Melihat Burung di Kampung Blekok

Sarang Burung Blekok di pohon-pohon sekitar Kampung
Sarang Burung Blekok di pohon-pohon sekitar Kampung | © Rulfhi Alimudin Pratama

Tayangan National Geographic sering kali menayangkan kehidupan hewan-hewan liar di alam bebas. Sebut saja hewan tersebut singa, zebra, buaya, burung liar, dan masih banyak lagi. Namun, dari semua hewan yang pernah ditayangkan kehidupannya saya lebih suka dengan kehidupan para unggas terutama burung. Kehidupan hewan ini banyak dihabiskan dengan melayang-layang di udara dan hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya. Dan yang paling menarik adalah ketika melihat atraksi dari gerombolan burung yang beterbangan ke suatu daerah untuk mencari makan, dan membawa makanan tersebut ke sarangnya, tempat anak dan istri burung sudah menunggu.

Ketertarikan saya melihat burung mungkin ada sangkut-pautnya dengan dulu ketika Ayah memelihara burung beo di rumah. Burung beo ini sangat cakap sekali berbicara, saya terkadang selalu mengobrol dengan beo ini. Pintarnya lagi ketika ada tamu yang datang dengan baik hati ia selalu memberi salam. Mungkin, dari sinilah kedekatan personal saya dengan dunia burung mulai terjadi. Namun sayang, keakraban saya dengan beo ini tak berlangsung lama karena ia telah dulu dipanggil oleh Tuhan karena suatu penyakit yang menyerangnya.

Dari kerinduan itulah saya jadi penggemar setia unggas-unggas di National Geographic Channel. Satu ketika saya terdorong untuk pergi ke alam bebas: Afrika, Amerika latin demi melihat dan menyaksikan langsung kehidupan burung, berhubung tidak adanya ongkos dan paspor, keinginan saya berakhir dengan kunjungan ke Kebun Binatang Bandung. Namun, hasrat itu tak terpuaskan karena di kebun binatang, burung-burung dikerangkeng dan tak bisa beterbangan bebas seperti di layar kaca National Geographic.

Untunglah, Tuhan menjawab hasrat saya lewat sebuah Komunitas Aleut. Komunitas ini mengadakan trip ke suatu kawasan yang menjadi tempat singgah dan berkembang biak burung liar. Dengan segera saya ucapkan terima kasih Tuhan, karena saya tak perlu jauh-jauh pergi ke Afrika atau Amerika Latin sana, hanya untuk melihat burung di alam liar. Karena nyatanya di daerah dekat tempat tinggal saya di Kota Bandung terdapat kawasan habitat burung-burung liar. Nama daerahnya adalah “Kampung Rancabayawak” yang lebih kenal dengan nama “Kampung Blekok”. Blekok, diambil dari nama lokal burung yang sering mendiami lokasi tersebut. Kampung Blekok ini berada di daerah Bandung Timur, tepatnya di Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung.

Berdasarkan informasi yang telah didapatkan, akhirnya saya memberanikan diri untuk ikut gabung bersama komunitas ini dan berkunjung ke Kampung Blekok. Kampung Blekok ini kurang lebih bisa ditempuh 10 menit dari perempatan Gedebage, jalan Soekarno Hatta. Sebelum masuk ke Kampung Blekok kami disuguhkan dengan panorama sawah yang sejauh mata memandang tetap sawah. Sungguh pemandangan yang sulit didapat oleh orang kota, seperti saya ini. Bersyukur sekali saya masih diberi kesempatan Tuhan, untuk melihat hijaunya sawah.

Waktu yang paling tepat untuk menyaksikan burung-burung Blekok ini adalah saat pagi atau sore menjelang malam hari. Saat dimana burung-burung sedang berada di sarangnya masing-masing. Namun waktu itu tak lengkap dan tak bahagia jika datang sendirian tak ditemani oleh si dia. Ehem…

Burung yang terdapat di Kampung Rancabayawak ini sering kali disebut Burung Blekok atau Kuntul oleh warga sekitar. Menurut penuturan Pak RT bernama Ujang: “Sudah sejak dulu sekitar tahun 1970-an kampung ini menjadi tempat persinggahan sementara burung-burung yang bermigrasi dari Amerika menuju Australia. Tempat ini dipilih karena dulu merupakan rawa-rawa yang sangat cocok dengan habitat burung tersebut.” Namun, dari tahun ke tahun Burung Blekok atau Kuntul yang datang ke Kampung Blekok mulai berkurang. Penyebabnya bukan tidak lain adanya pembangunan Kota Bandung yang semakin meluas ke daerah Bandung Timur, memaksa Burung Blekok tergerus dan susahnya mendapatkan makanan yang lahannya sudah berubah fungsi.

Saya cukup beruntung karena masih dapat menyaksikan burung-burung Kuntul atau Blekok ini beterbangan di atap-atap rumah warga dan mengotori rumah warga dengan tahi-tahinya. Namun warga Kampung Blekok tak mempermasalahkannya, karena Blekok ini sudah dianggap menjadi bagian dari warga Kampung. Sebuah keharmonisan antara binatang dan manusia yang harus tetap dijaga. Kunjungan saya ke Kampung Blekok ini tak akan terlupakan karena ketika saya lewat rumpun bambu yang menjadi sarang Blekok saya terkena jatuhan tahi yang jatuh tepat ke punggung saya. Mungkin saja pemandangan seperti ini tak akan berlangsung lama di tengah gencarnya pembangunan kota Bandung.

Habitat burung-burung di Kampung Blekok ini harus dijaga oleh masyarakat utamanya juga oleh pemerintah, karena bisa menjadi tempat alternatif wisata, terutama wisata tematis di Kota Bandung. Jika dikemas dengan baik bisa menjadi potensi yang luar biasa bagi Kota Bandung.

Rulfhi Alimudin Pratama

Sekarang masih tinggal di Bandung, bergiat, belajar di Komunitas Aleut dan dapat ditemui juga lewat tulisan di upitea.com