Macro Coffee Roastery: Mesin Sangrai Rancangan Sendiri

Begitu sampai di Jember, pada 10 Agustus 2016, saya bersama Tim Ekspedisi Kopi lainnya diajak oleh Achmad Bachtiar Sejahtera (Mas Bebe) untuk berkunjung ke salah satu tempat sangrai. Motor Honda Win yang berbonceng tiga dan dua penumpangnya tanpa helm meliuk-liuk di jalanan Kota Jember, Mas Bebe membelokan motor ke sebuah gang di sebelah kanan, Jalan Mastrip. Hingga saya berada di sebuah rumah yang bagian depannya terdapat sebuah kedai kopi. Inilah Macro Coffee Roastery, tempat sangrai yang kami tuju.

Di sana ada beberapa anak muda yang biasa saya lihat selagi kuliah di Jember. Salah satunya, Ichsan, yang dahulu sama-sama menjadi pelanggan di Warung Kopi Bulek. Dia adalah mahasiwa Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember yang mendirikan Macro Coffee Roastery bersama temannya, Panji Laras Gumilar.

Dua anak muda ini, mendirikan Macro Coffee Roastery setahun yang lalu. Tepat di bulan Agustus. Tetapi persiapan untuk mendirikan tempat sangrai ini relatif butuh waktu lama, lima bulan. Saya agak maklum dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan Macro Coffee Roastery, sebab daripada memilih membeli mesin sangrai siap pakai, kedua pemuda ini justru memilih merancang sendiri mesin sangrai.

Hanya berbekal rekaman yang dicari dari Youtube, Panji kemudian mendatangi seorang tukang untuk dibikinkan sebuah mesin sangrai. Yang ia pegang untuk merancang mesin sangrai yakni prinsip-prinsip yang harus tersedia pada mesin sangrai pada umumnya. Di antaranya, mesin mampu mengalirkan panas secara merata sehingga biji kopi bisa matang secara sempurna.

Pilihan yang kreatif. Terlebih dengan membuat alat sangrai sendiri, kedua orang ini bisa menentukan sendiri spesifikasi mesin.

Ya, walaupun jika saya boleh jujur, alasan kedua pemuda ini merancang mesin sangrai karena alasan menekan biaya. Panji sedikit tertawa ketika menjelaskan soal alasan itu. Dengan biaya yang sama untuk membuat mesin sangrainya, belum tentu ia bisa mendapatkan mesin sangrai. Bisa jadi dapat, tetapi bahan dasar mesin justru tidak terlalu baik.

Jika dilihat sepintas, tak ada yang membedakan mesin sangrai Macro Coffee Roastery dengan mesin sangrai pada umumnya. Terkecuali sebuah kipas yang berdiri di depan bak penampung biji kopi yang telah disangrai. Di sebelahnya terdapat remote untuk menyalakan dan matikan kipas, serta stopwatch.

Panji bersama mesin sangrai rancangannya
Panji bersama mesin sangrai rancangannya | © Nody Arizona

Panji mulai memanaskan mesin sangrai. Kemudian ia menyiapkan kopi yang hendak disangrai, biji kopi robusta lokal yang dititipkan oleh pelanggan untuk disangrai. Ia membuat sedikit catatan di kertas terkait informasi soal biji kopi, utamanya berat dan tanggal sangrai.

“Masih menunggu suhu mesin sangrai mencapai suhu 150 derajat celcius,” kata Panji, memberi penjelasan mengenai alasannya belum memulai proses sangrai.

Pengukuran suhu tersebut dilihat dari alat pengukur panas yang ditempelkan ke badan mesin. Setelah jarum di penunjuk suhu memberi tanda mesin telah siap digunakan. Ia mengambil biji kopi dan memasukkan ke dalam mesin. Dan suara biji kopi yang berputar-putar di dalam terdengar. Ia kemudian menghidupkan pengukur waktu yang tadi tergeletak di samping mesin.

Panji memberikan sedikit kelemahan dari mesin sangrai yang dimilikinya, termasuk wadah penampung kopi yang tidak bisa berputar seperti mesin sangrai bermerek. Kendala itu yang membuatnya membutuhkan kipas angin supaya biji kopi yang telah disangrai lekas mendingin.

Lalu terkait alat pembantu untuk mengambil kopi yang sedang disangrai. Yang tersedia di mesinnya, adalah katup yang membuat kopi keluar dari mesin sangrai. Begitu katup itu dibuka, beberapa biji kopi keluar dan ia bisa melihat perubahan warna kopi. Begitu selesai, contoh kopi sangrai itu dikembalikan lagi ke mesin kopi.

Selama proses sangrai, ia harus memperhatikan perubahan aroma kopi, api, suhu drum, warna kopi, lalu bunyi krek yang menjadi penanda telah matang.

Selang tak beberapa lama, bunyi yang dinantikan itu terdengar juga. Namun, Panji belum menurunkan panel untuk mengeluarkan kopi. Ia rupanya menunggu bunyi krek terdengar lagi. Begitu terdengar, ia menurunkan panel yang membuat biji kopi bergerak keluar ke wadah penampung.

Kantong-kantong biji kopi siap sangrai
Kantong-kantong biji kopi siap sangrai | © Nody Arizona
Panji dan Mas Bebe bersama Tim Ekspedisi Kopi
Panji dan Mas Bebe bersama Tim Ekspedisi Kopi | © Nody Arizona

Panji mengaku puas dengan kinerja yang dihasilkan oleh mesin sangrainya. Ia juga pernah memberikan kopi hasil sangrainya ke beberapa teman penikmat kopi di luar kota. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Mesin rancangannya, bisa menghasilkan biji kopi sangrai yang berkualitas tak jauh berbeda dengan mesin sangrai bermerek.

Dengan mesin kopi sangrai rancangannya ini, Panji dan Ichsan melayani permintaan sangrai dari kedai-kedai kopi di Jember. Juga menyediakan kopi kemasan yang ditawarkan dalam bentuk biji kopi dan bubuk.

Ekspedisi Kopi Miko

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.