Manisnya Kopi Pahit Bu Lek

Warung Bu Lek
Warung Bu Lek © Endarti

Muniwer mulanya pelayan di sebuah warung. Kini ia sudah punya warung kopi sendiri, “fans” setia, dan panggilan khas: Bu Lek.

Berbekal sebuah jaket merah muda, tiga tas belanja, enam lembar uang seratus ribu, dan lima buah kerupuk untuk sarapan, Bu Lek duduk di pelantar warungnya. Sementara itu, Pak Lek, suaminya, mengeluarkan motor dari warung. Pagi ini kami hendak membuntuti Bu Lek belanja di Pasar Tanjung, Jember. Waktu menunjukkan jam setengah tiga pagi. Ini tidak seperti biasanya. “Kecapekan Bu Lek-nya mbak, biasanya Bu Lek beli kopi jam 2,” sahut Pak Lek yang nama aslinya Sutomo.

Sambil mengunyah dan membolak-balikkan sarapan paginya, Bu Lek bercerita tentang kopi yang akan dibeli dan harganya. “Bu Lek mau beli kopi GB, kopi nomor satu. Satu kilo sembilan belas ribu.” Ia memakan kerupuknya, lalu melanjutkan, “Bu Lek belinya tiga kilo untuk dua hari.”

Tak lama kemudian, Pak Lek memberi tanda kepada Bu Lek untuk segera beranjak dari bangkunya. Dengan gigil karena angin subuh dataran tinggi, kami membuntuti motor yang di atasnya Bu Lek sedang memeluk pinggang Pak Lek dengan mesra. Sepuluh menit kemudian, tibalah kami di pasar terbesar di kota Jember. Seperti biasanya, Pak Lek memarkirkan sepeda motornya gratis. ”Saya itu sudah kenal akrab dengan tukang parkirnya,” imbuh pria berkulit gelap ini.

“Beli kopinya di lantai atas, dik.” Lalu kami berjalan bersisi-sisian dengan Bu Lek. Kenapa pilih kopi GB? Tanya saya pada wanita yang pernah dua kali menikah ini. “Ya, anak-anak itu mintanya yang enak, karena yang lainnya ndak enak, dik. Pertama buka warung, Bu Lek beli kopi Nangka, tapi anak-anak ndak mau. Bu Lek kan dulu ndak tahu. Nak Derry bilang sama Ibu suruh ganti kopi dan jangan beli yang Nangka lagi,” kata Bu Lek sambil mengingat-ingat.

Anak-anak yang dimaksud Bu Lek adalah mahasiswa-mahasiswa Universitas Jember (Unej) yang kerap nyangkruk (nongkrong) di warung kopi Bu Lek. Warung itu letaknya di dekat Fakultas Pertanian, kompleks Universitas Jember. Makanya, langganan Bu Lek kebanyakan adalah mahasiswa. Terlebih, jualan Bu Lek tak hanya kopi, juga nasi dan lauk-pauknya hingga rokok.

Selama 30 menit, Bu Lek bolak-balik antara lantai satu dan lantai dua pasar itu. Ini cuma sebagian dari rutinitasnya. Bekerja dari jam tiga pagi sampai jam sembilan malam, Bu Lek merasa senang-senang saja. “Capek ya capek, tapi kok Bu Lek-nya seneng, ya.” Naik turun tangga pasar dianggapnya sebagai olahraga pagi saja. “Kalau tidak sering olahraga, nanti sakit. Kalau pun sakit, Bu Lek sakitnya cuma sakit mumet. Satu hari juga sembuh,” tegas wanita yang tidak tahu pasti berapa umurnya ini.

Jarum pendek di jam tangan saya nyaris tepat di angka empat. Setelah mengantongi satu kilogram wortel, belanjaannya yang terakhir, dan gagal menawar tujuh ikat sawi, Bu Lek dan suaminya beranjak pulang.

Kopi buatan Bu Lek disukai karena diolah sendiri. Biji kopi GB tadi dibersihkan dari kulit yang menempel, lalu disangrai. Tiga kilogram biji kopi disangrai selama empat jam. Setelah itu biji kopi yang sudah matang dihaluskan. “Ini, Bu Lek baru dapat sembilan kilogram (kopi sangrai), nanti kalau sudah terkumpul dua belas kilogram, Bu Lek selepin (haluskan),” kata Bu Lek sambil menunjukkan dua karung kecil kopi bubuk yang dihaluskan dua minggu yang lalu.

Pukul sembilan pagi, Bu Lek masih sibuk memasak gorengan. Sedang asyik-ayiknya mengoreng tempe, terdengar panggilan dari pelanggannya.

”Rokoknya satu bungkus.”

“Ya. Apa lagi?” Tanya Bu Lek dengan logat maduranya.

“Cepetan, mbok, dibuat kopinya,” sahut pelanggan tersebut.

Mendengar nada kurang enak dari pelanggannya, Bu Lek yang dikenal karena kesederhanaannya ini hanya tersenyum simpul dan mencoba mengajak bercanda.

“Kenapa? Lagi nggak punya uang? Memang tidak enak jadi pegawai. Beli sawah saja,” kata Bu Lek sambil tertawa ringan.

Menyangrai Biji Kopi
Menyangrai Biji Kopi © Endarti

Awal mulanya warung kopi Bu Lek

Sebelum tinggal di Jember dan membuka warung kopi, Bu Lek adalah petani bakau di desanya, Trancak, Songsongan, Sumenep. Setelah bercerai dari suaminya, Bu Lek pindah ke Jember untuk menghindari mantan suaminya. Di Jember, wanita yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah ini mula-mula berjualan daun pisang dan kelapa di Pasar Tanjung. “Dulu saya tinggal sama bu lek-nya saya di Klungkung. Jualan godhonge pisang sama klopo (jualan daun pisang dan kelapa),” kenang Bu Lek.

Tahun 1990, Bu Lek menikah dengan Sutomo, duda beranak dua yang pertama kali ditemuinya di Pasar Tanjung. Mereka lalu pindah ke Surabaya. Karena tidak mampu menyewa rumah, Bu Lek sekeluarga tinggal dalam rumah kardus di bawah jembatan di Surabaya. Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Bu Lek membantu suaminya yang kala itu menjadi tukang becak dengan bekerja sebagai pelayan di warung-warung dekat rumahnya.

Mereka lalu kembali ke Jember dan berhasil membangun rumah sederhana. Bu Lek dan suaminya menyewakan sebagian rumahnya untuk kos. Saat itu, Bu Lek sempat menjadi buruh cuci bagi anak-anak kosnya untuk menambah-nambah uang belanja.

Sekitar tahun 1997, empat mahasiswa Unej yang indekos di tempat Bu Lek memberi modal Rp. 300.000 kepada Bu Lek untuk membuat warung kopi. ”Dulu itu nak Derry, Didik, Bondan, sama Rotib ngasih modal ke Bu Lek sekitar tiga ratus ribu rupiah. Kata nak Dery, dia kasihan sama Bu Lek yang kerjanya nyuci-nyuci pakaian,” cerita Bu Lek. Untuk mencucikan baju mereka, Bu Lek dibayar sepuluh ribu rupiah per bulan.

Dari uang itu, jadilah warung kopi di Jalan Kalimantan nomor 71. Mulanya hanya seluas empat meter persegi dan berdinding gedek (anyaman bambu). Warung kopi yang mulanya tak bernama, seiring semakin ramai, kemudian akrab disebut warung kopi Bu Lek. Dulu, sehari berjualan paling banyak dapat Rp. 200.000. Kini, dalam sehari Bu Lek rata-rata mendapat Rp. 800.000. Bahkan karena terkenalnya, banyak sponsor ingin nampang di warung Bu Lek. Tampak dua merk rokok menghiasi tembok dan kursi-kursi di warung kopi Bu Lek.

Di Dapur
Di Dapur © Endarti

Komunitas warung Bu Lek

Sekelompok pemuda mengelilingi meja panjang dari kayu sambil berganti-gantian bercerita. Di meja lain, sekelompok pelanggan asyik bermain kartu. Di sebelah kanan pemain-pemain kartu itu, dua pemuda sedang bernyanyi dengan gitar. Ada satu kesamaan di antara mereka: kopi hitam di setiap meja.

Para pelanggan ini menyebut diri mereka Komunitas Warung Bu Lek. Komunitas Warung Bu Lek tidak hanya mahasiswa Fakultas Pertanian Unej yang kampusnya berdekatan dengan warung Bu Lek, tetapi juga dari luar Unej, bahkan hingga orang dari luar Jember. Anggota komunitas ini punya seragam: kaos putih bertuliskan “Warung Bu Lek”.

“Biasanya anak-anak memakai seragam, mbak, tapi akhir-akhir ini memang agak kurang disiplin,” celetuk salah satu pelanggan Bu Lek yang bernama Rino Sebastian. Sambil menikmati kopi pahitnya, pria yang akrab dipanggil Pai ini bercerita. “Saya setiap hari selalu ke sini. Di antara warung-warung yang lain, ini yang paling enak.” Menurut alumni Unej ini, Komunitas Warung Bu Lek sudah terbentuk sejak warung Bu Lek ada, tapi baru eksis sekitar tahun 2005-2006. “Kalau mau lihat sejarah warung Bu Lek, lihat saja Facebook-nya, mbak, Warung Bu Lek Community,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Bila menilik mundur, Bu Lek yang sekarang bahkan punya “fans club” sendiri mulanya hanyalah petani bakau di pelosok Madura. Kopi pahit buatan Bu Lek jadi terasa manis di lidah saya.

Endarti

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. Pernah bergabung dengan UKM Ekspresi.

  • sungguh nikmat sekali mengkonsumsi kopi, apalagi ditemani sebatang rokok dan gorengan 😀