Mampir di Antologi, Sebuah Kedai di Gang Sempit dan Tersembunyi

Kopi dan apple cinnamon roll
Kopi dan apple cinnamon roll | © Mendut

“Akan jadi apa bangunan itu nanti?”

“Kabarnya semacam kafe. Mantan rektor UGM yang punya.”

“Oya? Berani sekali membangun kafe di tempat di seperti ini. Mblasak. Di dalam gang kecil. paling-paling nanti nggak laku.”

Dan saya salah. Tempat yang kemudan dinamai Antologi itu ternyata ramai pengunjung, banyak yang pakai mobil pula. Padahal portal menuju tempat ini ditutup pukul 10.00 malam. Jalur alternatif yang ditawarkan cukup berliku dan berbahaya bagi yang belum mahir menyetir.

Teman saya juga salah. Antologi bukan sekadar kafe. Keterangan yang menyertai di balik kata “Antologi” itu adalah Collaboractive Space. Sebuah konsep yang saya asumsikan merupakan doa si empunya agar tempat ini jadi wadah lahirnya ide-ide brilian, bahkan nyeleneh sekalipun, dan sekaligus jadi tempat eksekusi sebagian atau keseluruhan ide-ide yang lahir di sana—terutama yang muncul dari buah pikiran anak muda. Singkatnya, sebagai tempat berproses. Untuk apa jadi manusia kalau tidak mau berproses?

Kesalahan kedua, yang punya bukan mantan rektor, melainkan pernah mencalonkan diri untuk menjadi rektor UGM pada tahun 2012. Beliau adalah dosen Teknik Sipil UGM dan sekaligus menjabat sebagai Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia. Dari Mas Bagus, salah satu brewer di sana, saya mengetahui bahwa bapak di balik tempat mengagumkan ini bernama Danang Parikesit. Penasaran, saya pun mencari nama beliau di media sosial yang kabarnya paling rawan menimbulkan depresi: Instagram. Ketemu. Wajahnya familiar. Mungkin saya pernah tak sengaja melihat beliau ketika kebetulan ngopi di Antologi. Saya menduga, beliau adalah sosok yang terus berjiwa muda, dilihat dari postingannya di Instagram. Tentu saya tidak akan membocorkan username beliau di sini. Lha, wong nyari sendiri saja gampang, kok. Hehehe.

Instagrammable
Instagrammable | Sumber: Instagram @antologi_space
A titik koma
A titik koma | Sumber: Instagram @antologi_space

Mari kita masuk ke Antologi Collaboractive Space, yang, karena namanya panjang, selanjutnya akan saya sebut sebagai Antologi saja. Tempat ini berada di Tawangsari. Dari Jalan Kaliurang KM 4,5 masuk melalui Gang Megatruh melalui Flaurent Salon masih lurus menjelang turunan Soto Pak Nanto segera tengok kanan. Ada gapura Tawangsari, masuk. Antologi ada kira-kira 50 meter di kiri jalan.

Ada banyak sekali yang menyenangkan dari tempat ini. Sebelum masuk, pengunjung dibahagiakan oleh lahan parkir yang luas. Cukup untuk kira-kira tujuh mobil dan puluhan motor. Untuk bangunan yang ada di dalam gang sesempit itu, lahan parkir luas adalah prestasi yang luar biasa. Bangunan ini terdiri dari dua lantai yang sebagian besar terdiri dari kaca. Dari luar, kita bisa melihat apa dan siapa yang ada di dalam, dan sebaliknya. Beberapa tanaman di luar menimbulkan kesan asri bagi yang baru datang ke Antologi. Di bagian luar depan dan samping juga terdapat meja kursi untuk kita yang merokok atau tidak suka dingin AC di dalam.

Begitu masuk, sebelah kanan ada open bar di mana kita bisa memesan dan langsung membayar pesanan. Saya tidak melihat mesin kopi. Hanya ada beberapa alat seduh manual seperti V60, Kalita, Aeropress, presso, mungkin juga Vietnam drip dan chemex. Dua yang terakhir saya kurang yakin. Silakan pastikan langsung ke Antologi. Saya tidak ingin menyebut mas-mas atau mbak-mbak di belakang bar ini sebagai barista. Lebih enak brewer, karena mereka benar-benar menyeduh, manual. Tertarik untuk belajar menyeduh kopi yang baik dan benar? Langsung saja bertanya kepada brewer yang sedang bertugas. Mereka sangat ramah dan mau berbagi ilmu alias sharing ke siapa saja.

Area menyeduh
Area menyeduh | Sumber: Instagram @antologi_space

Usut punya usut, ternyata brewer di Antologi adalah orang-orang Wikikopi. Iya, yang di kompleks Pasar Kranggan itu. Nama Wikikopi sangat termasyur di perkopian Jogja, setahu saya. Maka tidak heran jika kopi seduhan mereka nikmat sekali: aroma dan rasa yang keluar dari kopinya, pas. Ini juga tentunya diimbangi dengan beans yang hampir selalu fresh dan ada yang baru jenisnya, entah dari Jawa (Java Halu), Sumatera (Gayo) hingga Papua (Sabin). Enggak suka ngopi? Tenang, di sini juga ada berbagai pilihan lain seperti teh hijau yang namanya sulit ada beberapa macam (saya kurang tertarik, tidak ingin tau namanya) serta jus. Plus, ada infused water gratis. Siapa tahu habis ngopi malah haus. Ada juga beberapa camilan seperti lemon pie, apple cinnamon roll (ini enak), hingga biscotti. Untuk yang terakhir, biasanya menyertai pesanan kopi. Bagi saya rasanya aneh, antara kapur dan batako. Tapi bagi vegetarian pasti itu enak dan sehat. Karena saya bukan vegetarian dan konsumen setia micin serta gula yang kadang berlebihan, bagi saya biscotti itu terasa keras dan hambar.

Kesan yang muncul dari interior Antologi, kalau meniru istilah acara jalan-jalan di televisi: industrial. Dari lampu yang menggantung jauh, tembok yang dibiarkan semen saja, hingga tangga dan kusen berwarna hitam. Sederhana, tegas namun hangat. Di area seberang bar, ada kursi panjang dan meja yang cukup menampung 8-10 orang. Tempat ini sering didominasi oleh bapak-bapak dan keluarganya –mungkin salah satu pemilik Antologi. Di bawah tangga, ada sofa hitam yang sangat nyaman, ini tempat favorit saya. Empuk, ada bantal, dekat rak buku pula. Nah! Ini juga bikin bahagia. Di sini kita bisa membaca koleksi buku dan majalah yang tersedia di beberapa rak. Di antara rak buku, ada juga semacam sofa yang sangat nyaman untuk selonjoran, laptopan, atau sekadar baca buku. Empuk, di pinggir jendela pula. Cocok untuk latar video klip.

Di tengah-tengahnya, ada banyak kursi dan meja yang sepertinya dirancang untuk tempat diskusi produktif. Kursinya mirip bangku kuliah. Sedangkan di bagian belakang ada semacam level di mana kita bisa duduk lesehan sambil laptopan atau baca buku saja. Tiduran juga sah-sah saja, asal nggak ngiler. Di samping kiri dari area lesehan ini ada pintu yang menghubungkan dengan bagian belakang yaitu gudang dan toilet. Lagi-lagi ini membahagiakan karena toiletnya bersih dan kering, tidak becek. Tapi ya gitu, toilet kering artinya kalau kamu kentut dahsyat, suaranya bisa terdengar sampai luar. Hati-hati ya.

Area lesehan
Area lesehan | Sumber: Instagram @antologi_space
Industrial
Industrial | Sumber: Instagram @antologi_space

Saya belum sempat menyambangi lantai dua, tapi sepintas pernah menanyakan kepada Mas Bagus, brewer yang saya sebutkan di atas, bahwa tempat itu kelak akan menjadi coworking space. Nah, untuk teman-teman yang punya start-up company yang belum punya kantor, mungkin bisa ngantor di sini. Lantai dua juga jadi tempat untuk kumpul komunitas. Terakhir saya dengar Selasa(r) Literasi mengadakan baca puisi karya Chairil Anwar di sini (25 Juli 2017). Beberapa kelas singkat juga telah digelar di Antologi, dilihat dari akun Instagramnya (@antologi_space) di antaranya kelas memasak, menggambar, dan menyeduh kopi. Pernah juga saya bertanya soal syarat mengadakan acara di Antologi. Katanya tidak ada syarat asal acaranya berguna bagi kemaslahatan orang banyak. Tapi, coba tanyakan ke pihak operasional dulu ya.

Terakhir, yang paling penting bagi anak kos dan kelas menengah ngehe, soal harga. Saya bersyukur ada tempat se-cozy ini dengan harga yang ramah di kantong. Untuk segelas kopi dengan metode V60, Kalita, dan Aeropress, cukup 15 ribu saja. Teh lebih murah, sekitar 10 ribu. Yang agak mahal yang ada susunya. Susu UHT, lho. Jangan ngeres gitu ah, pikirannya. Camilan harganya sekitar 15 ribuan. Parkir setahu saya gratis karena beberapa kali saya ke sana, masnya enggak mau dibayar. Antologi buka dari pukul 07.00 pagi hingga 11.00 malam. Jadi kalau ingin ngopi pagi-pagi sebelum ngampus, bisa mampir dulu.

Maka untuk menutup tulisan ini, izinkan saya mengambil definisi Antologi dari KBBI. Antologi termasuk kata benda, yang artinya adalah kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. Berangkat dari definisi tersebut, maka ucapan “nama adalah doa” itu benar adanya dan tengah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Antologi, sekumpulan cerita yang terdiri dari ide-ide, aksi, dan rasa kopi, dalam sebuah tempat tersembunyi di gang sempit, Tawangsari.

Mendut

Penulis amatir.