Malam yang Sederhana

Pertama kali datang, saya tak percaya jika deretan sepeda motor yang parkir sebanyak itu adalah para pengunjung warung kopi Manut Nite. Bagaimana tidak, dengan luas warung yang kira-kira hanya 3×5 m, saya menghitung ada lebih dari 20 buah sepeda motor.

Sepasang bapak ibu, kira-kira berusia 60an tahun, menyambut saya dengan ramah. Mereka berdua adalah Roespandi dan istrinya. Keduanya masih sibuk di dapur yang terletak persis di antara ruangan warung depan dan belakang.

Kafe Manut Nite
Kafe Manut Nite © Eko Susanto

Sesaat kemudian saya berjalan ke belakang bangunan warung sederhana. Wah… Saya tercengang. Ternyata ada 3 gazebo yang berisi sekitar 7-8 dudukan kayu (atau biasa dikenal dengan sebutan amben) yang cukup lebar. Pohon-pohon seukuran manusia dewasa bertebaran di sekeliling dudukan dan lampu temaram menambah derajat kenyamanan menikmati secangkir kopi.

Untuk urusan tempat Manut Nite barangkali tempat yang tergolong sangat memuaskan. Di sini saya bisa berbincang dengan nyaman, mencatat beberapa hal dengan khusyuk, lalu melamun dengan tingkat keberdiaman yang sempurna.

* * *

Roespandi dulunya adalah salah satu staf administrasi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Ia menjadi pegawai selama kira-kira 30 tahun. Sementara istrinya, Sriwati, sejak pertengahan dekade lalu telah ikut bekerja di Manut Nite.

Mulanya Manut Nite adalah warung yang digagas oleh seorang bernama Agung, mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM. Ia dan beberapa temannya menyewa lahan lalu membuka Manut Nite yang pertama. Ketika saya tanya apa arti kata Manut, baik Roespandi dan Sriwati menyatakan tak tahu. “Mungkin ada hubungannya sama hutan-hutan gitu, mas,” tutur Roespandi mencoba menerka.

Saya malah menduga malah manut ini berarti patuh. Tapi ketika disandingkan dengan nite, saya juga jadi bingung apa maksudnya.

Waktu terus berjalan. Manut Nite rencananya akan ditutup karena kesibukan para pengelolanya. Padahal, saat itu Manut Nite sudah memiliki banyak para pelanggan tetap. Sriwati mencoba mengingat-ingat penanda waktu peristiwa tersebut. Ibu yang ramah ini menduga pada sekitar tahun 2007.

Setahun berikutnya, suaminya telah sampai pada masa pensiun. Pasutri ini lantas memikirkan cukup lama pilihan untuk mengambil alih Manut Nite. Tak lama, gayung bersambut. Pengelola yang pertama setuju. Dengan dibantu seorang anak hasil buah cinta mereka yang berusia kurang dari 20 tahun, keduanya ‘resmi’ mengambil alih warung tersebut.

Maka jadilah Manut Nite yang saya tongkrongi ini.

Manut Nite yang sekarang buka mulai pukul 17.00 WIB dan tutup pada jam 01.00 WIB. Dengan hanya beroperasi selama 8 jam tersebut, Roespandi dan Sriwati bisa menghabiskan masing-masing 1 kilogram per jenis kopi setiap minggu. Padahal, ada belasan jenis kopi yang mereka sediakan setiap harinya.

Teknik pengolahan kopi di sini masih teramat tradisional, tanpa mesin apapun. Hanya kopi yang diseduh air panas saja. Akan tetapi, Manut Nite tak pernah sepi atawa kehilangan pelanggan.

Seturut paparan Sriwati, belasan jenis kopi yang ditawarkan tersebut umum disantap oleh para mahasiswa yang memang banyak bertebaran di sekitar Manut Nite, “Yang datang ke sini biasanya mahasiswa UGM, UNY, kadang juga dari ISI.” Saya membuktikannya sendiri. Wajah-wajah muda mendominasi tempat ini, dari depan sampai ke belakang.

“Biasanya dibuat rapat. Ada yang datang dulu sorenya, tanya, apa ada acara di sini. Kalau tidak, mau dibuat rapat,” tutur Roespandi menjelaskan kegiatan pengunjungnya yang mahasiswa di Manut Nite.

* * *

Saya melihat papan menu di pojok utara warung. Nampak berjejer nama-nama kopi dari sekian daerah. Ada Aceh Gayo, Mandailing, Kediri, Toraja, Kintamani, Flores, Wamena, dan lain-lain. Harganya dipatok sama, lima ribu rupiah. “Murah ya,” kata saya spontan ke teman yang berada di sebelah saya.

Sesaat kemudian, seorang pelanggan yang tak saya sadari kapan berada di samping saya berceletuk, “Dulu malah tiga ribu lima ratus (Rp 3.500,-), mas.” Saya agak tercengang.

Kenaikan harga tersebut juga bukan karena hasrat Roespandi dan Sriwati untuk mengejar keuntungan. Kenaikan harga tersebut, kata mereka berdua, akibat dari harga gula yang terus melonjak.

“Gula naik cepet sekali. Dulu waktu gula (per 1 kilogram) Rp 6.000,-, harganya ya segitu (Rp 3.500,-). Waktu naik pertama, harga (menu kopi) naik Rp 4.000,-. Terus gula jadi Rp 12.000,-, ya dinaikin jadi Rp 5.000,-,” papar Sriwati. Saya manggut-manggut, begitu pula pelanggan yang tadi berceletuk.

Saya jadi ingat konsep orang membuka warung kopi yang lazim di kota asal saya. Dahulu saya pernah berbincang dengan seorang pemilik warung. Harga yang ia patok untuk semua jenis menu juga tergolong sangat murah. Ia menyatakan kalau ia membuka warung kopi hanya sebatas ‘menitipkan hidup’. Saya kejar pernyataannya tersebut. Ia lalu menjelaskan, kalau ia tidak mengambil untung dari warungnya.

“Yang penting saya bisa makan dan hidup sehari-hari,” begitu kira-kira kata bapak pemilik warung diingatan saya itu.

Tuan dan Nyonya Manut Nite
Tuan dan Nyonya Manut Nite © Eko Susanto

Saya lalu beranjak ke tempat Roespandi dan Sriwati lagi, melanjutkan obrolan.

“Sudah tua, mas, mengalir saja. Kalau besok sudah dapat buat belanja, ya sudah. Kalau ada sisa sedikit-sedikit, ya disisihkan, sudah gitu,” kata Roespandi yang seolah mengafirmasi ingatan saya.

Di Manut Nite saya merasakan lagi esensi paripurna dari aktivitas kultural yang disebut sebagai ngopi. Sepasang manusia berusia senja yang ada di depan saya ini tak jarang bercanda dengan pelanggan yang lalu lalang. Pun demikian dengan para pelanggan, terutama yang memilih tempat di dekat mereka berdua. Sambil menyeruput kopi, mereka tak segan melemparkan canda ke keduanya.

Barangkali, salah satu kedai di Yogyakarta yang membuat saya rindu adalah Manut Nite. Manut Nite yang sederhana dan bersahaja, seperti kedua pemilik sekaligus pengelolanya, Roespandi-Sriwati.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.

  • Saya suka kalimat ini: Di sini saya bisa berbincang dengan nyaman, mencatat beberapa hal dengan khusyuk, lalu melamun dengan tingkat keberdiaman yang sempurna.

    potongan kata-kata ini membuat saya tersenyum lepas, “tingkat keberdiaman yang sempurna”. Asyik bacaannya. Seperti rasa kopi tubruknya Pak Roespandi dan Bu Sriwati.

    Salam kopi dari Medan,

  • Hahahaha, di tempat ini saya dibantai oleh mas-mas angkata 2004 saat diskusi Bandit-bandit Desa-nya Suhartono. Saya kena pinalti. Huaa