Melihat Pabrik Kopi Bekerja

Mengemas Kopi Banyuatis
Mengemas Kopi Banyuatis | © Aditia Purnomo

Kami datang ketika pabrik hampir selesai beroperasi. Saat itu waktu telah menunjukkan pukul 14.45, Waktu Indonesia Tengah, tentu saja. Jam kerja di pabrik akan selesai 15 menit lagi. Tapi setelah berdiskusi dengan kru pabrik, saya dan teman-teman diberi izin untuk berkeliling pabrik Kopi Banyuatis.

Merek kopi ini cukup banyak ditemukan di gerai-gerai buah tangan bagi para pelancong. Saya pertama kali menemukan merek ini ketika mampir ke pusat oleh-oleh di dekat Bandara I Gusti Ngurah Rai tahun lalu. Dari pertemuan ini kemudian saya dapat kesempatan untuk melihat bagaimana pabrik kopi ini bekerja.

Kopi Banyuatis adalah merek endemik yang dibangun oleh seorang pengusaha asal Desa Banyuatis, Buleleng, Bali Utara. Bermula dari upaya melebarkan bisnis kopi ayahnya dari sekadar kedai di desanya, Ketut Englan kemudian membangun merek kopi Banyuatis dengan mendirikan pabrik di Singaraja. Bisnis kopi bubuk yang dirintisnya kemudian berkembang dan membuat Ketut Englan menjadi salah satu sosok yang dihormati nan terkenal dalam perdagangan kopi di Bali.

Sebelum masuk ke pabriknya, kami diminta untuk mengenakan masker terlebih dahulu agar tetap steril dan tidak mabuk karena aroma kopi. Wah mabuk kopi, jadi ingat kebiasaan aktivis zaman dulu yang kalau ngopi dicampur arak atau miras lainnya. Saya mulai kepikiran soal sensasi mabuk gegara mencium aroma kopi. Makin tak sabar masuk ke pabriknya.

Dengan bayangan bakal mabuk kopi, harapan itu tampaknya bakal gugur ketika saya masuk ke wilayah produksi pabrik kopi ini. Ternyata ruang pabrik tak seberapa besar. Maklum, sebagai orang yang tumbuh di kota industri, bayangan soal pabrik tentu selalu merujuk pada gedung-gedung besar yang dimiliki pabrik di Tangerang.

Ekspektasi saya yang besar ini terdorong dari nama besar merek dan jangkauan pasar mereka. Masa, iya, mereka bisa menyuplai kopi untuk seluruh Bali dan pasar dalam jaringan hanya dengan luas pabrik yang luasnya paling cuma dua kali ukuran Rumah Makan Sederhana di Jalan Kaliurang di Jogjakarta.

Tapi inilah kehebatan bisnis yang dimiliki Kopi Banyuatis. Efektivitas. Kebutuhan ruang tidak menjadi hal besar apabila kerja-kerja yang dilakukan di pabrik ini efektif. Dan dalam kunjungan ini saya bisa menyaksikan betapa sederhananya pabrik kopi ini bekerja.

Mesin Sangrai
Mesin Sangrai | © Aditia Purnomo
Ruang di Mesin Sangrai
Ruang di Mesin Sangrai | © Aditia Purnomo

Biji kopi yang diproduksi pabrik diambil dari lahan-lahan di sekitaran Buleleng. Kemudian, green beans lebih dulu disimpan dalam gudang yang sanggup memuat hingga 30 ton biji kopi. Setelahnya, dari gudang biji kopi kemudian diarahkan ke mesinpengayak agar lebih bersih sebelum disangrai. Tentu pengayakan juga berguna untuk menyortir ukuran biji kopi.

Biji-biji kemudian dimasukan ke dua mesin sangrai berkapasitas 200kg. Menghirup aroma kopi yang dimasak dengan api yang dihasilkan dari kayu bakar dan dalam kapasitas besar sungguh sebuah pengalaman yang baru bagi saya. Saya sering mencium aroma kopi yang tengah disangrai, tapi dalam kapasitas kecil. Dan merasakan aroma 400kg kopi yang disangrai menimbulkan sensasi yang berbeda.

Setiap harinya, pabrik ini mengolah sekitar 3,2 ton biji kopi. Dengan dua mesin sangrai berkapasitas 200kg, satu mesin mengolah sekira 1,6 ton dalam delapan kali sesi sangrai. Bisa anda bayangkan bagaimana kuatnya aroma yang dihasilkan pabrik ini.

Lagi-lagi saya beruntung, mesin sangrai masih bekerja ketika kami datang. Saat itu sesi sangrai terakhir bakal segera berakhir. Tidak lama memang, tapi lumayan lah bisa melihat mesin sangrai raksasa beroperasi. Setelah proses sangrai selesai, biji kopi kemudian didinginkan sebelum dipindah ke ruang sebelah untuk digiling.

Mesin Penggiling Kopi
Mesin Penggiling Kopi | © Aditia Purnomo

Sayangnya, ruang untuk penggilingan biji kopi menjadi bubuk ini tidak bisa kami masuki. Hanya untuk petugas, jelas mbak-mbak petugas pabrik yang menemani kami berkeliling. Tapi beruntung mbak-mbaknya mau mengambilkan beberapa gambar mesin penggiling kopi untuk kami. Tentu saja mesin yang ukurannya jauh lebih besar dari yang pernah kalian lihat selama ini.

Melanjutkan perjalanan, tibalah kami di tahap akhir produksi kopi di sini. Yap, setelah disangrai dan digiling, tentu sebelum dipasarkan produk harus dikemas terlebih dahulu.

Untuk pengemasan kopi, setidaknya ada delapan orang yang bekerja di bagian ini. Setiap orangnya memegang merek Banyuatis dengan jenis tertentu. Yang paling banyak diproduksi di sini adalah jenis kopi Robusta. Setiap jenis kopi dengan kemasan berbeda dan harga yang berbeda pula.

Sejak awal masuk ke wilayah produksi, saya menghitung setidaknya pabrik ini mempekerjakan 30 orang. Empat orang saya temukan di gudang, empat di ruang mesin pengayak, lima orang di ruang sangrai, tiga orang di ruang penggilingan, dan sisanya orang di bagian pengemasan. Oh iya, ada juga tiga orang yang ada di bagian sortasi untuk biji kopi arabika. Di pabrik ini, hanya jenis kopi arabika premium yang mendapat sortasi dua kali setelah didatangkan dari petani.

Selesai dikemas, kopi Banyuatis siap didistribusikan ke pasar. Mulai dari kopi robusta seberat 40 gram seharga Rp 3 ribu hingga kopi luwak arabika 150 gram seharga Rp 180 ribu siap menemui para pecinta dan penikmat kopi di Indonesia. Setidaknya, ada 24 jenis kopi yang dijual oleh pabrik Kopi Banyuatis.

Begitu selesai sesi berkeliling pabrik, rasanya tak elok jika kami tidak pulang dengan membawa buah tangan. Lagi pula kami hendak membandingkan kualitas kopi Banyuatis dengan kopi-kopi yang kami panen di Tamblingan Munduk. Lantas saja kami memborong cukup banyak produk Banyuatis untuk dicicip teman-teman yang menunggu di Jogja dan Tangerang.

Ekspedisi Kopi Miko

Aditia Purnomo

Mahasiswa tingkat akhir yang tak kunjung lulus.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com