Melihat Budidaya Kopi Robusta Kuningan

Siang itu, 22 Juli 2015, sembari bersepeda motor menuju kawasan wisata Sidomba-Kuningan, saya mengelilingi pinggiran kota Kuningan, kota yang dikenal dengan ‘kota kuda’. Saya melewati Desa Cibeurem, Kecamatan Linggarjati, Kabupaten Kuningan dengan ketinggian antara 200-300 MDPL. Tentu pohon kopi dapat tumbuh di area ketinggian tersebut meskipun tak terlalu ideal.

Sebenarnya, bukan kali pertama saya melawati daerah ini, sedari dulu saya ingin sekali mengetahui asal muasal dan varietas kopi yang ada di Kuningan tapi belum ada kesempatan.

Baru kali ini saya berkesempatan mengambil gambar dan melihat dengan jelas kopi kuningan ini. Terus terang saya tak tahan menghirup aroma wangi kopi dan bunga cengkeh. Yah, walaupun belum mendapat informasi varietas menurut petani kopi di daerah ini, saya yakin jenis kopi di Jambi dan Kuningan memiliki banyak kemiripan.

Selain harum bunga kopi, yang menarik perhatian saya terhadap keberadaan ladang kopi di daerah yang berbatasan dengan Majalengka-Cirebon dan Brebes ini adalah kebun kopi yang disela-selanya ditanami pohon cengkeh. Saya membayangkan kenikmatan kopi berpadu dengam aroma cengkeh. Maka nikmat mana yang bisa kau dustakan?

Buah Kopi
Buah kopi yang telah matang belum terpetik. © Abdulloh
Kopi Robusta
Kopi robusta dari daerah Kuningan © Abdulloh

Dituntun oleh rasa penasaran, saya masuk ke gang pemukiman warga, hampir setiap rumah memiliki jemuran kopi dan cengkeh. Sampailah saya di salah satu rumah yang sepertinya yang terlihat baru memanen kopi, terlihat dari tumpukan buah kopi yang masih segar, padu-padan warna merah tua, merah muda, dan hijau. Juga dua laki-laki dan satu perempuan yang sedang asyik mengobrol.

Saya memulai obrolan dengan memperkenalkan diri sebagai penyuka dan penikmat kopi, lahir di Subang, tinggal di Cirebon, dan beraktivitas di Jambi. Banyak sekali identitasnya. Eh, ternyata salah satu anggota keluarga mereka ada yang bertransmigrasi ke Jambi sejak tahun 1960-an, tapi mereka mengaku tidak tahu pasti di Jambi belahan mana saudaranya tinggal.

Pohon-pohon kopi yang ditanam di daerah yang terkenal sebagai tempat lahirnya Perjanjian Linggarjati tersebut ternyata berasal dari Lampung. Namun pemilik kebun kopi tidak mengetahui jenis kopi yang mereka tanam, mereka mendatangkan bibit kopi dari Lampung, jadi mereka menyebutnya kopi lampung. Tetapi jika dilihat dari bentuk daun, jelas kopi ini adalah kopi robusta.

Dibandingkan dengan Jambi, harga buah kopi basah di sini lebih mahal, yaitu Rp 20.000 per kilogram. Harga ini tidak berbeda jauh dengan harga kopi di daerah asal kopi mereka. Di Lampung harga kopi berkisar antara Rp 7.000 – 15.000 per kilogram. Rata-rata, setiap warga memiliki luas kebun kurang lebih 100 bata (per bata seluas 14 meter persegi). Selain warga, perkebunan kopi juga banyak dimiliki oleh warga luar daerah. Cukup dengan Rp 70 juta bisa mendapatkan kebun 100 bata termasuk pohon kopi yang siap panen.

Jika dibandingkan dengan harga komoditas cengkeh yang per kilogramnya berada di kisaran harga Rp 100 ribu, harga komoditas kopi dari daerah ini masih tertinggal. Barangkali itu sebabnya petani lebih mengutamakan komoditas cengkeh sebagai sumber pengasilan.

Setelah melihat kondisi perkebunan kopi dengan lebih cermat, terlihat proses budidaya kopi tidak maksimal. Banyak pohon kopi yang tidak secara rutin dipangkas batang pohonnya, sehingga pohon menjulang tinggi, ini bisa berakibat buah kopi berukuran kecil, juga kesulitan dalam proses memanen buahnya karena pohon yang terlalu tinggi.

Abdulloh

Penikmat Kopi Robusta.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Regina Anastasia Panjaitan

    Hallo mau tanya, Kalo mau coba liat kopi nya kesana jalannya lewat mana yaa? Bisa lebih spesifik lewat mana jalannya?
    Makasih 🙂