Mangente Rumah Kopi di Ambon

Rumah kopi Tradisi Joas
Rumah kopi Tradisi Joas | © Alfian Al’ayubby Pelu

/1/

Kota Ambon ibu negeri tanah Maluku, di pinggir pantai tempat kita bertemu.
Dari jauh kulihat gunung Salahutu…

Penggalan lagu di atas meluncur dari suara seorang perempuan. Musiknya keroncong, saya tak tahu persis siapa penyanyinya. Sound System yang memperdengarkannya berbunyi dengan volume suara yang pas. Aroma kopi bercampur ramuan sudah mampir ke hidung. Meja-meja terisi oleh pengunjung yang sudah tidak lagi muda, saya taksir di atas 30 tahun.

Sabtu sore di awal September 2016. Saya berada di salah satu rumah kopi di Jalan Said Perintah, kawasan Tugu Trikora kota Ambon. Kawasan ini dirangkai oleh ujung empat jalan utama, yaitu Jalan A.M. Sangadji, Jalan Pahlawan Revolusi, Jalan Dr. Sutomo dan Jalan Said Perintah, yang membentuk bundaran dengan Tugu Trikora berdiri kokoh sebagai pusat penandanya. Tugu Tri Komando Rakyat (Trikora) dibangun pada penghujung 1962 setelah Operasi Mandala oleh Militer Indonesia di Papua. Kota Ambon kala itu digunakan sebagai markas pasukan Operasi Mandala. Tidak jauh dari kawasan ini berdiri Gereja Silo dan Masjid Alfatah, dua religious sites yang penting di kota Ambon.

Rumah kopi Sariwangi dengan latar belakang menara Gereja Silo
Rumah kopi Sariwangi dengan latar belakang menara Gereja Silo | © Alfian Al’ayubby Pelu
Rumah kopi Story
Rumah kopi Story | © Alfian Al’ayubby Pelu

Jalan Said Perintah tidak begitu ramai oleh aktivitas perdagangan. Arus lalu lintasnya hanya searah. Ada lebih dari 10 rumah kopi berdiri di sepanjang jalan ini. Menurut data investasi pemerintah kota, terdapat 27 rumah kopi tersebar di pusat kota Ambon. Namun, rumah-rumah kopi yang terkenal dan menonjol memang berada di jalan Said Perintah. Diantaranya adalah rumah kopi Trikora, rumah kopi Sibu-Sibu dan rumah kopi Tradisi Joas.

Beberapa rumah kopi tersebut mampu membangkitkan kenangan Ambon tempoe doloe, nostalgia dalam musik-musik Ambon, kuliner, fashion, serta suasana yang melarikan pengunjungnya ke masa 80-an ke bawah. Dikatakan juga, rumah kopi punya andil dalam mencairkan ketegangan antar kelompok yang bertikai pasca konflik berdarah di Ambon. Rumah kopi menjadi laboratorium (percobaan) bagi proses rekonsiliasi, ketika perjanjian damai yang digagas pemerintah demi mengakhiri konflik antar orang basudara menuai banyak masalah serius di lapangan.

Pelanggan-pelanggan yang berbeda agama, yang pernah kenal satu dengan lain, saling menyapa, menghampiri, bercengkrama. Proses rekonsiliasi dijalani lewat obrolan, saling berbicara dan mendengarkan satu sama lain.

Rumah kopi Sibu-Sibu
Rumah kopi Sibu-Sibu | © Alfian Al’ayubby Pelu
Rumah kopi (cafe) Cangkir
Rumah kopi (cafe) Cangkir | © Alfian Al’ayubby Pelu

Tentu rumah kopi yang dimaksud berbeda dengan cafe-cafe ‘modern’ yang menyodorkan menunya memakai bahasa Inggris, dengan racikan yang kelihatannya canggih-canggih. Di rumah kopi tidak ada espresso, dark cherry mocha, atau blended coffe caramel. Menu utama di rumah kopi adalah kopi bubuk hitam yang boleh dicampur rempah-rempah dan susu.

Berada di rumah-rumah kopi tradisional Ambon kita bisa menikmati suasana kota dengan ritme yang pelan. Saya memesan kopi rarobang dengan tandem pulut siram. Gelas kecil kopi rarobang yang diantar ke meja berisi campuran dari kopi bubuk, cengkeh, jahe, dan sejumput kenari. Sedangkan sepiring kecil pulut siram berupa campuran nasi pulut, parutan kelapa, dan gula aren yang dicairkan. Pulut siram adalah menu sarapan paling umum bagi orang Ambon. Kalau saya tak berlebihan juga bagi orang Maluku.

/2/

Bersantai di rumah kopi memang mengasyikan. Akan tetapi tidak semua kalangan melakukannya meski punya waktu luang untuk itu. Bukan karena secangkir kopi dan sepiring penganan yang ditawarkan terlampau mahal harganya. Namun ngopi di rumah kopi bukanlah tradisi yang populer di Ambon.

Tidak semua daerah di pulau Ambon, atau di Maluku, punya tradisi minum kopi yang mengakar dan merata. Berbeda misalnya dengan di Aceh, di mana tradisi minum kopi serta ngopi di kedai-kedai kopi sangatlah populer, digemari berbagai kalangan. Tradisi minum kopi yang mengakar mestilah dipasok dengan biji-biji kopi yang dipanen dari kebun kopi rakyat.

Tradisi ngopi, kurang lebih, dapat dilacak dari tradisi menanam kopi. Itu yang absen di sini. Kebun-kebun dan hutan di kepulauan di Maluku bukanlah penghasil biji kopi terkenal dan komersil sebagaimana biji kopi dari kebun-kebun di Priangan, di Flores, Wamena atau Aceh Tengah.

Kalaupun angka konsumsi kopi di Ambon meningkat tiap tahun, itu sebagian besar disumbang oleh kopi instan bermerk terkenal yang iklannya saban waktu tayang di televisi. Tanpa tradisi ngopi yang mengakar, tentu masyarakat lebih memilih menyeduh kopi instan sachet yang alur distribusinya merata, mudah didapatkan, harganya murah, serta praktis. Apalagi promosi kopi instan melalui undian berhadiah kini mulai masuk ke pasar di negeri-negeri (desa adat), dengan menjanjikan hadiah seperti setrika, televisi, blender, kipas angin atau sembako.

Hanya pelanggan-pelanggan setialah yang saban waktu datang ke rumah kopi. Nongkrong, diskusi, ketemu teman lama atau sekedar membagi koleksi gosip politik. Mendekati pilkada beberapa rumah kopi dipakai menjadi tempat deklarasi sepasangan calon.

Rumah kopi Trikora memasang baliho sepasang calon walikota dan wakil walikota Ambon untuk Pilkot 2017
Rumah kopi Trikora memasang baliho sepasang calon walikota dan wakil walikota Ambon untuk Pilkot 2017 | © Alfian Al’ayubby Pelu
Rumah kopi Pangkalan Raya
Rumah kopi Pangkalan Raya | © Alfian Al’ayubby Pelu

Pelanggan-pelanggan di rumah kopi punya ragam latar belakang, namum umumnya menjadi bagian dari kelas menengah kota. Jarang dari pelanggan-pelanggan setia itu adalah nelayan, petani atau sopir angkutan umum. Kebanyakan dari mereka merupakan aktivis, jurnalis, peneliti, kontraktor, pegawai negeri sipil (PNS), atau calo politik. Mereka-mereka ini yang, seperti saya taksir di awal, berumur di atas 30 tahun.

Jika boleh disimpulkan secara sederhana keberadaan rumah kopi-rumah kopi di Ambon lebih mencerminkan kebutuhan urban yang akarnya bisa dilacak ke 30 tahun yang lalu, ketimbang mencerminkan tradisi yang berurat-akar di masyarakat. Di tahun 80-an, tahun di mana kebijakan pembangunan a la orde baru begitu digenjot, lapisan kelas menengah tumbuh seturut perkembangan ekonomi di kota.

Kelas menengah yang tumbuh perlu ruang untuk mobilitas dan aktualisasi diri. Saat itu belum ada tempat-tempat hiburan dan belanja seperti yang kita jumpai sekarang, yang dapat menampung hasrat konsumsi kelas menengah. Belum ada mal ataupun cafe bergaya modern dan franchise yang berfungsi sebagai ruang bersama untuk bertemu, untuk menunjukan gaya, dan untuk menegaskan gengsi. Rumah kopi hadir mengisi ‘kekosongan’ itu. Ia berfungsi sebagai ruang bersama untuk menampung eksistensi kelas menengah, entah apapun bentuknya.

Pernah pada suatu kurun waktu rumah kopi menjadi tempat bolos yang asyik bagi para pegawai negeri sipil. Seorang fotografer koran lokal yang tergelitik menangkap fenomena ini pernah ditinju mukanya oleh seorang PNS. Kejadiannya berlangsung di tahun 1996.

Sampai di sini dapat mengerti kenapa rumah kopi di Ambon bukan menjadi favorit semua kalangan, kendati dikatakan mampu membangkitkan kenangan sekitar Ambon tempoe doloe, meskipun dianggap punya sedikit andil dalam mencairkan suasana ketegangan antar kelompok pasca konflik berdarah di Ambon.

Kini berbagai macam tempat hiburan sudah banyak berdiri. Cafe-cafe modern dan kedai frenchise menjamur di pusat kota. Rumah kopi memang tidak kehilangan penggemar setianya, namun dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ditawarkan, rumah kopi belum mampu menarik minat kalangan muda. Saya tidak ingin menilai secara pukul rata, cuma, anak-anak muda dan remaja lebih betah di bioskop atau di cafe-cafe modern.

Kelas menengah yang dulu mulai berkenalan dengan rumah kopi semakin beranjak usianya, sementara kelas menengah baru yang tumbuh di sekitar akhir 90-an hingga milenium ini tidak terlalu tertarik untuk mangente rumah kopi.

Referensi:

Mangente merupakan kosakata Melayu-Ambon yang artinya mengunjungi.

Alfian Al’ayubby Pelu

Penulis lepas. Mukim di Bogor, mudik ke Ambon.