Luwak

Saya sering mendapat kiriman dari produsen maupun bagian pemasaran kopi luwak untuk diminta masukan dan testimoni. Saya juga sering mendengar komplain konsumen yang menyatakan bahwa mereka tertipu karena kopi luwak yang mereka minum tidak lezat dan tak sesuai dengan harganya yang mahal. Atas dasar kedua hal tersebut, saya membuat catatan sederhana yang semoga mudah dipahami tentang kopi luwak.

Pertama yang harus dipahami, dalam perdagangan kopi, kopi luwak itu masuk dalam kategori “kopi unik”. Komoditas ini pertama dinilai dari uniknya, baru kemudian citarasanya. Di dunia kopi, ada beberapa kopi unik selain kopi luwak: kopi gajah dan kopi kalong. Ada juga kopi unik lain: kopi lanang, kopi liberika, kopi exelsa. Kopi lanang digolongkan ke kopi unik karena persentasenya yang sangat sedikit dalam satu pohon kopi. Sementara kopi liberika dan exelsa masuk ke kategori unik karena produsen kedua jenis kopi ini makin menurun dan makin jarang.

Kedua, kopi unik tidak ada hubungannya dengan kopi berkulitas. Sebelum saya jelaskan lebih jauh, sebaiknya dibedakan antara “kopi berkualitas” dengan “kopi enak”. Kualitas merujuk pada variabel-variabel yang disepakati dalam perdagangan kopi internasional, mulai dari budidaya, panen, pengeringan, pengepakan, aroma, rasa, pascarasa (after taste), tingkat kecacatan, dan lain-lain (setidaknya ada 60 item di blangko yang harus kita isi untuk menentukan kualitas kopi).

Sementara “kopi enak” lebih ke preferensi individu yang terkait dengan kebiasaan. Misalnya ada kopi toraja yang harganya sekilo 150 ribu. Lalu ada kopi, katakanlah Kapal Api yang sekilo harganya 50 ribu. Harga 150 dan 50 ribu merujuk pada kualitas. Tapi kalau soal suka atau tidak, banyak teman saya yang lebih memilih atau lebih suka minum kopi Kapal Api daripada kopi toraja. Dan hal tersebut tidak bisa disalahkan. Yang keliru adalah ketika Anda beli kopi yang mestinya seharga 50 ribu dengan harga 150 ribu.

Nah dalam konteks kopi unik, harga tidak bisa jadi patokan. Manasuka. Karena tidak masuk dalam kategori yang disepakati oleh multipihak perdagangan kopi.

Kopi Luwak
Kopi luwak liberika. Sangrai: medium. Asal: Jambi. Identitas: koleksi sendiri. Dobel unik ya… sudah liberika, luwak pula. Haha… © Puthut EA

Ketiga, apakah kopi unik lebih berkualitas dari kopi lain? Jawabannya: tidak. Berikut paparannya. Kita tahu bahwa kopi arabika lebih mahal dari kopi robusta. Kenapa? Karena citarasa arabika lebih kaya, dan ekstrak kopi (espresso) arabika-lah yang bisa untuk membuat inti minuman turunan seperti coffee latte dan cuppucino. Kopi robusta tidak punya kekayaan rasa seperti arabika. Nanti secara khusus akan saya jelaskan soal kopi robusta dan perkembangannya. Jika sempat.

Kalau kopi yang dimakan oleh luwak adalah kopi robusta, jelas secara kualitas tidak akan mungkin mengalahkan kopi arabika non-luwak. Jadi kalau Anda biasa minum kopi arabika, ya insyaallah Anda akan bilang kopi arabika biasa jauh lebih enak daripada kopi luwak robusta. Kecuali kalau Anda minum kopi luwak dari hasil luwak yang memakan kopi arabika.

Hal lain, Anda perlu tahu bahwa kopi itu punya daya serap lingkungan yang tinggi. Maka kalau Anda ingin menghilangkan bau penguk atau tidak enak di ruangan, cukup kasih kopi bubuk atau biji di ruanga tersebut. Itu juga yang menjelaskan kenapa di toko parfum disediakan gelas-gelas kecil berisi biji-biji kopi. Karena ketika Anda membaui parfum, lalu harus mencoba yang lain, hidung Anda ‘dinetralkan’ dulu oleh kopi.

Daya serap lingkungan ini terutama dimiliki oleh jenis arabika. Maka, citarasanya sangat kaya. Kalau Anda belajar kopi arabika akan kenal beberapa istilah ini: fruity, nutty, lemony, dan banyak lagi yang lain.

Daya serap ini pula yang bisa menimbulkan kecacatan kopi, misalnya earthy, baggy, woody, dan lain-lain. Jadi ada kopi yang cacat karena salah simpan, salah pengepakan, dan lain-lain.

Apa hubungannya dengan kopi luwak? Luwak itu kalau buang kotoran di tanah. Kalau terlalu lama kena tanah, maka pasti kopi akan punya cacat “bau tanah” (earthy). Maka kalau ada yang bilang kopi luwak liar, jangan dulu bangga. Punyakah produsennya mekanisme untuk mengontrol selama apa kopi tersebut kena tanah?

Lalu dari sekian contoh kopi luwak yang pernah saya cicip, selain cacat bau tanah kebanyakan juga punya persoalan dalam penyangraian. Proses sangrai adalah proses yang sangat penting. Saking pentingnya, dunia dibelah jadi 3 mazab sangrai kopi. Kali lain saya jelaskan soal sangrai. Kalau sempat.

Untuk sementara itu dulu ya. Intinya jangan ragu untuk bilang kopi luwak yang Anda sruput rasanya tidak enak hanya karena Anda malu dan terlihat “tidak berbudaya”. Banyak banget kok kopi luwak yang tidak enak dan tidak berkualitas.

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • Wah ini nih penasaran berkelanjutan secara ada frasa ‘kalau sempat’ kkkk… tapi ulasannya informatif, menggelitik, dan (kalau sempat) pengen coba-coba praktekin.

  • Wah, senang sekali membaca ini. terima kasih sudah berbagi. ya, saya sudah pernah minum kopi luwak dari berbagai sudut; dari beli di kafe, dari kemasan lokal tanpa merek, dari mengolah biji sendiri, sedari lengkap dengan kotoran hingga selesai ditumbuk. Rasanya, ya, itu tadi: macam-macam dan rata-rata punya unsur keasaman yang lebih menonjol daripada yang lain. Mungkin semua yang saya minum itu robusta, ya

  • Saya mesem-mesem baca tulisan ini karena telah merasakan hal yang serupa. Kerapkali, obyektivitas orang terkunci dengan kemasyhuran kopi luwak hingga menimbulkan ekspektasi berlebih, dan lantas merasa kurang enak hati kalau sampai menodai “nama baik” kopi luwak dengan testimoni yang sejujur-jujur hati. Jadi seolah ada usaha untuk menggadang-gadang nama kopi luwak hanya lantaran kopi ybs adalah “identitas bangsa”. Seolah nama kopi luwak sebagai sebuah “ikon kultural” tidak boleh cacat.

    Pengalaman saya pribadi, saya pernah minum kopi luwak yang harga per kilonya jutaan Rupiah. Saya ndak tau apa memang kopi luwak ndak boleh dibuat dengan cara tubruk, karena yang saya minum itu, kok rasanya lumayan jauh di bawah kopi yang harganya cuma Rp. 400 ribu per kilo. Baik dari rasa, aroma, pun kekentalannya. Ini tentu pengalaman saya pribadi dan sungguh saya tak ada niat untuk merusak pasaran kopi luwak dengan cerita saya. Hanya, alangkah baiknya jika ada — katakanlah — semacam titik temu antara popularitas kopi luwak dengan berterimanya ia di lidah para penikmatnya, yang seharusnya dapat dibahasakan secara obyektif terlepas dari “hukum” yang seolah sahih; “makin mahal makin enak.”

    Terima kasih untuk tulisannya, Mas.