Marpadotbe: Babi di Bekasi

Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Pagi ini, seperti pagi yang lalu lalu, Ibu ucapkan lagi kalimat itu kepada saya. Namun karena sedang gedandapan karena bangun kesiangan padahal ada upacara bendera di kantornya, Ibu tak sempat menunjukan dari mana kalimat itu berasal. Biasanya, Ibu mengulangi kata-katanya Rasul Paulus itu sambil membawa Alkitab dan menunjuk-nunjuk bagian 2 Tesalonika 3 ayat 10. “Ini perintah Tuhan lho. Kamu harus kerja. Cari kerja sana!” begitu katanya, selalu.

Sudah jam dua siang, urusan antar mengantar pesanan balon—yang menurut Ibu bukan termasuk pekerjaan—sudah kelar , dan perut saya keroncongan. Ketika saya masih kerja kantoran dulu, memilih makan siang itu urusan gampang. Gampang karena, kalaupun bosan dengan yang itu-itu saja, saya masih bisa beralasan, ya mau gimana lagi, pilihannya cuma itu. Pilihannya kalau tidak bakso, ketoprak, soto, mie ayam, atau nasi rames yang ada di kantin gedung, ya delivery makanan cepat saji macam hamburger, fried chicken, atau bento, yang bilamana seminggu saja saya memesan itu berturut-turut, bisa makin lama saya menikah. Bikin tekor.

Lha, kalau sekarang beda ceritanya. Saya sering bingung mau makan apa soalnya saya tidak pernah bisa menebak akan ada di mana saat jam-jam makan siang. Kadang berada di daerah yang menawarkan banyak pilihannya, yang sejauh mata memandang terlihat beragam menu. Tapi tak jarang juga ada di daerah yang pilihan makanannya terbatas.

Kalau mau asal milih, bisa-bisa saja sih. Tapi kan, saya kelas menengah: yang kadang mau makan enak nan mahal, kadang maunya makan murah tapi enak, tapi sesekali juga pingin makananan yang mahal, porsinya dikit, dan rasanya hambar. Ya, pokoknya, yang bikin saya keliatan anak gaul, di Path. Masa iya wiraswasta makan siangnya cuma itu-itu saja, gengsi dong ya. Hal penting macam gini yang bikin saya sulit menentukan menu makan siang akhir-akhir ini.

Setelah meyakin-yakinkan diri bahwa siang itu saya sudah pantas makan karena telah bekerja dan memperoleh cukup uang, akhirnya saya melipir ke Grand Metropolitan Mall, yang letaknya tidak jauh dari kakaknya, Metropolitan Mall, pusat perbelanjaan legendaris di jantung kota Bekasi.

Ketika pedal gas hendak kupijak dalam-dalam dan kaca mobil sedikit lagi saja tertutup rapat, eh mata saya menangkap papan bertuliskan: “Rumah Makan Marpadotbe”. Ketika membacanya saya sempat mbatin, rumah makan kok namanya kaya nama warnet, gak meyakinkan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, daripada repot-repot nyari parkir di mall, mending makan di sini saja. Akhirnya kuparkir mobil, lalu setengah berlari menuju ruko berdinding merah jambu itu, dan, ya, taraaaa, ternyata ini lapo sodara-sodara. Huahuahua.

Marpadotbe
Marpadotbe © Anggara Gita Arwandata

Tidak pakai pikir panjang, saya hampiri meja kasir untuk melihat daftar menu, dan segera kupesan babi saksang, babi goreng, sayur singkong, satu porsi nasi, dan dua gelas es teh. Uedan, lapar sangat.

Babi yang saya temukan secara tak terduga ini datang di saat yang tepat. Pertama, karena saya lapar, butuh makanan enak, dengan porsi banyak, dan harga yang tidak membikin saya harus beririt ria di hari-hari ke depan. Dan yang ke dua, yang membikin saya berani bilang babi ini datang di saat yang tepat adalah, akhirnya saya menemukan rumah makan yang menjual daging babi di sekitaran Bekasi. Hehehe, senangnya.

Kalo soal babi-babian gini, kadang saya suka kesel sendiri dilahirkan sebagai orang Jawa dan Katolik. Ribet banget, bro. Dari sisi agama, jelas tidak ada larangan makan babi. Tapi sebagai orang Jawa, Bapak-Ibu saya tidak ada sejarahnya makan dan masak babi. Ibu tidak mengerti cara memasaknya dan bahkan Bapak tidak doyan. Kalau sudah begini, artinya, tidak akan ada ceritanya juga beli daging babi yang sudah masak untuk disantap di rumah. Tidak ada itu. Tidak ada ceritanya, selama ini, tersaji daging babi di rumah. Padahal ya, ya ampun, saya suka banget.

Alhasil, apa daya, makan babi hanya terjadi ketika saya main ke rumah teman yang kebetulan masak babi (itu juga kalau ditawarin), atau kalau sedang kumpul dengan teman-teman (itu juga kalau lagi pada pingin babi), atau ketika hadir di acara pesta teman-teman saya yang Batak, Flores, atau keturunan Tionghoa. Nah, itu tuh, baru deh bisa makan dan nambah sejadi-jadinya.

Makan babi, dalam hidup saya sebagai seorang Jawa-Katolik, bukanlah hal terlarang, tapi seperti tidak diberi kesempatan. Di rumah, Ibu kalau tidak memasak daging ayam, ya berarti daging sapi, atau kambing, atau tahu-tempe. Ngumpul sama teman-teman juga gitu, kalau tidak ngopi atau ngebir, ya makan gorengan, sate ayam atau kambing, nasi goreng, atau aneka makanan cepat saji. Lebih-lebih kebanyakan teman saya beragama Islam, yang walopun ada yang nakal, tapi tetap lebih milih hal-hal haram lainnya selain mencoba daging babi.

Makan daging babi, dalam kehidupan saya, semacam ngebet nikah, dan pacar sudah mau diajak nikah, keluarga juga sudah setuju, uang sudah ada, tapi tidak juga kesampaian karena tidak mendapat cuti dari kantor sebab projek bermilyar-milyar rupiah sudah antre menanti, yang mana proyek itu mustahil banget ditunda atau tidak diikuti karena menyangkut gengsi hidup si bos. Penderitaan saya ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa saya tinggal di Bekasi, yang populasi resto daging babinya tidak sebanyak di Jakarta. Lengkap sudah.

* * *

Tidak seperti kebanyakan lapo yang pernah saya singgahi, MARPADOTBE tempatnya bersih, luas, dan adem. Ada beberapa pendingin ruangan dan kipas angin, walau tidak dinyalakan semua. Mungkin karena saat itu cukup sepi. Hanya ada saya, yang makan sendirian, dan di meja depan saya ada lima bapak-bapak berseragam kantoran, kemudian di sebelahnya ada keluarga batak, bersepuluh, yang sepertinya dari mall sebelah karena menenteng plastik belanjaan banyak sekali. Hmm, sepertinya bukan cuma keluarga itu yang Batak, karena lima bapak-bapak yang ada di depan saya ini juga tadi menggunakan bahasa batak ketika memesan makanan.

“Mas, mas, nasinya tambah satu lagi, ya,” teriak saya kepada salah seorang pelayan. Tak digubris. “Mas, mas,” sekali lagi saya coba memanggil, tapi dia tak menoleh sedikit pun.

“Lae, dipanggil kau,” ujar salah seorang bapak yang duduk di depan saya. Hoalah, pantas saja tidak nengok. Mana ada orang Batak yang merasa dipanggil ketika ada yang menyapa “mas”.

Babi Goreng dan Saksang
Babi Goreng dan Saksang © Anggara Gita Arwandata

Piring ke dua tuntas kulahap tak sampai dua puluh menit. Hidangan lainnya juga ludes tak bersisa. Hanya ada kremesan babi goreng yang sedikit berceceran di meja. Menurut saya, saksangnya tak jauh beda dengan yang di lapo-lapo lain, tapi untuk babi gorengnya enak banget, bro. Kalau kulitnya yang garing itu dikletek bagian demi bagian, nanti akan terlihat jelas daging berselimut lemak-lemak gurih menggoda kita untuk menambah satu porsi nasi lagi. Agar tidak terlalu seret di tenggorokan, diguyur kuah sayur singkong saja sudah cukup.

Di sini harganya memang tidak terhitung murah. Sedang-sedang saja. Babi saksang, panggang, dan gorengnya dihargai 30 ribu rupiah, yang bila kamu memesan salah satunya, lalu ditambah nasi, sayur singkong, dan es teh manis, serta buah pisang agar empat sehat lima sempurna, maka total kamu menghabiskan uang 50 ribu untuk sekali makan. Iya, yang tadi memang 49 ribu, tapi nanti ketika keluar dari restoran ini kamu juga harus bayar parkir, antara 1000 atau 2000 rupiah, terserah.

Tak masalah makan agak mahal atau malah mahal sekalian, kan, yang penting kamu kerja. Kerja keras.

Anggara Gita Arwandata

Perakit balon di @nf.nellafantasia dan perajut kata di @kedaikataid.

  • Marojahan Andreas Situmorang

    Nama warungnya juga penuh makna mas, dan menurutku itu sangat cocok degan suasana kebatinan penulis cerita ini. Mar-Padot-Be, kata dasarnya adalah Padot artinya ulet, serius, kerja keras. Mar- adalah awalan yang dalam banyak kata bahasa Batak diterjemahkan (ber), sedangkan be adalah akhiran yang bermakna “masing-masing” atau “setiap orang”. Jadi Marpadotbe bisa diartikan “masing-masing orang bekerja keraslah” atau “setiap orang bersungguh-sungguhlah bekerja”. Mauliate (terimakasih).