Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi

Detil dari Lukisan yang berjudul Rotation #3 1
Lihat Galeri
8 Foto
Detil dari Lukisan yang berjudul Rotation #3 1
Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi
Detil dari Lukisan yang berjudul "Rotation #3" 1

© Radinal Kharismaputra

Detil dari Lukisan yang berjudul Rotation #3 2
Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi
Detil dari Lukisan yang berjudul "Rotation #3" 2

© Radinal Kharismaputra

Detil dari Lukisan yang berjudul Rotation #3 3
Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi
Detil dari Lukisan yang berjudul "Rotation #3" 3

© Radinal Kharismaputra

“Merunduk”
Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi
"Merunduk"

© Radinal Kharismaputra

“Sujud”
Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi
"Sujud"

© Radinal Kharismaputra

“Terduduk”
Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi
"Terduduk"

© Radinal Kharismaputra

Widi dengan murid didiknya Sekolah Citra Alam
Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi
Widi dengan murid didiknya Sekolah Citra Alam

© Radinal Kharismaputra

Widi bersama Karyanya Rotation 2
Megae… Megae… Megae…: Di Balik Goresan Tegas Widi
Widi bersama Karyanya Rotation #2

© Radinal Kharismaputra

Pernah kah kita merasa salah dalam memilih jurusan studi? Ternyata memang tidak sedikit yang merasakan hal yang serupa, sama halnya seperti Widi S. Martodihardjo. Atas dasar memiliki potensi dan kesukaannya menggambar, seusai lulus SMA di tanah kelahirannya-Yogyakarta, Widi merantau ke Bandung untuk melanjutkan studi di Fakultas Seni Rupa dan Desain di Universitas Pasundan, Bandung. Tidak butuh memakan waktu lama, Widi menyadari ternyata Jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual) yang Ia pilih tidaklah sesuai dengan ekspektasinya. Ia tidak suka berkarya dengan adanya intervensi seperti yang akan dihadapi olehnya setelah lulus.

Sadar akan salahnya lingkungan ini, alih-alih menghentikan studinya, Ia memilih hidup dengan membuat kebiasaan diluar kebiasaan mahasiswa jurusan DKV. Mulai dari datang ke hampir setiap pameran kesenian, rajin bertemu orang-orang baru, rajin menonton teater, hidup di jalanan mengumpulkan kertas-kertas bekas sampah kampus, membuat prakarya dari kertas tersebut, lalu dijual yang menjadikannya PKL di depan Bandung Indah Plaza.

Kemudian, mulai bermunculan komentar-komentar kolega kampusnya seperti, “Lo sok seniman!” Menanggapi komentar seperti itu, ia hanya bisa menjawab “yo wes lah nggak papa..” Namun, di dalam hatinya yang paling dalam ya, Ia mengatakan “gue bakal jadi seniman beneran.” jawabnya tegas.

Widi menjalankan kebiasaan ini selama bertahun-tahun dan secara tidak sadar menjadikan alam bawah sadar seniman Widi terbentuk. Suka kesenian, berhubungan dengan orang, berhubungan dengan kemasyarakatan, hal-hal estetis, kepekaan, dan sebagainya yang Ia sebut sebagai experience. Empiris. “Saya lakukan terus hingga lulus kuliah tahun 2001. Lalu saya memutuskan, yaudah lah, saya terlanjur ingin jadi seniman. Saya mau ke Bali”

Dengan berbekal upah sebuah project pembuatan desain interior dapur yang ia terima di Jakarta sebesar Rp 400.000, Ia berangkat ke Bali dengan niat menjadi seniman. Sesampainya di Bali, Widi belum tahu ingin menjadi seniman yang seperti apa. Dalam proses mencari itu, Ia tetap menyambung hidup dengan menjadi illustrator, desainer grafis, dan sempat menjadi fotografer.

Di suatu kesempatan, Widi bertemu dengan salah satu maestro yang sudah dituakan di Ubud, “Kamu tidak akan menjadi apa-apa Wid…..Sebelum kamu memutuskan kamu mau jadi apa. Karena kamu banyak bisanya. Grafis ok, abstrak ok, portfolio ok,”

Widi hanya bilang, “tunggu ya, mas!”

Rasah Kakean Cangkem: MEGAE…MEGAE… MEGAE!!

Dalam pamerannya yang bertajuk In Between God, Man, and Nature, Widi menceritakan semua kisah tadi dalam satu proses diskusi menarik bersama pengunjung. Ia menjabarkan panjang lebar bagaimana proses kreatif tumbuh berkembang dalam hidupnya. Dan titik balik laku berkaryanya Ia temukan ketika berada di kos-kosannya di Bali. Ia, yang mendapati telah menjalani hidup bertahun-tahun di bidang yang tidak ia cintai, Widi mencapai titik keresahan dan kejenuhan. “Lalu buat apa artinya saya berada di Bali dan menjadi seorang pegawai kantoran?”

Tanpa pikir panjang, Ia memulai semua hanya dengan satu goresan. Kemudian semuanya mengalir. Ia bercerita dengan suara yang terbuka mengenai hubungan Manusia dengan Tuhan, kehidupan sosial Manusia, dan Alam ini melalui garis-garis di atas kertas.

“Kenapa harus kertas dan bolpoint? Karena saya dulunya orang grafis, saya dekat dengan packaging dan stationary, nah makanya saya mau eksplorasi dalam ranah fine art.”

Setelah Widi cukup yakin dengan apa yang Ia inginkan, pada awal tahun dengan bermodal komitmen Ia pindah ke ubud untuk bekarya. Kelaparan, puasa, dan makan sedapatnya Ia tempuh selama berkarya hingga Ia sadar pada tahun 2006 karya-karyanya sudah banyak menumpuk di studionya di Ubud.

Widi sadar Ia akan harus menghadapi publik seni rupa. Harus mengadapi bagaimana kecenderungan galeri menangkap karya seni rupa. Lalu setelah diperlihatkan ke orang-orang lokal, Ia mengatakan banyak yang mencap jelek karyanya. “Diberi cap tidak sale-able lah, tidak awet lah, bla bla bla,” jelasnya.

Setelah itu dengan membawa seperangkat portofolio karya-karyanya, Widi pergi ke 4 Season Ganesha Gallery untuk jalan-jalan, nonton pameran orang lain sekaligus menguji takdir menyerahkan portofolionya ke panitia. Masih di hari yang sama, Widi diminta untuk menandatangani kontrak untuk turut mengikuti pameran di tempat yang sama. Widi mengusung debut pamerannya itu dengan tajuk “Reborn”.

“Saat sedang menjalani pameran utama itu, saya mendeklarasikan diri: Yes, i’m an artist. Saya akan bekerja dan hidup dari sini,” tegasnya.

Komitmen dan Konsistensi menurut Widi
Komitmen dan Konsistensi menurut Widi | © Radinal Kharismaputra
Karya terbesar Widi yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta
Karya terbesar Widi yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta | © Radinal Kharismaputra

Lalu terjadilah efek bola salju. Setelah pameran debutnya itu, semua terlihat lebih mudah, banyak galeri yang Ia sambangi untuk pameran karya-karyanya itu. Ia mengakui semua karena Ia mengaku berdiri tegak di atas komitmen, menjaga dengan konsistensi dan kerja keras.

“Nggak perlu banyak ngomong, nggak perlu takut lapar, nggak perlu takut dibilang tidak keren, tidak update, dan sebagainya. Kerjakanlah dengan cinta-passionate, anda tak akan pernah merasa bekerja selamanya” ujarnya tegas.

Menanggapi isu pendidikan Indonesia yang ternyata malah menciptakan banyak pengangguran, Widi berkomentar bahwa pelajar di Indonesia tidak diberi kesempatan untuk memilih. Menurutnya, keseragaman pendidikan cukup hingga tingkat Sekolah Dasar, setelah itu pelajar dihadapkan dengan pilihan studi yang sesuai dengan mintanya. Pria yang bermimpi bisa pameran di The MOMA, NY ini juga berpendapat jika muatan pengetahuan entrepreneur harus sudah diterapkan sejak dini. “Be entrepreuner. Intinya jangan jadi orang cengeng, jangan banyak menuntut”

Pameran yang berlangsung dari 20 hingga 29 Oktober ini tak hanya menampilkan beragam karyanya, tapi juga melangsungkan diskusi tentang proses kreatif dalam penciptaan karya-karyanya. Ia mengaku tidak mudah orang lain membeli karyanya jika tidak melalui proses diskusi dengannya terlebih dahulu. “Nggak sembarangan orang bisa beli karya saya, harus ada proses diskusi, harus ada cinta (terhadap karya),” jelasnya.

Radinal Kharismaputra

Fotografer, Public Speaker, Penikmat Seni