Melihat Diri dalam Kumpulan Cerita

Sore itu, saya merasa ngopi tanpa mengingat hal lain. Plong. Tak ada beban yang menghantui pikiran. Saya merasa berada di kehidupan yang terlepas dari pernak-perniknya yang berupa keinginan, harapan, atau sebuah ketakutan pada ketidakpastian. Dunia kehidupan yang serasa kematian. Begitu damai. Pikiran yang menyatu dengan ramai dimana orang mencari kafein dalam secangkir kopi.

Saya merasa ada satu hal yang selama ini dirindukan oleh mahasiswa dan anak dari orang tua yang kadang menanyakan kepastian wisuda, yaitu kesatuan pikiran yang tak memikirkan hal lalu yang menjadi kenangan dan masa depan penuh misteri. Hari ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Begitulah kira-kira.

Saya menyelesaikan kewajiban saya untuk setiap hari datang ke perpustakaan agar menjauhkan kemungkinan menjadi mahasiswa lebih lama lagi. Saya mengerjakan tugas akhir, menenggelamkan diri dalam belantara kata dan konsep yang berseliweran seperti menimbulkan keinginan untuk memiliki dan menyimpannya. Ketakberkesudahan konsep tak bisa saya susuri lagi.

Saya teringat kalimat yang diucapkan penyanyi folk Indonesia, Jason Ranti yang mengatakankonsep tak menyelamatkanku”. Benar saja. Konsep tak menyembuhkan kepenatan, kita malah dibuat tambah mumet.

Membeli segelas kopi dengan setengah ons tembakau menjadi pilihan terbaik. Saya arahkan Beat saya hitam ke warung Buleck. Sudah ada beberapa kawan yang berkumpul. Sebuah kebetulan, obrolan kami sore itu sedikit serius. Biasanya hanya sibuk bermain game on line dengan fasilitas wifi colongan. Kopi tandas. Tak ada lagi topik obrolan serius. Kembali masing-masing dari kami menekuri gadget, asyik dengan sendirinya. Petualangan di dunia maya terasa sangat membosankan, beranda facebok dipenuhi berita-berita tentang pemutaran film G 30 S. Membaca Endorphin menjadi pilihan selanjutnya yang mungkin menghilangkan kebosanan, pikirku saat itu. Kembali saya bersua dengan teks dan menyusuri lembar demi lembar kumpulan cerita yang dilengkapi gambar yang terkesan seperti lukisan anak kecil ini. Gambarnya lucu dan sengaja tidak dibuat sedetail mungkin. Tapi tak menghilangkan unsur seninya.

Buku, Endorphin, Buku Mojok
Endorphin | Sumber: Twitter @kampungbukujogja

Berawal dari sinilah episode singkat perubahan fase perasaan saya dan juga menjadi pembahasan dalam tulisan ini. Perasaan senang yang seperti terasa begitu cepat bergegas, kebosanan dan kesedihan yang selalu nellek dipikiran.

Saya baru menemukan jawaban mengapa perasaan-perasaan yang silih berganti yang saya rasakan pada lembar akhir buku kumpulan cerita dan rupa yang ditulis R.E Hartanto. Ternyata terdapat zat yang mempengaruhi perasaan kita. Endorphin, nama zat yang mempengaruhi fluktuaktifnya perasaan kita yang juga menjadi judul buku yang diterbitkan penerbit Buku Mojok ini. Begini kira-kira kutipan penjelasan yang digunakan penulis dalam bukunya “en-dor-phin (en-dor-fin) senyawa kimia yang diproduksi sel-sel tubuh dan sistem syaraf, terutama di otak, yang mengatur respons tubuh terhadap rasa sedih dan stimulus lain, membuat kita merasa sumringah dan rileks, mengurangi bahkan dapat menghilangkan rasa perih, marah, dan depresi”.

Saya seperti menemukan fase dalam kehidupan manusia normal yang tercermin dalam kumpulan cerita buku ini. Pembaca seperti dibuat terus bertanya sakjane maksude cerito iki opo. Absurd, nggateli, senang, sedih, menjadi satu. Itulah gambaran perasaan saya tentang buku ini. Buku yang terdiri dari 22 kumpulan cerita, berjumlah 156 halaman. Ceritanya tak panjang, tapi berkaitan dengan cerita lainnya. Kita seperti bermain puzzlle, mencari bagian-bagian yang hilang dalam sebuah cerita dan menemukannya dalam cerita lain. Usahakan membacanya secara berurutan agar menemukan jalinan cerita yang utuh. Baru kita akan menemukan tokoh-tokoh yang terpisah dalam masing-masing cerita dalam membangun satu jalinan cerita yang agak panjang dalam cerita serupa detektif berjudul Misteri Tuan dan Madam Guggenheim yang membuat saya sedikit tegang dan penasaran.

Ke-absurd-annya tak melunturkan keasyikan dalam membaca kumpulan cerita Endorphin. Ceritanya seperti dipenuhi dengan unsur realisme magis. Dalam beberapa cerita terselip pesan. Kita seperti diingatkan. Dalam cerita Hantu Kecil misalnya. Cerita ini seperti menyentak kesadaran kita. Begitu mahalnya harga sebuah kedamaian yang diinginkan oleh seorang anak kecil yang hidupnya dipenuhi masalah. Orang tuanya tidak akur, dan kemudian bercerai. Ia merindukan kematian begitu melihat sepasang hantu yang merayakan ulangtahun yang ke-125.

Dalam pesta ulang tahun itu, para hantu mengenakan baju terbaik dan menyiapkan makan malam dengan menu sup krim belatung dengan roti pasir, selada sampah, laba-laba telur asin, dan seekor kucing liar panggang yang gemuk. Mereka memutar lagu cinta sepanjang masa, yaitu rekaman konser jerit-jerit dan teriak-teriak sepanjang dua jam yang dibawakan oleh penyanyi kecil kesayangan mereka. Lagu yang didengarkan para hantu, ternyata jeritan dan teriakan Si anak kecil yang merindukan kematian itu. Ketika membacanya seakan memunculkan kengerian dan ketakutan pada kematian disatu sisi serta kepedulian terhadap nasib anak kecil disisi yang lain.

Pada cerita Pengakuan Seorang Pembunuh Bayaran terkisahkan sangat jelas kontrakdiktif sifat manusia. Dalam satu fase kehidupan kita bisa saja berbuat jahat, sementara di fase yang lain kemungkinan juga bisa berbuat baik. Begitu juga sebaliknya. Kumar, tokoh dalam cerita ini, telah membunuh seratus tiga belas manusia. Asal menerima bayaran ia bisa membunuh siapa saja. Menerima perintah dari orang-orang pengecut yang tak mau tangannya kotor.

Kumar, untuk pertama kali pernah membunuh temannya ketika berusia sebelas tahun. Persoalannya sepele, karena temannya begitu lambat ketika bermain di perbukitan. Pada satu fase kehidupan Kumar yang negatif tersebut, timbul rasa empati dan keinginan untuk bertemu dengan teman yang dibunuhnya. Kembali merindukan masa kecil dengan bermain di perbukitan bersama temannya, Anand.

Membaca Endorphin seakan menemukan diri kita dalam sebuah cerita. Sisi kemanusiaan kita yang tak melulu baik, tergambar jelas dan terwakili dalam kumpulan cerita buku ini. Tema-tema yang diangkatpun tak jauh dari sifat kemanusiaa kita.

Muhammad Shidiq

Pelanggan Kopi Buleck