Mampir di Singgah Coffee and Book

Cappucino dan Churros
Cappucino dan Churros | © Chandra Wulan

Saya jadi sering mampir di Singgah sejak urusan skripsi saya selesai di Yogyakarta. Meskipun revisi belum selesai digarap, dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya menyudahi masa-masa menjadi anak kos dan pulang ke Purwokerto. Berbeda dengan Yogya, jumlah warung kopi di Purwokerto masih sedikit. Dan belum banyak yang benar-benar fokus mengembangkan rasa kopinya.

Sempat main di tempat ini ketika awal-awal kuliah ketika sedang pulang kampung, saya teringat kembali dan ingin mampir lagi ke sebuah coffee shop yang terletak di daerah Sumampir, sebelah utara dari Universitas Jendral Soedirman. Namanya, Singgah Coffee and Book. Dari jalan raya, tempat ini nyaris terlihat. Saya saja sampai sekarang masih sering kebablasan. Soalnya, sebelah Singgah ada warung bakso dan plangnya cukup besar, sehingga menutupi keberadaan coffee shop ini.

Space-nya kecil dan tidak terlalu padat. Dari luar kita dapat melihat kaca yang telah ditempeli tulisan “GOOD COFFEE GOOD IDEA”. Belum tentu juga sih, ide akan tetap muncul walau kopinya kurang enak. Begitu masuk, area bar akan langsung terlihat di depan kita sekitar 3 meter. Kesannya bersih dan rapi dengan dominasi cat warna putih. Di meja bar, ada tumpukan buku menu, beberapa toples biji kopi, mesin pembayaran, dan tentu saja, mesin kopi dan grinder. Secara umum, pelayanan dapat dikatakan ramah, apalagi jika sudah sering kesana.

Pintu Masuk
Pintu Masuk | © Chandra Wulan

Tempat ini lama-lama menjadi favorit saya kalau sedang suntuk di rumah. Suntuk karena wisuda bulan Mei tanpa pendamping, masih menganggur dan sebentar lagi Ramadan. Kawan-kawan pasti mengerti, bagaimana kejamnya pertanyaan yang dilontarkan saudara-saudara ketika lebaran! Tak peduli maksudnya hanya basa-basi atau benar-benar peduli. Paling sering saya bertemu dengan teman SMA yang sama-sama masih menganggur, bersama merutuki seleksi kerja yang jauh-jauh makan biaya dan kekhawatiran lain yang tidak perlu. Kadang saya juga sendiri saja kesini, entah untuk membaca buku atau menjadi fakir wifi.

Ada satu sudut favorit saya di Singgah Coffee and Book ini. Dari pintu masuk langsung belok kiri, ada rak buku yang koleksinya cukup menyenangkan bagi saya. Kira-kira seratusan buku dari berbagai genre, mulai fantasi, roman, sejarah, horor, dan juga majalah, ada disini. Kombinasi buku, hembusan angin AC, secangkir kopi susu, eh, capucinno hangat dan sepiring churros dengan choco dip melengkapi siang hari saya yang panas, beberapa hari yang lalu, sembari menunggu teman yang sebutkan tadi datang.

Di sisi lain, ada juga high table dengan kursi yang juga lebih tinggi tentu saja, menambah aksen di dekat kumpulan bingkai-bingkai dengan gambar berkesan vintage yang menempel di salah satu dinding. Di sebelah kanan bar dari arah masuk, ada pintu kecil yang mengantar kita ke area merokok. Area ini lebih panas karena tidak memiliki AC, namun di bagian belakang menghadap ke lapangan yang langsung bersambung dengan perkampungan. Untuk kamu yang masih rajin salat, tenang. Kira-kira 50 meter dari pintu belakang ini, ada masjid kampung yang terbuka untuk kamu beribadah.

Sudut Favorit
Sudut Favorit | © Chandra Wulan
Bacalah
Bacalah | © Chandra Wulan
Area Bar
Area Bar | © Chandra Wulan

Tak lama, teman saya datang dan memesan teh. Ia kadang-kadang ingin minum kopi, tetapi perutnya tidak kuat. Bahkan pernah ia memesan affogato (es krim vanila dengan siraman espresso) di sini, pulangnya ia hampir pingsan di jalan. Semenjak itu ia trauma. Capucinno adalah minuman yang paling sering saya pesan disini. Kadang pahitnya sedikit, kadang dominan. Paling enak kalau creamy susunya dominan. Churros dengan choco dip itu juga enak, besar-besar dan renyah. Minuman lain yang saya rekomendasikan disini adalah cokelat panas dan ice greentea latte. Coklat panasnya berhasil bikin bad mood menjadi good mood dan ice greentea latte nya smooth, segar.

Jika kebetulan kawan-kawan sedang berada di Purwokerto, mampirlah sejenak. Kalau sulit mencarinya, pakai aplikasi maps saja. Sekali mampir, pasti betah. Sayang tidak boleh menetap. Sesuai namanya, Singgah! Kita hanya boleh singgah, mampir saja sebentar disini. Seperti hidup gur mampir ngombe, singgah untuk minum sebentar, lalu pindah ke kehidupan yang lain untuk hidup selamanya.