Mabuk Kecubung, Sebuah Aduhai

Semalam, polisi menyita ratusan botol minuman beralkohol di sebuah kafe di kelurahan Sumbersari, tepatnya di JL. Sumatra, di lingkungan kampus bumi Tegalboto Jember. Kafe yang baru buka selama tiga hari itu bernama Cloud Nine.

Di waktu yang kurang lebih bersamaan, saya sedang berada di sudut Kalisat, bersama seorang lelaki yang usianya kira-kira sembilan tahun lebih tua dari saya. Entah bagaimana mulanya, saya lupa—mungkin karena saya bertanya—tiba-tiba kami sudah asyik membahas tumbuhan jenis perdu bernama kecubung yang bentuk bunganya mirip terompet ini. Ia mulai diperkenalkan pada tahun 1753 oleh Carolus Linnaeus, seorang ilmuwan Swedia. Namun ada sumber sekunder yang menyebutkan bahwa kecubung telah dipakai sebagai ramuan penyembuh pada abad kesepuluh. Meski dikenal sebagai tumbuhan obat, ia juga mengandung alkaloid yang berefek halusinogen.

Bila membaca kecubung dari sudut pandang ilmiah, banyak saya temukan istilah medis—nama nama senyawa kimia—yang sungguh sulit untuk diingat.

Orang Eropa punya cara mudah untuk mengingat kecubung, yaitu dengan memberinya dua nama, angel’s trumpet sekaligus devil’s trumpet. Sebuah gambaran sederhana tentang kecubung, sebab, khasiat yang dimilikinya bisa membuat ia layaknya malaikat penolong, namun kecubung juga memiliki racun yang sewaktu-waktu bisa menjadikannya iblis pembunuh.

Tentang mabuk kecubung

Lelaki Kalisat yang semalam ngopi bersama saya, ia sedang mengingat masa-masa mabuk kecubung. Katanya, “Tak ada yang dengan sukarela mabuk kecubung”.

Pohon kecubung mudah tumbuh di sekitaran gumuk-gumuk yang bertebaran di Jember. Kadang ia juga dijumpai di tepi sungai bedadung. Biasanya biji-biji kecubung ini dipetik lalu disangrai untuk kemudian ditumbuk halus. Serbuk kecubung warna kecoklatan itu, oleh orang yang iseng kadang dicampurkan pada snack mie era 1980an—mamie, krip-krip dan sejenisnya. Ada juga yang memilih daunnya untuk dijadikan campuran kretek. Tapi umumnya adalah dicampur dengan bubuk kopi. Bila takarannya sedikit dan pas, kopi kecubung mungkin bisa membuat peminumnya tangar—kuat begadang. Tapi bila takarannya tidak pas—cenderung berlebihan—maka segalanya akan menjadi kacau.

Manfaat Dan Khasiat Tanaman Obat Kecubung
Manfaat dan Khasiat Tanaman Obat Kecubung | Sumber: kesehatandia.blogspot.co.id
Buah Kecubung
Buah Kecubung | Sumber: Flickr

Berikut penuturan lelaki yang semalam ngopi bersama saya, tentang apa yang sempat ia rasakan ketika mengkonsumsi kopi campuran kecubung.

“Prosesnya berat. Ketika sudah mabuk, malah tidak ingat apa-apa. Lalu ngapain mabuk kalau gitu? Jadi yang bisa diingat hanya awal dan akhir. Di pertengahannya, ketika sedang mabuk, kadang-kadang saja ingatnya, dua atau tiga detik saja. Itu pun kalau kita sedang mengalami benturan. Semacam temporaryblank atau entah apa ya namanya.

“Reaksi mau masuk, ketika dampak ramuan kecubung sudah mulai ngangkat, napas seperti tidak sampai paru-paru. Dada ibarat tertindih gajah. Sadar tapi merasa tersiksa. Tapi itu juga sekaligus meningkatkan rasa religiusitas, haha.. Saking takutnya maka yang bisa dilakukan adalah berdoa, menyebut nama Tuhan. Proses ngangkat itu bertahan selama kira-kira setengah jam, kemudian plek! Kalau sudah plek, enggak ingat apa-apa wes. Proses plek ini seperti televisi lawas yang hidup lalu dimatikan. Mula-mula blur, lalu mulai gelap, begitu seterusnya hingga plek! Memori kosong. Ya gambaran paling mudah, seperti cara kerja tivi lawas kalau sudah dimatikan itu dah.

“Gejala dini sebelum ramuan kecubung benar-benar ngangkat adalah lolak-lolok.

“Memori muncul kembali ketika terbentur, tapi paling yang diingat cuma dua atau tiga detik saja. Selebihnya tidak ingat apa-apa. Apa yang kita perbuat selama ‘plek’ itu biasanya dituturkan oleh mereka yang sadar, ketika kita sudah siuman.

“Tidak bisa diingat kenapa terbentur dan mengapa harus terbentur. Imajinasi menguasai, sampai harus ada yang diikat sebab reaksi masing-masing orang berbeda.

“Kena air tidak sadar. Padahal orang pingsan saja kalau sudah kena air, biasanya sadar. Lha ini ndak ngefek blas.

“Kulit pucat agak kehijauan, ciri-ciri keracunan. Itulah! Prosesnya berat.

“Dulu minumnya—kopi campur kecubung—setelah maghrib, baru sadar besok paginya, tapi kesadaran masih ilang-ilangen. Semalam suntuk blank. Setelah sadar, dehidrasi. Badan capek semua, karena selama proses plek dan blank, kita jadi banyak tingkah, melakukan hal-hal yang ada di ruang imajinasi—atau lebih tepatnya halusinasi.

“Menurut yang saat itu sadar, ketika saya blank, saya senang mengukur. Seperti hiperaktif. Semuanya saya ukur, mulai meja hingga tepian tembok. Tangan seperti memegang meteran, padahal kosong. Saya tidak memegang apa-apa. Tubuh ini lepas dari kendali diri kita sendiri. Sampai ada juga teman yang dianggap gila sebab jalan-jalan keliling kampung cuma pakai celana dalam saja. Kakak kandungnya—perempuan—histeris dan teriak, ‘Adikku edaaaaan!’

“Ya macem-macem ceritanya. Bikin malu, haha..”

Masih menurut sumber yang sama, ketika sudah siuman, pandangan masih ngeblur. Tidak bisa membaca. Kalau dipaksakan untuk membaca satu halaman buku misalnya, semua terlihat blur. Huruf-huruf seperti berloncatan.

Bila membaca kisah di atas, pantas saja bila lelaki itu semalam berkata, tak ada yang dengan sukarela mabuk kecubung!

R.Z Hakim

Rakyat biasa. Mencintai istri, kopi, senja dan kenangan.