Mbah Umar, Kopi, dan Pagi di Lereng Gunung Muria

Terus terang, awalnya saya bukanlah orang yang gemar minum kopi. Terutama kopi tubruk yang hitam-pekat terasa kasar sekali di lidah seperti minum lumpur. Dan, jika pun harus membikin kopi, takaran gula tak boleh tidak pas. Kurang sedikit saja, maka minum kopi tak ubahnya minum pil sakit kepala.

Pernah di sebuah kantor perwakilan suratkabar di Semarang, saya terpaksa menelan kopi yang pahitnya ngujubile lantaran terlalu banyak menyendok serbuk kopi. Saya kira menyeduh kopi tubruk itu laiknya kopi sasetan saja: asal tuang bruk-bruk-bruk lalu diseduh air panas. Dan tanpa gula, sebab saya pikir ia sudah menyatu dalam kopi itu.

Ternyata saya salah besar. Saya meringis menahan pahit, sementara kawan-kawan ketawa terbahak-bahak. Sungguh nikmat, ya, penderitaan orang lain?

Saya memang tak begitu suka minum kopi tubruk yang hitam, kasar, dan pekat, apalagi tanpa gula sama sekali. Namun, pandangan saya tentang kopi perlahan tapi pasti berubah sejak bersua dengan Mbah Umar.

* * *

Bersama kawan, saya menyambangi Mbah Umar pada suatu pagi yang dingin. Sempat bingung bertanya orang ke sana-ke mari sebelum akhirnya kami menemukan rumah mungil itu: beratap rendah dengan pintu geser dari kayu. Saya beruluk salam. Lantas Nyonya Umar pun keluar, mempersilakan masuk, dan menyuguhi saya kopi hitam pekat.

Saat itu, lebih-kurang empat tahun yang lalu, saya sedang menunaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Dudakawu, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Mbah Umar adalah salah satu tokoh masyarakat yang kediamannya wajib saya kunjungi.

Mbah Umar, ketua RT 1 RW 5 Dukuh Ngelarangan, ternyata tengah meramban di kebun kopi, demikian keterangan nyonya rumah. Setelah menanti lebih-kurang 15 menit, kakek berusia 70-an tahun itupun nongol dan menyalami kami sambil cengengesan.

Mbah Umar sosok yang garang. Kendati renta, vitalitas muda masih tampak dari guratan mukanya. Tangannya liat berotot, punggungnya tegak, tak bungkuk. Warna kulitnya cokelat pekat terbakar sinar matahari.

* * *

Ruang tamu itu gelap ketika kami masuk. Karena tak bersekat, saya bisa melihat bagian dalam rumah lewat ruang tamu itu. Kamar tidur diberi gorden sebagai pengganti pintu. Di dinding terpasang ornamen tokoh-tokoh pewayangan yang terbuat dari kayu: ada Kresna, Bimasena, dan Srikandi. Ada pula pahatan kayu berbentuk Garuda Pancasila. Semua itu buatan tangan Mbah Umar sendiri.

Di pojok samping, bertengger vespa dan sepeda onthel.

Mbah Umar mempersilakan kami minum kopi. Saya seruput kopi hitam di hadapan saya dengan takzim. Mantap. Manis dan hangat.

Mbah Umar menyeruput kopi miliknya yang sudah mendingin. Menurut dia, kopi dingin lebih manjur mencegah kantuk. Mbah Umar kerap menyisakan kopi yang diseduh semalam agar dapat diminum lagi esok hari. Kopi hitam dingin itulah sumber tenaganya untuk memulai aktivitas di waktu pagi tanpa perlu sarapan nasi.

Mbah Umar menyeruput lagi kopinya yang tinggal ampas. Hitam pekat di dasar gelas.

* * *

Warga Desa Dudakawu kebanyakan menanam kopi di pekarangan rumah. Tak sedikit pula yang memiliki kebun kopi sebagai penopang hidup sehari-hari. Hampir semua warga menikmati kopi dengan mengolah sendiri. Segelas kopi hitam-pekat-manis-panas biasa disajikan dalam perkumpulan-perkumpulan warga.

Beberapa kali saya mengikuti perkumpulan-perkumpulan semacam itu: para lelaki lesehan memenuhi bagian depan rumah, mengawali acara dengan membaca doa-doa, dan setelah doa-doa selesai, bergelas-gelas kopi hitam-pekat-manis-panas diedarkan ditemani kudapan. Acara inti dimulai sejak itu, pelbagai persoalan desa dirundingkan bersama.

Desa Dudakawu terletak di lereng Gunung Muria (1.601 MDPL), gunung yang jadi petilasan Sunan Muria, seorang wali yang menyebarkan Islam di Nusantara. Jepara adalah kota yang unik sebab memiliki wilayah pantai dan gunung sekaligus. Berada di lereng gunung, udara Desa Dudakawu cukup sejuk meski bukan sejuk maksimal lantaran di situ, di lereng gunung, penggundulan hutan atawa pembalakan liar demikian masif terjadi.

Barangkali identitas Jepara sebagai kota ukirlah yang membuat perampokan pohon itu begitu melembaga. Tapi di Desa Dudakawu warganya justru tidak hidup dari kayu-kayu hutan. Tak sedikit yang berada dalam kubangan kemiskinan. Pemudanya merantau ke luar kota, begitu pun pemudinya. Selentingan yang saya dengar bahkan mengatakan, banyak gadis di desa terpaksa menyebar di pelbagai kota sebagai kupu-kupu malam, saking beratnya tekanan ekonomi keluarga.

* * *

Sembari minum kopi, kami bercakap-cakap dengan Mbah Umar tentang banyak hal. Ia bercerita, dirinya pernah dituduh terlibat Gerakan 30 September 1965 (G30S). Itulah sebab mengapa di almarinya yang penuh buku nangkring dengan manisnya salinan Dosa-dosa Besar Soeharto karangan Wimanjaya K Liothe. Buku itu, bersama tiga buku tentang Partai Komunis Indonesia (PKI), diperlihatkannya pada kami.

Di almari bikinan sendiri itu, tersimpan kertas manual kelompok aliran kebatinan dari Madiun. Di situ tercetak angka 1931. Mbah Umar pernah belajar di ‘sekolah’ itu sewaktu muda dan hingga kini masih mengamalkan ajaran-ajarannya.

Orang hidup, kata Mbah Umar, harus tahu betul buat apa ia hidup. Jangan cuma menumpang hidup. Ia mesti punya tujuan hidup dan berusaha mencapai hidup utama. Hidup utama adalah hidup yang sebenarnya, setelah kita meninggal dunia.

Saat ajal menjemput, demikian Mbah Umar, kita mesti mengupayakan kemunculannya secara wajar. Secara normal. Seseorang yang meninggal lantaran kecelakaan atau pembunuhan, misalnya, bukan meninggal dengan cara yang wajar, sehingga belum bisa mencapai hidup utama.

“Saya ini seorang nasionalis,” ujarnya tiba-tiba. “Saya tak ingin terpaku pada satu agama. Terjebak pada fanatisme sempit. Saya ingin mempelajari semuanya.”

Mbah Umar berkisah dengan suara yang menggebu. Tak segan ia sangat provokatif untuk menjelaskan maksudnya. Saya kaget saat ia mendadak mencopot kausnya ketika sampai pada pembahasan tentang agama-agama. “Kaus ini saya ibaratkan sebagai Islam, agama yang saya anut, yang melekat pada diri saya,” ujar dia.

Lanjut dia, ketika kaus itu dicopot kemudian diganti dengan kaus lain berlabel Kristen, misalnya, maka jadilah pemakai kaus itu seorang Kristiani. Begitu pula bila kaus itu diganti lagi jadi kaus Budha, Hindu, atau Kong Hu Cu. Tampilan luarlah yang mengikuti kaus yang dipakai. Tetapi, isi dari apa yang dilekati kaus itu sesungguhnya sama saja, yakni badan, yang memiliki satu tujuan: panghambaan kepada Tuhan.

* * *

Ketika matahari meninggi kami mengundurkan diri. Kopi telah tandas, efeknya merasuk hingga kepala. Mbah Umar telah memberi banyak hal kepada kami. Seperti kopi, semangat jiwanya merasuk ke nadi kami: mengalir ke otak, ke hati, ke mata, ke tulang, ke sumsum, ke darah, dan ke sel-sel yang paling kecil. Tidak ada masa senja bagi Mbah Umar karena setiap hari adalah pagi. Dan pagi, dari Mbah Umar saya belajar, akan selalu berhasil diselamatkan kopi.

AP Edi Atmaja

Pembaca buku, pendengar radio, menulis untuk senang-senang.