Malam Santai di Woodstock Coffee Brew

Kopi Mandhailing dengan Manual Brewing V60
Kopi Mandhailing dengan Manual Brewing V60 | © Amal Taufik

“Berapa harga sewa tempat yang harus saya bayar, Pak?” tanya si pemuda.

Sampean pakai saja tempatnya, Mas. Tidak usah bayar dulu,” jawab si bapak.

Malam itu si bapak menolak menandatangani surat perjanjian kontrak. Si pemuda tidak masalah dengan itu. Yang penting sudah memperoleh izin dari pemilik. Ia bersama satu rekan bisnisnya langsung gerak cepat. Sat set.

Selang beberapa hari setelah pertemuan itu, dengan mobil pick up, mereka mengusung perabotan menuju lokasi. Kursi, meja, meja bar, diturunkan dari atas pick up lalu ditata sesuai desain kafe yang sudah dibikin. Mereka juga mendirikan dua terop, bagian atasnya ditutup paranet. Lokasi yang ia pilih bukan di dalam rumah atau di sepetak ruko, melainkan di atas sebidang tanah kosong dengan rimbun pohon kersen, tujuh gerumbul serai berjajar yang tumbuh di sekitar pagar, satu pohon mangga di satu sudutnya, dan beberapa jenis tumbuhan di sudut lainnya.

Hari itu persiapan beres. Esoknya, jam 3 sore, kafe dibuka. Sebelumnya, promosi sudah gencar dilakukan melalui sosial media. Sanak keluarga dan kawan-kawan berdatangan. Beberapa pengunjung yang datang mengunggah foto kopi yang baru mereka sesap di akun media sosial. Dalam hitungan minggu kafe mereka menyebar secara viral di media sosial. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, pengunjung semakin ramai. Dan pengunjung yang dominan tentu saja para remaja unyu, klimis,dan cihuy.

Namanya Woodstock Coffee Brew. Letaknya di Jalan Patiunus, Kelurahan Bugul Kidul, Kecamatan Bugul, Kota Pasuruan. Tepat di depan gerbang tengah Perumahan Bugul. Nama Woodstock terinspirasi dari nama festival musik di Amerika. Sebuah pagelaran konser musik folk yang diadakan di tanah peternakan yang luasnya 240 hektar di Bethel, New York.

Saya masih ingat, sebelum buka di tempat tersebut, Woodstock melakukan launching pertama kali di acara pameran seni rupa Gandheng Renteng #5 di Gedung Yon Zipur Balaikota, Februari 2016. Waktu itu stan Woodstock kebetulan berada tepat di depan stan saya. Tiga hari saya dan kawan-kawan berada di sana. Dan selama tiga hari di sana, asupan kopi kami peroleh dari Woodstock.

Malam itu untuk kali pertama saya mengunjungi Woodstock. Setelah dua bulan ditutup, si pemuda pemilik kafe, Reza Kuncoro, tiga hari yang lalu mengumumkan Woodstock buka kembali. Itu kabar gembira, setidaknya bagi saya. Sebab sejak bertemu pertama kali di pameran seni rupa, saya belum pernah mengunjunginya lagi.

Suasana Woodstock pada hari pertama buka setelah tutup dua bulan
Suasana Woodstock pada hari pertama buka setelah tutup dua bulan. | © Amal Taufik

Udara agak dingin malam itu. Pasuruan baru saja diguyur hujan deras. Jam 9 malam saya meluncur bersama seorang kawan menuju Woodstock. Ketika saya datang, kafe sedang memutar “Kirana” Dewa 19. Diterangi cahaya kuning yang memancar dari lampu LED saya memilih menu kopi yang tersedia. Ada tujuh toples berisi biji kopi yang ditata di atas meja bar. Ada kopi mandhailing, dampit, lanang, papua, bali, ijen, dan sepoor.

“Vietnam Drip, bali,” kata kawan saya.

“Aku V60, mandhailing,” kata saya.

Reza menulis pesanan kami dan segera beralih ke belakang meja bar. Ia membuka toples, menciduk kopi, lalu menimbangnya. Kopi itu lalu diserahkan ke pegawainya agar dimasukkan grinder. Ia tampak mengawasi cara pegawainya meracik kopi. Sesekali terdengar ia menasehati mereka. Sesekali juga terlihat akrab begurau dengan mereka.

Kafe tidak begitu ramai malam itu. Mungkin karena baru buka dan mungkin juga efek akibat tutup dalam waktu yang, saya pikir, agak lama. Padahal kafe belum berjalan satu tahun. Sehingga ia perlu membangun kembali branding Woodstock. Ia harus kembali lebih getol melakukan promosi di media sosial. Bedanya kali ini Reza melakukan semua itu sendirian, seperti jomblo. Dulu, ia berpromosi dibantu satu rekan bisnisnya. Sekarang rekan bisnisnya hengkang. Siapa bisa mengelak dari perseteruan? Ribut soal porsi kerja, pembagian jatah bulanan, aset, perputaran modal, kesibukan di luar kafe, akhirnya mereka pecah kongsi.

Saya sering mendengar cerita, entah dari keluarga atau dari kawan, soal bisnis yang dijalankan bersama, atau oleh orang-orang sering disebut bisnis joinan. Beberapa cerita berakhir dengan prahara. Beberapa lainnya berakhir mesra. Dan apesnya, cerita yang masuk ke telinga saya kebanyakan yang pertama.

Mereka yang punya cukup pengalaman berbisnis model semacam itu, biasanya mengimbuhi wejangan kepada saya, “Kalau mau bisnis jalan sendiri saja. Kalaupun bersama, meski dengan sahabat atau keluarga, lebih baik ada hitam di atas putih.”

Ketika mereka memberi wejangan, saya hanya bisa mengangguk-angguk, seperti lovebird jantan sedang birahi. Pasalnya saya bukan pelaku bisnis. Pernah memang sekali saya menjalankan bisnis. Bisnis kaos. Saya menjalankan bisnis itu bersama empat orang kawan. Kami jualan sebulan penuh ketika bulan puasa. Mungkin waktu itu jika ada pebisnis kawakan yang tahu bagaimana kami merancang dan mengelola bisnis, saya yakin ia akan menyebut kami sebagai pelaku bisnis paling buruk dalam sejarah ekonomi. Anda tahu, kami jualan kaos dari rumah ke rumah, mirip agen MLM. Padahal trik marketing digital sudah begitu maju dan tentu lebih efektif. Kami mengirim sendiri pesanan dari luar kota, tanpa ongkir pula, padahal ada banyak sekali jasa pengiriman yang bisa kami gunakan. Tapi tidak apa-apa, yang penting pengalaman.

Reza Kuncoro, pemilik Woodstock Coffee Brew
Reza Kuncoro, pemilik Woodstock Coffee Brew. | © Amal Taufik
Reza sibuk meracik kopi
Reza sibuk meracik kopi | © Amal Taufik

Bali Vietnam Drip pesanan kawan saya datang lebih dulu bersamaan dengan pergantian playlist kafe dari “HujanTurun” Sheila on 7 ke “Imagine” John Lennon.

“Kok deras ngucurnya? Enggak netes pelan-pelan seperti biasanya,” gumam saya melihat Vietnam Drip yang baru mendarat.

Saringane bolong. Wis gak perawan,” jawab kawan saya.

“Matamu!”

Sepersekian menit kemudian Mandhailing V60 saya datang. Sudah di dalam cangkir. Di salah satu tempat ngopi langganan saya di Jember, V60 biasanya disuguhkan dengan kondisi masih di dalam teko, ditemani satu gelas bening kosong ukuran 30 mili. Saya biasanya menuangkan kopi dari teko ke dalam gelas sedikit, sedikit. Sambil merokok. Sambil curhat.

Jari telunjuk saya lingkarkan di kuping cangkir, lalu saya mengangkatnya. Pada sesapan pertama, astaga, enak betul. Pas. Mandhailing juara. Atau baristanya yang juara. Atau entahlah. Ada rasa pahit ketika kopi baru menyentuh ujung lidah, kemudian menggenangi pangkal lidah, rasa asam menyusul. Dan selanjutnya sebelum masuk tenggorokan muncul rasa manis. Tak ada bitter di tenggorokan. Kopi meluncur halus melewati tenggorokan.

Saya pernah oleh salah satu kawan saya yang mengelola sebuah cafe di Jember, sebut saja Deris, disuruh meracik V60 sendiri. Walaupun dipandu instruksi dari Deris, saya meracik kopi dengan tangan gemetaran. Takut-takut jika saya keliru mengutak-atik grinder lalu grinder meledak. Singkat cerita saya akhirnya selesai meracik V60 sendiri. Saya menyuruh Deris mencicipinya. Ia menuangkan sedikit sekali kopi dari teko ke dalam gelas dan menyesapnya. Wajahnya terkulai, seperti baru meneguk air raksa.

Woodstock buka setiap hari mulai jam 3 sore. Suasananya ketika sore mungkin lebih menarik karena di sebelah barat Woodstock adalah hamparan sawah. Cocok bagi para penyair muda yang senang menggubah puisi dengan metafora senja. Ia bisa melamun di sana, sambil ngopi, dan menulis puisi. Tempat yang lumayan luas dan terbuka, lokasi yang tidak terletak di pusat keramaian kota sehingga tidak kelewat riuh, menjadikan Woodstock tempat yang cocok untuk santai.

Masuk tengah malam, tidak ada pengunjung yang datang lagi. Kafe sepertinya sudah mau tutup. Reza keluar dari meja bar, lalu mendatangi saya dan kawan yang duduk di pojokan. Sambil menghisap rokok, kami bertiga mengobrol topik-topik sepele.

“Kopi lanang ki kopi opo, Re? Enek kopi wedok pisan berarti yo?” tanya saya.

Reza menjelaskan bahwa Kopi Lanang merupakan kopi yang ditanam di atas tanah bekas tanaman rempah-rempah. Kopi lanang, kata Reza, erat kaitannya dengan menambah stamina pria ketika berada di atas ranjang.

“Oh, berarti nek kopi wedok wangine wangi ****?” saya menyahuti seenaknya.

Lambemu!”

Kami tertawa. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tidak ada orang lagi kecuali kami berdua. Kawan saya sudah beranjak satu jam yang lalu. Meja, kursi sudah dirapikan. Lampu-lampu dimatikan, tinggal lampu di dekat tempat saya duduk yang belum dimatikan. Saya memasukkan laptop ke dalam tas, menyeruput sisa Mandhailing yang sudah dingin di dalam cangkir. Reza mematikan semua lampu lalu segera berkemas. Melihat Reza, saya teringat postingan Mas Puthut EA di instagram sekitar dua bulan yang lalu. Begini tulisnya, “Kadang saya pesimistis dengan Indonesia. Tapi begitu saya melihat sekeliling, di pinggir jalan, saya langsung optimistis. Anak-anak Indonesia wani urip. Jualan martabak, tahu bulat, jus, dll. Kendel. Top.”

Amal Taufik

Pecinta masakan kambing garis keras.