasil menjual 60 ekor domba. Sumpah, itu banyak banget.

The Alchemist
The Alchemist | Sumber: Amazon.com

Dia sempat bekerja di toko kristal untuk mengumpulkan bekal tambahan. Dia bekerja di sana selama lebih dari setahun dan membuat toko itu menjadi ramai dan cukup maju. Sekali lagi, dia bisa saja tetap di sana, berkarir, kan aman dan jelas. Tapi dia memutuskan untuk kembali ke niat awalnya lagi: mencari harta karun di Mesir. Dia menggunakan hasil dari bekerja selama setahun lebih di toko kristal itu untuk melanjutkan petualangannya.

Dalam perjalanannya kali ini, dia tersesat di padang pasir dan bertemu caravan, lalu bertemu Sang Alkemis. Dia sempat terjebak di padang pasir bersama Sang Alkemis karena sedang terjadi perang antar suku. Di oase padang pasar pasir itu dia lalu bertemu Fatimah, sebelum akhirnya dia kembali melanjutkan perjalan ke Mesir dan sampai di sana dengan selamat dan mencari harta karun seperti isyarat mimpinya.

Tradaa… ini seperti dongeng yang cukup panjang.

Sebenarnya si anak lelaki tidak tahu isi harta karun. Apa harta karun itu emang benar-benar ada di piramida-piramida di Mesir atau tidak. Tapi perjalanan itu—yang benar-benar me time—membuat dia mengevaluasi diri dan belajar tentang harta karun yang sebenarnya.

___

Aku ingat, saat membacanya di tempat kerja dan ada banyak turis di sana, mereka sangat antusias saat melihat aku membaca buku ini. Aku cukup heran, seterkenal itukah ini novel? Rata-rata mereka sangat terkesan dengan cerita dalam novel ini dan setelah selesai membaca mereka merasa luar biasa, seperti tercerahkan. Lebay kan.

Saat itu si tukang kopi bertanya “Eh, ending bagaimana, May? Aku lupa!” Katanya. Aku bahkan tidak punya kata-kata untuk menjawabnya. Rasanya susah dijelaskan. Si tukang kopi hanya tertawa melihat ekspresiku. Dan dia bilang lagi “Dia akhirnya tahu bahwa dia sangat bodoh”. Dan aku benar-benar setuju dengannya.

Si Paulo Coelho kayaknya emang niat banget dah bikin ini novel.

Novel ini membuat kita benar-benar merasa bodoh. Bodoh kalau kita merasa bahwa kita selalu mempunyai waktu. Bodoh kalau kita terlalu baper dengan apa kata orang, hanya karena kita tidak ingin direject oleh mereka. Bodoh kalau kita ingin melakukan usaha yang kecil tapi menginginkan hasil yang besar. Bener kan, cerita novel ini itu anjir banget.

Dan akhirnya aku mengerti, mengapa temanku merekomendasikan novel ini, dan para turis yang aku temui, hampir semua, sangat antusias dengan novel ini, dan si tukang kopi sebetulnya sudah membaca novel ini (beberapa kali malah), karena mereka (mungkin) ingin menunjukkan bahwa mereka (dan aku) cukup bodoh membaca novel ini sampai selesai.

Mayasitha Arifin

Mbak-mbak asisten administrasi yang suka mewarnai, bukan bikin teh bohay.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com