Melihat Realitas Pengamen dalam Lukisan

Karya Hari Budiono, "Mbarang Jantur Dilarang Masuk"
Mbarang Jantur Dilarang Masuk // Hari Budiono | © Winna Wijaya

Menjumpai pengamen di berbagai sudut kota Yogya bukanlah sesuatu yang aneh. Instrumen dan gaya mereka mudah dikenali. Mulai dari menggunakan angklung hingga hanya menggunakan sehelai kain untuk berjoget. Dari bermodal gitar, sampai hanya bermodal tepuk tangan sembari membawa gelas plastik. Mereka saling beradu kreativitas untuk menarik perhatian masyarakat. Tentu saja, untuk menghasilkan uang.

Kreatifitas itulah yang menjadikan Sujud Kendang, salah satu pengamen Yogya sebagai salah satu inspirasi para perupa Yogya untuk mencipta lukisan yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Sujud mendapat julukan “Kendang” karena telah mendedikasikan selama hidupnya dengan mengamen, dan dengan hanya ditemani alat musik kendang ukuran sedang yang dikalungkan di lehernya.

Sujud Kendang menyanyi dalam opening pameran.
Sujud Kendang menyanyi dalam pembukaan pameran. | © Winna Wijaya

Dalam opening pameran, Sujud mempersembahkan lagu-lagu yang biasa ia gunakan mengamen di jalan. Beberapa diantaranya ia gubah lagu dari versi asli menjadi unik, satu contohnya lagu anak-anak, seperti: satu ditambah satu sama dengan dua/ dua ditambah dua sama dengan empat/ empat ditambah empat sama dengan delapan/ delapan sama delapan namanya salep delapan delapan.

Pameran bertajuk Mbarang Jantur menjadi penghormatan kepada Sujud. Seperti diutarakan Romo Sindhunata, “Sujud merupakan ikon seniman jalanan yang selama 52 tahun menempuh hidupnya dengan mengamen di Jogja. Sehingga dalam pameran kali ini seluruh riwayat keprihatinan Sujud teraplikasi dalam seni rupa. Juga sebagai upaya bahwa seniman pinggiran perlu mendapatkan tempatnya.”

Suasana pameran terasa interaktif. Tidak ada sekat antara seniman perupa dengan pengunjung. Tidak hanya menampilkan pameran secara visual, tetapi juga dilengkapi audio Sujud saat mengamen. Interaksi makin mengena ketika ada peta daerah ngamen, di mana pengunjung dipersilakan menempel stiker kendang di wilayah favorit.

Sujud bersama patung tempat audionya menampilkan lagu-lagu.
Sujud bersama patung tempat audionya menampilkan lagu-lagu. | © Winna Wijaya
Seorang anak menempelkan stiker kendang pada peta ngamen favorit.
Seorang anak menempelkan stiker kendang pada peta ngamen favorit. | © Winna Wijaya

Salah satu perupa, Hari Budiono, menampilkan karyanya berjudul “Mbarang Jantur Dilarang Masuk” yang menampilkan kesan satire. Umumnya kita sering menjumpai di beberapa pertokoan, warung-warung, bahkan di pusat belanja melarang adanya pengamen. Sehingga karya milik Hari bikin saya senyum-senyum sendiri mengingat pernah tahu tulisan “Pengamen Dilarang Masuk” di salah satu toko.

“Mbarang Jantur” sendiri merupakan istilah yang terkenal di pewayangan. Cerita bermula dari usaha Semar yang ingin membantu Arjuna yang pada waktu itu tidak bisa menahan lapar. Cara yang dilakukan Semar beserta anak-anaknya yakni mencari makan dengan cara mengamen. Semar membawa alat peraga (mbarang) sambil bercerita (jantur) hingga mendapat sebungkus nasi dan jajanan pasar.

Dalam realitas semua masa, mengamen identik dengan usaha menyelesaikan rasa lapar. Seperti yang dilakukan anak-anak muda, sekelompok ibu-ibu, bahkan anak-anak yang rela menyambangi satu warung ke warung yang lain. Apalagi alasan mereka selain untuk mengganjal perut? Itu pula yang dilakukan oleh Sujud Kendang, selain menuntaskan rasa lapar, ia menjaga kesetiaan ngamen di jalan bersama kendangnya. Dari sejak usianya masih 11 tahun sampai sekarang.

Karya Terra Bajraghosa, "Dendang Kendang"
Dendang Kendang // Terra Bajraghosa | © Winna Wijaya
Karya Herpri, "Sujud Kendang, Salah Satu Icon Jogja"
Sujud Kendang, Salah Satu Icon Jogja // Herpri | © Winna Wijaya

Para seniman menginterpretasikan Sujud dalam kreativitas masing-masing. Terra Bajraghosa misalnya, menggambarkan seorang perempuan membawa empat pemancar musik yang berbeda seperti tape dan toa, dengan tetap menyertakan kendang. Barangkali itu alasan mengapa Terra memberi judul “Dendang Kendang” pada karyanya.

Lain lagi dengan karya Herpri yang berjudul “Sujud Kendang, Salah Satu Icon Jogja”. Ia menampilkan Sujud secara terus terang dalam bentuk karikatur. Gaya khas Sujud, yakni membawa kendang, mengenakan topi dan kaos oblong, serta memakai sandal jepit sambil dikerumuni orang dengan beragam profesi, memperlihatkan Sujud yang menarik perhatian masyarakat Yogya. Kesan itu menguat dengan nuansa tradisional yang dimainkan sebagai latar.

Sekitar 35 seniman turut berpartisipasi dalam pameran “Mbarang Jantur” yang berlangsung seminggu, 16-23 September. Dan ya, setelah menikmati lukisan-lukisan yang menghibur sekaligus mendengarkan suara Sujud menyanyi banyak lagu, tidak lupa saya menempel stiker di wilayah favorit untuk mengamen, yakni perempatan Kentungan. Sesudah itu saya beranjak dari ruang pameran, dan entah seperti ada keakraban yang mengusik, tetapi menyenangkan. Jalanan.

Winna Wijaya

Senang bersepeda, dan sehari-hari minum kopi.