“Maafkan. Maafkan aku, Kopi!”

Pohon Kopi
Pohon Kopi © Nody Arizona

Pada pekan terakhir Oktober 2015, aku berjumpa Afrizal Malna. Sekujur tubuhnya tampak kuyu, seakan-akan tak terbilas air sungai pegunungan seumur hidup. Matanya memancar energi tak habis-habis sekaligus menahan lelah berkepanjangan. Ia baru datang dari Jerman. Pangkal lidahnya masih tersendat-sendat menikmati sebatang kretek; pada beberapa isapan, seperti ada adegan mengeluh yang gagal tumpah. Dan berubah menjadi percakapan tentang musim dan pergerakan organisme yang tersebab olehnya.

Kami berbincang sampai selepas azan Subuh. Ia masih mengemban tema-tema lama yang sudah kubaca dalam tulisan-tulisannya: tubuh—juga sederet catatan yang menjadikannya tak pernah berdaya menghadapi agresi kapitalisme, mutasi modernisme, dan tentu saja spiritualitas yang mencari-cari sebentuk kewajaran. Perlahan, aku teringat sebuah nasihat pembesar sastrawan Jawa, Sasmito Esmied—yang sampai kepadaku melalui putranya: “Oleh mabur sak adoh-adohe, ning ojok lali menclok!” (Boleh terbang sejauh-jauhnya, tapi jangan lupa hinggap!).

Dini hari itu, ketika hanya tersisa aku dan Afrizal, setelah ia bercerita mengenai trauma melihat ombak, putranya Jilan; untuk pertama kali, aku membacanya sebagai “seseorang”—dan bukan “teks”. Ada keheranan—biasanya kualami saat membaca puisi-puisinya—yang diam-diam berubah menjadi keterharuan. Aku kembali kepada dongeng-lama yang beberapa tahun lalu membuat tidurku kian menjauh dari lelap: “Benarkah, cetak-biru DNA adalah sebentuk surat wasiat yang tak sanggup kita tolak di luar rekayasa genetika? Darimana sesungguhnya kita memperoleh perasaan?”

Banyak hal menghantuiku. Salah satunya ketika aku bercerita tentang kelatahan orang-orang desa bertanam vertikulur, hidroponik, dan program penggalakan polybag. Afrizal menimpaliku, “Kita semakin dijauhkan dari tanah ya.” Ia segera kembali menuju realisme perkotaan, “Kita masih mengkonsumsi beras, tapi sudah tidak tahu lagi bentuk tanaman padi dan kenyataan-kenyataan seperti apa yang berlangsung di sawah-sawah.” Aku terlempar kembali kepada banyak hal yang entah mengapa merebut minatku untuk melamunkannya.

Aku mengingat sejumlah kalangan yang tak sanggup memahami demo buruh. Ketaksanggupan yang terus berulang. Mungkin, serupa itulah yang juga melandaku beberapa tahun silam, ketika aku masih bersinggungan dengan isu menolak gerakan anti-rokok. Aku hanya bekerja—dan kosong dari perasaan yang semestinya ada.

Aku dapat mengerti bagaimana gerakan anti-rokok mempertontonkan pertarungan perebutan modal melalui keterselubungannya; aku bisa memahami bagaimana pemilik pabrik rokok mencatatkan dirinya dalam deretan orang-orang terkaya di Indonesia dan banyak petani tembakau hidup dalam pertaruhan yang seringkali merugikan; tapi empatiku macet—meskipun aku telah berada di luar keraguan harus membela pihak yang mana. Di titik ini, kepercayaanku kepada buku dan bacaan lumpuh.

Mungkin, karena hal tersebutlah sejumlah kalangan dengan kepercayaan diri dan logika cukup runut justru gagal memasuki jerih payah para buruh: mereka, seperti juga aku, tidak tahu kenyataan-kenyataan seperti apa yang berlangsung dalam dunia pabrikan. Empati kita tidak bisa tumbuh hanya dengan mencintai produk-produk tanpa memahami bagaimana—kerumitan atau kebersahajaan, kesabaran atau pengorbanan, keluh atau syukur, yang terjadi dalam proses, peristiwa—ia, produk-produk itu, dilahirkan.

Dari sana, aku mendapatkan penjelasan kecil mengapa belakangan aku mengalami hubungan yang guncang dengan secangkir kopi. Setelah sebelumnya begitu terpesona pada bagaimana masyarakat kita mengubah ngopi menjadi “ngopi”, kini aku hadir dalam pengertian baru—memasuki biografi biji kopi: bahwa “ngopi” perlu dinetralisir dari fiksionalitas yang berlebihan tentangnya.

Sepenggal momen-puitik antara aku dan kopi segera kembali. Aku agak lupa, apakah dini hari yang hampir Subuh itu adalah awal atau akhir musim kemarau; desir angin menumbuhkan butiran di pori-pori kulit dan warung kopi langgananku sudah sangat sepi, hanya tinggal aku dan pemilik warung. Aku putuskan memesan secangkir kopi lagi, 10 menit setelah seduh terakhir; menemaninya membereskan cangkir-cangkir kotor, juga lantai yang penuh putung rokok dan plastik-plastik.

Kemudian, bau bunga kopi berantakan di udara. Warung kopi langgananku memang berada di dekat Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember; beberapa pohon kopi di tanam pada selajur pagar kawat. Semerbak wangi itu, membawaku pada masa kecil, ketika di belakang rumahku pohon kopi yang dibiar meninggi berbunga. Aku suka mengumpulkan bunga-bunganya dan kutaruh di bawah bantal nenekku; ia menyukai dan memiliki kebiasaan meletakkan bunga-bunga di bawah bantalnya. Ia senang sekali bila akulah yang melakukan kebiasaan itu untuknya. Dan aku akan mendapatkan pemberian uang jajan keesokan harinya.

Dalam ingatanku: sejak masih kanak, aku sudah terbiasa mencicipi kopi. Setiap pagi dan sore, di meja dapur selalu tersedia satu gelas besar kopi panas; tapi aku tak pernah merasa ia adalah minuman yang istimewa hingga aku remaja, sebelum aku bertemu teman-teman dekat dan mulai memiliki semacam visi-kecil dalam hidup. Aku tidak mencintai kopi sejak belia.

Tapi aku juga teringat kisah-kisah pahit; pada seseorang yang aku cintai dan mencintaiku yang pada akhirnya hanya menghasilkan kebisuan nyaris abadi, pada seseorang yang terasa menjadi mantan tanpa sempat aku pacari, pada teman-teman baik yang telah pergi, pula pada diriku sendiri yang tak juga merelakan semua itu. Lalu aku mendapat pengertian bahwa; mencintai sesungguhnya lunas dalam kesendirian. Seperti nenekku yang tetap mencuci pakaian kakekku secara rutin setelah puluhan tahun ia ditinggal pergi melalui kematian.

Sebelumnya, aku percaya: kenikmatan kopi hanya terjadi dalam kebersamaan, dalam percakapan yang tak usai-usai. Join kopi, kata Blackout—satu-satunya soundtrack kopi berbahasa Indonesia yang gampang aku sukai. Selain tentu saja, mulai membenci lagu-lagu dangdut tentang kopi yang belum juga bertaubat menuliskan lirik-liriknya. Mencintai sesuatu memang seringkali membuat kita merasa wajar membenci sesuatu yang lain, yang tidak sanggup menghormatinya.

Hingga suatu kali, aku menyaksikan seorang karib penggila Barcelona yang hanya menyaksikan “laga-laga besar” dan hanya dengan nobar. Juga seorang karib lain—interisti—yang merasa cukup mengikuti perkembangan liga dan timnya melalui portal berita olahraga, tanpa menontonnya. Tapi ada karib yang lain lagi, seorang Romanisti, yang terus setia menonton tim kesayangannya; tidak peduli nobar atau tak, tidak peduli Roma keok dan dipermalukan berkali-kali.

Sejak itu, segala kepercayaan yang kudapat dari kebersamaan rontok satu demi satu. Dan aku terus kembali pada semerbak wangi bunga kopi Subuh itu: hanya dalam kesendirian, ketulusan mencintai mendapat kesempatan membuktikan dirinya sendiri. Aku semakin terendam dalam melankolia yang hangat, kepahitan yang masokistik; dan tanpa sadar melakukan pemerkosaan pada kopi itu sendiri, “dosa-metafora”, atau sebentuk filosofi yang terlalu dibuat-buat. Seperti kekonyolan dalam lirik-lirik kopi di lagu dangdut.

Sampai akhirnya aku bertemu Bu Sukartik; dan aku merasa mendapat kesempatan membenahi fiksionalitas kopi yang cenderung berlebihan itu. Pagi itu, aku ada dalam keperluan wawancara untuk penulisan naskah drama—program album keluarga Dewan Kesenian Jakarta: tema seputar genosida ’65 yang harus aku bawa ke dalam konsep pemanggungan.

Aku tercengang, ketika ia melantunkan sebuah lagu tentang kopi: Semeriwing Kembang Kopi. Nada-Nadanya menggigil. Aku berada dalam tegangan antara wangi kopi subuh itu; kesunyian yang lahir dari nasib tragis—dan sebuah pintu untuk memasuki kenyataan-kenyataan seperti apa yang sebenarnya berlangsung di perkebunan-perkebunan kopi—di masa lalu dan masa kini yang terbentuk olehnya.

“Semeriwing Kembang Kopi” adalah lagu ciptaan M. Arief, seniman Lekra Banyuwangi yang cukup tersohor sebab “lagu-rakyat”-nya yang dipelintir orde baru jadi soundtrack sadisme para Gerwani; Genjer-Genjer. Seperti “Sekolah Ayo Sekolah”, lagunya yang lain, lagu ini juga cukup sering dibawakan oleh SRI MUDA (Seni Rakyat Indonesia muda)—bentukan M. Arief—terutama saat “turba” ke basis pekerja perkebunan.

M. Arief turut diringkus ketika gestapu dan gestok efeknya sampai di Banyuwangi. Sejak itu, keberadaannya tak jelas dan Arief tak pernah kembali. Menurut keterangan karibnya, Andang CY, ia “diselesaikan” (Baca: tulisan Aunurrahman Wibisono “Sebuah Senandung Pendustaan“).

Selepas tragedi berdarah ’65-’66, lagu-lagu M. Arief yang sebelumnya sering dinyanyikan, popularitasnya menyusut drastis. Orde Baru memang membersihkan segala yang nampak “merah” di Banyuwangi. Kemudian lahirlah generasi Catur Arum, ddk—yang lirik-liriknya cenderung erotik bercampur platonik (Baca: tulisan Dwi Pranoto “Dari M. Arief Sampai Catur Arum“). Alur kebudayaan seperti patah; M. Arief, sebagai salah satu ikon, generasi awal musik Banyuwangi modern menjadi lajur sejarah tanpa penerus. Sukar sekali menautkan musikalitas “kendang-kempul”—yang cenderung dangdut—dengan musik “Banyuwangi klasik” yang tidak hanya merakyat, tetapi juga magical dan multikulturistik.

Dalam Video itu, “Semeriwing Kembang Kopi” ditembangkan oleh Ibu Sukartik, anggota SRI MUDA saat itu. Ia turut merekam tragedi berdarah ’65. Perempuan yang masih tampak bugar itu, juga turut menyaksikan teman-temannya dibawa ke sebuah gudang bulog dan kemudian didengarnya runcing teriakan-teriakan. Dan ia hafal betul milik siapa jerit yang tengah melepas nyawa dari tubuh masing-masing itu.

Ia juga menyaksikan rumahnya dibakar, rumah-rumah lain dibakar, tetangganya yang tak tahu apa-apa kepalanya dipacul. Ia, tidak bisa tidak, teringat lagi kakaknya yang diseret sampai celananya melorot dengan darah yang terus mengalir, ketika melihat orang-orang memasang bendera setengah tiang. Ingatannya di luar kalender, tapi tepat memberi konteks politik atas kebiadaaban negara kepada rakyatnya sendiri.

Bu Sukartik kini berjualan mie-bungkus di pasar. Sudah lama tak mengingat-ngingat lagi kekejian yang dirangkumnya dalam kalimat-kalimat patah: “Hoalah Gusti, kok yo kari tego nong dulur dewek. Wis. Wis. Ojok maning-maning wis. Ojok Wis. Ojok!” (Hoalah Tuhan, kok ya sungguh tega sama saudara sendiri. Sudah. Sudah. Jangan ada lagi sudah. Jangan sudah. Jangan!).

Berikut lirik lagu “Semeriwing Kembang Kopi” yang aku terjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan nalar puitik. Dan bukan lirik lagu. Dalam bahasa asli, ada kata-kata yang kurang mampu aku tangkap dengan baik. Mohon dikoreksi bila dari teman-teman ada yang tahu; sebab lagu ini (justru) populer dalam acara tayuban di Jawa Timur bagian barat. Sayang, taste Banyuwangen-nya nyaris terendam dalam notasi khas Jawa Mataraman.

 

Semeriwing Kembang Kopi

    Semeriwing…
Kari wangi kembange kopi
Rentep turut gagang, benceret
Koyo seloko; godonge ijo, ngawe-awe
Nang kangarepi—podo ayem tentrem,
Kopi ngembang, ning ati lego

    Kopi ngembang,
Tandane wis meh metu uwohe
Setaun sepisan, panen kopi biasae
Uwohe ngerintip, abang-ijo dompolane
Ono kang nong lemah, tai luwak
    Iku arane…

    Esuk-Esuk,
Runtung-Runtung nggowo timbo
Podo ngondo kopi, iku minengko wadahe
Sebrat-Sebrut, akeh-akehan ulihe
Sarto wis soren, podo moro
    Ning penimbange

    Seneng-Seneng…
Podo ngitung bayarane

    ***

    Semilir harum…
Sungguh wangi si bunga kopi
Berjejal pada selajur dahan, tiap deret
Bagai mutiara; daunnya hijau, menggapai-nggapai
Pengharapan—tenang bersama tentram
Kopi berbunga, hati berpunya lega

    Kopi berbunga,
Pertanda t’lah hampir berbuah
Setahun sekali, panen kopi biasanya
Buah berjejal, merah-hijau bergerombol
Ada yang tergeletak di tanah; tai luwak
    Disebutnya

    Pagi-Pagi…
Beriringan membawa timba
Sama berpetik kopi, timba dibuat tadahnya
Cabat-Cabut, banyak-banyakan hasilnya
Bila sore tiba, sama berdatangan
    Ke penimbangan

    Bersuka-citalah…
Berhitung-Hitung upahnya

Tak ada yang terasa menyedihkan dari larik-larik itu; hanya susunan panorama bergerak—tapi notasinya menjerat. Seperti ruang kosong yang diperas; memberi hawa dingin yang membuat denyut jantungku meringkuk di luar tubuh. Aku bisa merasakan kesedihan sekaligus kegembiraan, kebersamaan sekaligus kesendirian yang pekat, sama mendapat tempat di dalamnya.

Aku curiga, jangan-jangan, M. Arief menciptakan lagu itu pada saat subuh mendekat, ketika semerbak wangi bunga kopi mengalir kepada ulu hatinya; lantas menulis suasana kebun kopi. Tipikal notasinya yang melankolia dan telah terlihat dari lagu-lagunya sejak zaman jepang, memperdengarkan empati yang bangkit kepada “yang lain”, sesama—meski untuk konteks kita, bila hanya dengan didengarkan; terasa tak pernah cukup.

Mungkin memang benar kata Afrizal, kita butuh (ke sawah, ke pabrik-pabrik), ke perkebunan; agar tidak gampangan menjebak kopi ke dalam puisi, melankolia kacangan, atau kebersamaan a-historis nan tanpa visi, groupis tanpa jerih payah, atau petualangan dengan slogan murahan semacam My Trip, My Adventure.

Sebagai orang yang juga turut menghubung-hubungkan kopi dengan “rindu dan kamu”, aku ingin berucap kalimat yang amat terlambat—hampir 10 tahun dari kisah cintaku dan kopi yang palsu: “Maafkan. Maafkan aku, Kopi!” Betapa pun, kopi punya sejarah sendiri dan kenyataan-kenyataan lain di sebelum ia hadir dalam cangkir yang perlu diketahui, kecuali bila kita hanya sedang berpura-pura mencintai kopi.

Sebab itu, mencintai kopi tak cukup hanya dengan rutin duduk-duduk di kafe dan kemudian, Klik: Selfie!

Halim Bahriz

Pegiat Kelompok Tikungan Jember. Mantan penggila humor yang kini mencintai kisah-kisah tragis.