Melupakan Kurva Performa Mesin dengan Kopi Susu

Saya baru saja menyelesaikan makan siang dengan menu sederhana: nasi dengan lauk gulai ikan tuna, sayur jamur dan bakwan jagung. Saya makan siang di area kantin bersama dua orang rekan kerja kantor yang masing-masing melahap menu yang sama, sate kambing. Saya melongok jam di arloji. Kami masih memiliki waktu setengah jam sebelum kembali lagi ke kantor.

“Ngopi dulu yuk. Kita cobain ada warung kopi baru tuh dekat masjid Al Maimun”. Demikian ajakan salah satu teman saya.

Maka berangkatlah kami bertiga ke kedai kopi yang dimaksud. Namanya Meek Kopi. Tempatnya tidak terlalu besar, sederhana, kecil saja. Menu yang disediakan pun standar. Ada cappuccino, espresso, Americano dan tentu saja Latte. Ada dua menu andalan yakni kopi Susu ECHO dan Kopi Susu SAEE. Saya bertanya apa bedanya. Menurut sang barista, perbedaanya adalah bahwa kopi susu Echo lebih strong taste kopinya daripada kopi susu Saee. Tentu saja saya ambil opsi ini. Sedangkan kedua teman saya memilih kopi susu Saee yang lebih ringan.

Dan betul, rasa kopinya terasa di kopi susu Echo. Ada rasa manis, tapi tidak membuat kopi susu ini terlalu manis di lidah. Saya pun tertarik bertanya apa kombinasi kopi susu ini. Faiz, salah satu barista Meek Kopi menerangkan ke saya bahwa campuran kopi susu ini adalah 30 gr bijih kopi dipadukan dengan 105 ml susu. Untuk pemanis ia menggunakan gula aren. Campuran yang tidak neko-neko menurut saya, dan rasanya pas. Apalagi ditambah dengan es batu maka minuman ini sangat cocok di tengah cuaca terik siang hari.

Untuk bijih kopi, ia menggunakan bijih kopi yang berasal dari Dolok Sanggul, Sumatera Utara. 100% Arabica katanya.

Bijih kopi yang digunakan di Meek Kopi
Bijih kopi yang digunakan di Meek Kopi | © Rulli Rachman

Sambil ngobrol saya habiskan beberapa teguk kopi susu. Sejenak saya bisa melupakan kurva performa mesin yang sedang saya analisa di kantor, mesin-mesin yang memang sudah menurun kinerjanya karena telah beroperasi sejak saya baru dilahirkan dari rahim ibunda tercinta.

Beberapa menit kemudian Mas Domi, salah satu owner Meek Kopi. Tentu kesempatan ini saya gunakan untuk bertanya lebih banyak soal kedai kopi mungil ini.

Warung kopi ini didirikan pada Agustus 2017 yang lalu. Pemilik warung ini ada empat orang, namun yang bertanggungjawab secara operasional adalah Mas Domi dan Mbak Tyas. Mereka berdua adalah rekan kerja satu kantor di salah satu perusahaan konsultan arsitektur. Saya manggut-manggut. Penjelasan latar belakang mereka ini memberi jawaban di benak saya kenapa kedai kopi ini bisa memanfaatkan space ruang yang kecil dengan optimal dan efektif.

Ah, saya jadi teringat tulisan Zen RS soal Thomas Mueller, gelandang kesebelasan FC Bayern Muenchen yang akrab dengan istilah Raumdeuter, sang penafsir ruang. Raumdeuter sendiri adalah istilah dalam nomenklatur Jerman yang lazim dalam bidang desain interior. Zen memaparkan dengan apik bagaimana Thomas Mueller memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menafsir ruang sedemikian rupa sehingga bisa menciptakan peluang dan bahkan mencetak gol. Ulah Mueller di lapangan hijau ini serupa dengan apa yang banyak dilakukan para desainer interior zaman kiwari, yakni memaksimalkan segala keterbatasan ruang. Dalam hal ini, Mas Domi dan partner-nya Mbak Tyas sukses menjadi raumdeuter.

Desain ruangan yang simpel
Desain ruangan yang simpel | © Rulli Rachman
Para Barista Meek Kopi
Para Barista Meek Kopi | © Meek Kopi

Selain itu, Mas Domi dan Mbak Tyas juga memiliki kemampuan seorang barista. Maklum, mereka berdua mengambil kursus pelatihan Barista di ABCD, sebuah sekolah kopi di Jakarta yang sempat berada di Pasar Santa.

Oiya, apa sih artinya Meek Kopi? Meek itu bila dibaca menjadi “mik,” yang dalam bahasa Jawa artinya adalah “minum”. Sedangkan kata “Meek” apabila kita terjemahkan dari bahasa Inggris ke Indonesia, artinya adalah lembut. Mas Domi sendiri menafsirkan lembutnya “Meek” sebagai “sederhana”. “Jadi artinya menikmati kopi secara sederhana mas,” ujar mas Domi. Visinya mendirikan kopi ini juga dalam rangka membantu para karyawan kantoran untuk rehat sejenak dari aktifitas. Makanya, ia memilih lokasi tak jauh dari area Perkantoran Hijau Arkadia.

Seingat saya, konsep kedai kopi mungil dengan menu utama kopi susu ini beberapa sudah ada di sekitar Jakarta. Dan saya bersyukur karena salah satunya berada tak jauh dari tempat saya bekerja. Sebenarnya saya ingin ngobrol lebih lanjut dengan Mas Domi, apalagi setelah mengetahui kalau ia berasal dari kota yang sama dengan saya, Yogyakarta. Tapi saya harus pamit. Selain karena gelas cup kopi susu saya sudah kosong, saya teringat bahwa kurva-kurva performa mesin tua tadi harus saya rangkum dalam format presentasi dan ditunggu oleh atasan saya sore ini.

Rulli Rachman

Bola, buku, kopi, movie

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com