Mangrove dan Alasan Nelayan Kampung Nipah untuk Bahagia

Mangrove
Mangrove | © Anwar Saragih

Mimpi akan selamanya menjadi mimpi, jika hanya direnungkan, dipikirkan dan tidak segera diwujudkan. Hal paling sulit, tentu jika mimpi itu mengendap begitu saja, di tengah kehidupan ekonomi yang kian hari kian sulit. Untuk senyum pun terasa susah pada kondisi kesengsaraan yang semakin merekah. Terkadang kreatifitas hadir begitu saja sebagai solusi di masa-masa sengsara untuk segera keluar dari belenggu kemiskinan. Apalagi ingatan akan kebahagiaan masa lalu dengan alam lestari, pantai indah dan mangrove (bakau) lebat masih jelas tergambar di pikiran.

Warga Kampung Nipah pernah merasakan betapa sulitnya kehidupan nelayan, kala mangrove di pesisir Desa Sei Nagalawan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara di babat habis demi pembangunan. Harus menyukseskan konsep pemerintahan Soeharto untuk membuka pertambakan udang windu di sepanjang pesisir Pantai Timur Sumatera Utara di pertengahan tahun 1980-an membuat tidak ada pilihan kecuali menjalankan program orde baru tersebut.

Dampaknya, nelayan Sei Nagalawan harus menerima dampaknya hingga dua dekade kemudian. Di samping ancaman abrasi laut yang sudah mendekati rumah-rumah nelayan akibat tak ada lagi mangrove yang menahan gelombang air laut, juga hasil tangkapan udang dan kepiting yang menjadi tujuan nelayan-nelayan semakin sedikit karena krisis mangrove. Muasalnya tentu karena udang dan kepiting itu telah kehilangan tempat untuk berkembang biak; semakin sedikit mangrove sedikit pula udang dan kepiting yang dihasilkan dari wilayah tersebut, begitu pula sebaliknya.

Kerinduan inilah yang akhirnya menggugah hati beberapa nelayan Desa Sei Nagalawan agar narasi tentang mangrove lestari tidak sekadar legenda. Pada 2005, Nelayan lantas mencoba mewujudkannya dengan menanam bakau secara swadaya di sepanjang pesisir Desa Sei Nagalawan yang juga wilayah Pantai Timur Sumatera Utara. Nelayan-nelayan itu tidak cengeng, tidak pula mengemis-ngemis bantuan pemerintah. Berjalan maju, tegak berdiri meski seorang diri.

Sembari memanam mangrove, para istri-istri nelayan juga mengembangkan produk makanan ringan tradisional. Pengembangan ini mereka rintis dari tahun 2004-2009 secara mandiri. Melihat usaha yang semakin berkembang, timbul keinginan masyarakat Desa Sei Nagalawan untuk bisa lepas dari masalah kemiskinan yang mereka alami selama ini. Lepas dari jerat tengkulak yang hubungannya sangat eksploitatif secara sosial-ekonomi dan keluar dari jeratan hutang pada tauke yang bunganya hingga 20-30%.

Pilihannya pada 2012, para nelayan Sei Nagalawan mendirikan koperasi bernama Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baimbai yang idenya dan aktivitasnya mengelola objek wisata berbasis edukasi dan mangrove bernama Kampung Nipah. Respons dari pengunjung pun sangat bagus terhadap gagasan dan kreatifitas nelayan.

Plang kampung Nipah
Plang kampung Nipah | © Anwar Saragih

Begitulah narasi yang diceritakan oleh Ahmad Yani atau kerap di panggil Ian yang juga merupakan wakil ketua KSU Muara Baimbai pada saya, kala pertama kali mengunjungi Kampung Nipah di Minggu (7/5/2017) berjarak 80 km dari kota Medan, dengan lama perjalanan 1,5 jam. Saya tiba pukul 10 pagi, Suasananya amat ramai. Kami duduk sambil berdiskusi soal mangrove yang jaraknya tak jauh dari lokasi parkir yang dikelola anggota koperasi. Tampak kendaraan roda emat dan roda dua terparkir rapi di tempat yang disediakan pengelola.

Wajah Ian nampak sumringah hari itu. Mengenakan kemeja kotak-kotak, Ia menceritakan fasih soal nama-nama mangrove lengkap dengan bahasa latinnya. Ia menarasikan pula di Kampung Nipah terdapat 15 jenis mangrove yang tersebar di 5 km lahan yang mereka kelola.

Penamaan Kampung Nipah itu didasarkan karena di desa ini, Desa Sei Nagalawan banyak ditumbuhi tanaman mangrove jenis Nipah (nypa fruticans). Pengelolaanya di kelola oleh KSU Muara Baimbai yang anggotanya 74 nelayan yang terdiri dari 41 Kepala Keluarga (KK),” kata Ian melanjutkan cerita.

Sembari mendengar Ian bercerita, saya memesan kelapa muda segar, menikmati suasana pasir putih dan angin khas pantai. Tak lupa saya juga memesan makanan; ikan bakar, sop kepiting dan udang asam manis yang di masak oleh istri-istri nelayan yang juga bergabung di KSU Muara Baimbai. Suasana semakin ramai kala banyak wisatawan lain yang berdatangan. Sebab, seperti biasa kala akhir pekan, Kampung Nipah banyak dikunjungi wisatawan untuk sekadar melepas penat, rekreasi, edukasi mangrove hingga keperluan pre-wedding pasangan yang akan menikah. Lebih lanjut hari itu menurut perkiraan saya ada sekitar 600-an orang wisatawan yang berkunjung ke Kampung Nipah.

Tepat jam 12.30 siang, ketika Adzan Dzuhur tiba. Kami menyudahi diskusi. Saya takjub dengan narasi-narasi yang diceritakan Ian. Saya lalu melanjutkan langkah, mengarah ke tepi pantai menikmati laut, sembari memandang mangrove yang ditanami secara swadaya oleh nelayan. Terharu, bangga dan bahagia bersatu padu melihat komitmen nelayan Sei Nagalawan punya kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya kelestarian lingkungan untuk kesejahteraan mereka.

Pembibitan Mangrove
Pembibitan Mangrove | © Anwar Saragih
Pondok Pengunjung Kampung Nipah
Pondok Pengunjung Kampung Nipah | © Anwar Saragih
Lokasi Ekowisata
Lokasi Ekowisata | © Anwar Saragih

Kini, lima tahun sudah kawasan ekowisata berbasis mangrove ini berjalan. Nelayan Desa Sei Nagalawan merasakan sendiri dampaknya. Mereka sudah lepas dari jerat hutang pada tauke, sudah punya usaha mandiri pula.

Lebih lanjut, Harga Tiket Masuk (HTM) ke kampung nipah sendiri dibandrol Rp10 ribu per orang, sementara satu buah kelapa muda dihargai Rp10 ribu. Lalu pengunjung juga bisa menikmati ikan bakar seharga Rp10 ribu per ons, kepiting segar (sop/asam manis) seharga Rp8 ribu perons, udang segar (goreng, sop/asam manis) seharga Rp10 ribu per ons dan bagi yang ingin menikmati kopi hitam seharga Rp8 ribu per ons.

Sementara untuk keperluan pre-wedding ada paket yang disediakan pengelola kampung Nipah yang harganya di bandrol Rp200 ribu per paket. Tak lupa bagi wisatawan yang ingin mendengar langsung pemandu wisata untuk edukasi dan penanaman mangrove dibandrol Rp100 ribu per orang. Tentu hal paling unik di Kampung Nipah juga dijual makanan tradisonal tanpa bahan pengawet berbahan baku mangrove seperti keripik nipah, teh jeruju, dodol dan sirup yang harganya masing-masing Rp10 ribu. Pengelola kampung Nipah juga menyediakan tempat salat, pondok-pondok dan home stay bagi wisatawan yang ingin menginap di Kampung Nipah.

Ikan Bakar, Sop Kepiting dan Udang Asam Manis
Ikan Bakar, Sop Kepiting dan Udang Asam Manis | © Anwar Saragih
Kepiting Tangkapan Nelayan
Kepiting Tangkapan Nelayan | © Anwar Saragih
Lokasi Sholat
Lokasi Sholat | © Anwar Saragih

Kesan saya saat mengunjungi Kampung Nipah, sangat salut melihat cara sebuah komunitas masyarakat mampu membangun kepercayaan, jaringan sosial dan kekompakan di antara mereka. Terlebih mereka mampu pula menyatukan perbedaan ide dan cara pandang. Sebab, di Kampung Nipah sendiri termasuk plural dengan tiga suku besar: suku Jawa, suku Melayu dan suku Banjar. Mereka mampu menunjukan pada banyak orang bahwa harapan untuk lepas dari kemiskinan bisa segera diwujudkan jika dilakukan ikhlas, tulus dan konsisten.

Sampai saya tidak melihat sedikit pun celah untuk memberi saran tentang bagaimana pengelolaan sebuah kawasan ekowisata yang ideal. Sebab, tidak mudah membangun sesuatu yang sudah hilang, tidak mudah pula membangun kesadaran masyarakat akan kelestarian alam untuk kehidupan manusia di tengah sifat manusia yang apatis di era millenial yang sangat antroposentris. Baiknya masyarakat pesisir Desa Sei Nagalawan mampu membaca ini sebagai potensi besar bahkan jauh sebelum ide-ide Poros Maritim yang akhir-akhir ini banyak orang dengung-dengungkan. Tak pernah mereka memunggungi laut, tak pernah pula memunggungi muara dan meninggalkan kelestarian mangrove.

Ke depan, melihat Kampung Nipah kita bisa merekomendasikannya sebagai sebuah alternatif role model wilayah-wilayah pesisir yang saat ini krisis mangrove dan kemiskinan struktural pesisir. Melalui koperasi, nelayan-nelayan juga tidak perlu berhubungan lagi dengan tengkulak karena hasil tangkapan melaut dikelola oleh koperasi dengan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) setiap tahunnya. Tidak hanya itu, nelayan Sei Nagalawan tidak hanya menanam mangrove saja, tapi juga punya akses dalam pengelolaannya. Pun dalam metode pengelolaan ekowisata berbasiskan mangrove tanpa menunggu datangnya uluran tangan pemerintah ataupun investor (pengusaha).

Tepat jam 5 sore, sebelum Adzan Magrib tiba, saya menyudahi perjalanan saya di Kampung Nipah. Membawa oleh-oleh rasa bahagia saya kembali ke Medan, memendam optimisme yang tinggi akan pantai, laut dan mangrove sebagai masa depan yang cerah tentang seluruh wilayah pesisir Indonesia.

Anwar Saragih

Penulis dan Peminum Kopi