Malam Minggu Dako

Kafe Kopi Dako
Kafe Kopi Dako | © Hudi Majnun

Akibat rasa jenuh di Jember, kuputuskan untuk pulang dan tinggal beberapa hari di kampung halaman, Sukowangkit, yang merupakan perbatasan antara kecamatan Sukosari dan Tapen. Aku tumbuh dan sekolah di Sukosari.

Kulewati dua malam pertama di rumah dengan mengunjungi sanak saudara dan teman kecil. Kadang memang sedikit bosan. Suasana akan sangat sepi saat menjelang pukul 9.00 malam, di jalan, di pasar, lampu rumah-rumah mati. Dulu, biasanya aku habiskan malam dengan bermain PS bersama salah seorang teman yang kini tinggal di Malaysia.

Hari terakhir di rumah, aku terlambat bangun. Niat pulang tertunda. Sorenya ada broadcast masuk. Setelah aku lihat ternyata dari salah seorang guru SMP. Beliau biasa broadcast promosi produk olshop-nya. Namun, setelah kubuka, ini pesan yang berbeda, bukan promosi produk jualannya. Justru pesannya membuatku sedikit bersemangat. Ia mengabarkan bahwa di kafenya yang baru buka akan ada penampilan band lokal. Kafe? menarik. Sebuah keberanian dan merupakan hal baru di kampungku.

Ngopi malam sangat jarang dilakukan oleh para pemuda di kampungku. Mereka lebih suka ngopi di waktu siang, di warung-warung pasar sambil menggoda cewek sekolah lewat. Sementara jika malam, mereka lebih ramai di tempat-tempat seperti bakul mie ayam atau bakso. Warung kopi hanya dihuni orang-orang tua, itu pun tak lebih dari pukul 09.00 malam. Bagi pemuda yang berstatus siswa, biasanya ngopi untuk mengisi waktu sambil bolos sekolah. Pemuda Sukosari kebanyakan memang siswa SMP hingga SMA. Karena mereka yang telah lulus biasanya lebih banyak yang pergi, mulai untuk kuliah, kerja di luar kota atau di luar negeri, hingga menikah.

Malamnya, sekitar pukul 20:00 saya berkunjung ke Kafe Kopi Dako (Dapur Kopi) yang berada di selatan pasar Sukosari. Sekitar 300 meter dari Pasar Sukosari ke arah selatan atau sekitar 800 meter dari rumahku. Aku berangkat sendiri, beberapa teman sudah menunggu di sana. Beberapa teman lama. Ya, mereka sedang ngopi dan sebagian adalah personil band.

Kafenya sederhana, jika dilihat dari jalan tak akan terlihat seperti kafe. Itu memang rumah Pak Suyitno, pemilik Kopi Dako Raja yang beberapa saat lalu menjadi juara pertama pada Festifal Kopi Nusantara 2016. Inisiatif membuka kafe datang dari Ika, salah seorang anaknya.

Bu Ika guru SMP-ku. “Awalnya cuma untuk wadah hasil kebun sendiri. Kan, aslinya kita petani yang punya produk berupa bubuk itu, Mas. Semakin lama perkembangannya semakin baik, akhirnya membuka kafe sebagai media mengenalkan kopi Bondowoso,” ucapnya.

Rumah yang didesain kafe ini memiliki sekitar 12 bagian yang bisa ditempati. Empat ruangan berada di teras rumah yang berhadapan dengan kasir atau tempat pemesanan. Sedang untuk pembuatan kopi atau minuman pesanan dibuat di dapur. Meja lainnya berada di bekas garasi mobil yang direnovasi, menjadi tempat nongkrong dengan dinding diberi lukisan biji kopi dan kata-kata romantis dihiasi lampu kuning. Selain itu, jika siang ada tambahan tempat yang berada di depan pagar, lesehan, cocok untuk istirahat.

Varian Kopi Dako Raja
Varian Kopi Dako Raja | © Hudi Majnun

Kafe Kopi Dako hanya menjual kopi hasil kebun sendiri. Beberapa varian kopi yang dihasilkan adalah Pea Berry (Kopi Lanang), Arabica, dan Luwak, yang semuanya Produk Dako Raja. Kopi disajikan dalam dua variasi, yaitu tubruk dan Vietnam Drip. Boleh ditambah susu, sesuai selera. Selain itu, juga ada minuman tambahan lainnya; panas atau dingin, dan beberapa makanan ringan dan berat.

“Sasarannya adalah pemuda sekitar dan wisatawan, karena di sini jalur wisata menuju Kawah Ijen,” tambah Bu Ika. Sejak awal Desember lalu kafe ini dibuka, memang banyak wisatawan yang mampir barang sekadar untuk minum kopi atau beristirahat.

Jauh sebelumnya, Bupati Bondowoso, hingga Ketua DPR, bahkan sering mampir ke rumah Pak Suyitno untuk minum kopi dan membeli kopi kemasan bubuk. “Kalau Bupati atau orang penting lainnya ada tugas dinas ke daerah Ijen, pasti mereka mampir ke sini untuk minum kopi atau membeli kopi. Apalagi mereka sudah kenal lama dengan saya” ucap Pak Suyitno.

Selang beberapa saat, kopi pesanan saya pun datang. Arabika Dako Raja disajikan dengan Vietnam Drip. Saya lebih suka kopi yang terpisah dari ampasnya, karena ampasnya bisa langsung saya gunakan untuk mengoles rokok. Meniru kebanyakan para pengopi dan perokok.

Iringan musik rege yang dimainkan menambah suasana indah malam minggu. Ditemani kopi hangat yang begitu menggoda untuk diseduh. Ditambah lagi suasana dingin diiringi gerimis kecil. Sungguh malam minggu yang indah.

Arabica Dako Raja Vietnam Drip
Arabica Dako Raja Vietnam Drip + Susu | © Hudi Majnun
Scarlet Jamaika
Scarlet Jamaika | © Hudi Majnun

Akhirnya saya baru pamit pulang menjelang pukul 01:00 malam. Tidak ada pengunjung lagi yang bertahan. Maklum, suasana pedesaan tidak seperti di kota yang bisa menghabiskan waktu sampai pagi di warung kopi. Setidaknya, Dako akan menjadi tempat nongkrong dan bernostalgia bersama teman-teman lama, ketika aku pulang.

Mayoritas pengunjung adalah siswa SMP dan SMA. Setidaknya itu adalah hal positif yang dilakukan pemuda desaku, daripada menghabiskan malam minggu dengan sekedar pacaran, apalagi di pinggir jalan atau di tempat gelap. Kini sudah ada tempat nongkrong yang baik dan bisa mengajak pacar ke tempat ini. Kafe pertama di kecamatan Sukosari.

Kafe Kopi Dako buka setiap hari, dari pukul 09.00 sampai 00.00. Spesial malam minggu akan ditemani live musik band lokal. Jadi, bagi pemuda Sukosari tidak perlu bingung mencari tempat nongkrong yang asik dan baik. Dan bagi wisatan yang ingin ke Kawah Ijen dan sekitarnya, tidak perlu repot mencari rest area yang baik.

Mochammad Sholehudin

Petani yang sedang sibuk memacul takdir Tuhan.