Melihat Wabah Kedai Kopi di Kota

Kedai Kopi Coffee Forest
Kedai Kopi Coffee Forest | © Thohirin

Macet masih mengular di jalan Muchtar Raya malam itu. Hawa dingin mengepung dari gerimis yang belum juga reda sejak tadi. Ini malam minggu. Saya, bersama seorang kawan malam itu sedang duduk di hammock kecil sambil mengamati kemacetan jalan.

Sebagaimana Jakarta, soal macet, Depok memang tak ada bedanya. Tapi, kebisingan jalan karena macet rasanya tak menyentuh kami. Dan mungkin juga mereka di meja lain yang malam itu sedang bersua di kedai Coffee Forest; sebuah kedai kopi dan food camp di daerah Rangkapan Jaya Baru, Depok.

Duduk di tempat necis sambil menyesap segelas kopi untuk menikmati akhir pekan adalah salah satu cara yang bisa dilakukan masyarakat kota untuk rehat sejenak dari aktivitas yang tak pernah berhenti. Mengobrolkan kabar politik atau isu sosial terakhir di media sosial yang tengah memanas ala kelas menengah kota.

Pesanan kami tak lama datang; saya memesan kopi pangalengan dalam cup plastik dan segelas milkshake coklat yang dipesan kawan saya.

Kedai Kopi Coffee Forest
Kedai Kopi Coffee Forest | © Thohirin

Berada di area sekitar luas lapangan bola, kedai Forest terbagi menjadi dua. Satu area untuk kedai, sementara sisanya yang bersebelahan, untuk area parkir. Itu area parkir yang cukup luas. Karenanya, meski berada persis di jalan yang nisbi tak pernah lengang, berada di Forest cukup untuk menghindari kebisingan jalan, selain karena sepanjang kedai itu yang memang dipagari dengan tembok.

Kedai ini di desain semi-out door. Ruangan terbagi menjadi tiga bagian. Bagian paling depan, yang akan terlihat dari awal masuk adalah tenda yang tersedia bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi camp sesuai nama kedai itu. Tersedia empat tenda di area itu. Bersebelahan dengan itu adalah area terbuka dengan deretan kursi kayu dan beberapa pasang hammock kecil dan meja yang cukup untuk dua orang. Yang kedua ini semi terbuka. Ada atap yang dihiasi tanaman gantung yang menambah nuansa asri. Sementara yang terakhir, persis berada depan kasir dan meja barista, lebih tertutup dengan beberapa meja panjang dan beberapa kursi angin bulat dan satu layar in focus. Kedai Forest berada tak jauh dari masjid Dian al-Mahri. Bisa ditempuh sekitar 15 menit dari salah satu masjid berkubah emas terbesar itu.

Yakinlah, ini area yang lebih dari cukup untuk sekadar melepas lelah.

* * *

Saya kadang membayangkan, dalam beberapa tahun ke depan selera kopi masyarakat akan semakin meningkat seiring mewabahnya gerai-gerai kopi khususnya di daerah perkotaan. Di Ciputat, tempat saya menghabiskan waktu selama empat tahun terakhir, kemunculan kedai-kedai kopi mungkin melebihi kecepatan mahasiswa akhir menyelesaikan tugas akhir skripsi. Buktinya, hingga kedai-kedai itu kini jumlahnya yang sudah mulai tak terhitung, banyak kawan yang sudah lama melewati masa normal studi belum juga sesi foto wisuda.

Saya tentu tak seserius itu mengamati munculnya kedai-kedai kopi di sekitar Ciputat. Tapi setidaknya, ada gejala paling kentara untuk mendukung kesimpulan saya. Selain mengamati secara serampangan sambil lalu, sepinya warkop-warkop di sekitar kampus menjadi petanda yang sukar untuk disangkal; ada semacam hijrah massal yang dilakukan jamaah pertongkrongan.

Mereka, atau beberapa teman saya di kampus, belakangan sudah mulai meninggalkan beberapa area tongkrongan seperti emperan fakultas, atau area kampus lain dan kemudian hijrah ke kedai-kedai yang menyediakan kursi unik atau sinyal wi-fi. Tak masalah meski harus merogoh kantong lebih dalam.

Akan tetapi, apakah benar dengan mewabahnya kedai-kedai kopi itu akan berbanding lurus dengan selera kopi masyarakat yang akan meningkat?

Kedai Kopi Coffee Forest
Kedai Kopi Coffee Forest | © Thohirin

Berjarak sekitar 100 meter dari Forest, juga berdiri kedai kopi lain namun lebih terkesan sederhana. Tapi sayang, kedai itu berkebalikan dan nisbi sepi. Saya beberapa kali melewati jalan itu dan tak pernah menjumpai kedai itu dipenuhi pengunjung.

Dalam perkara ini, tempat barangkali menempat urutan nomor wahid dari sekian indikator lain idealnya sebuah kedai kopi. Membandingkan Forest dan kedai sebelahnya tentu bicara persaingan pasar. Ini adalah konsekuensi jika bicara kedai kopi hanya bicara urusan interior. Siapa lebih nyentrik, itulah yang akan lebih ramai. Karenanya, kita lebih lazim menyebutnya sebagai tempat nongkrong ketimbang tempat ngopi.

Maka, kedai-kedai kopi di perkotaan itu kini sudah mewabah, kita akan lebih sering mendengar obrolan seputar interior kedai atau besaran suara musik, atau seberapa kencang koneksi sinyal wi-fi ketimbang ketimbang jenis varian kopi yang tersedia atau cita rasa kopi hasil racikan si barista. Sialnya, beberapa kedai itu kadang saling mematok harga tinggi untuk menambah kesan eksklusif.

Urusan cita rasa kopi nomor sekian, yang penting bisa duduk nyaman sambil pacaran. Ya enggak, mblo?

* * *

Satu lagi pesanan saya akhirnya mendarat di meja setelah untuk ketiga kalinya meja kasir itu saya datangi dengan nada bicara yang saya tinggikan. Saya melihat muka si mbak penjaga kasir yang mulai panik. Sudah lebih dari satu setengah jam pesanan itu tak diantar.

Thohirin

Tertarik jurnalistik. Penyuka masakan pedas. Pernah bercita-cita menjadi pemain Timnas.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405