Lezatnya Semangkuk Burcik H.R. Sulaeman

Pelayan Bubur Cikini Meracik Pesanan Pengunjung
Pelayan Bubur Cikini Meracik Pesanan Pengunjung | © Satrio Sarwo Trengginas

Langit saat itu terlihat kelam, menjanjikan hujan deras. Sebelum hujan hendak mengguyur jalanan Cikini raya, tetiba uap panas meluap keluar dari sebuah dandang besar di kedai Burcik, H.R Sulaeman. Tutup dandang yang baru terbuka itu mengeluarkan uap panas membelah keremangan senja. Mengalihkan sejenak perhatian para pengendara kala di jalan raya. Mangkuk-mangkuk berjejer terisi bubur dengan suwiran ayam, cakwe dan emping goreng tersaji manis di permukaan disertai uap panas yang mengepul, menggugah selera untuk segera disantap. Benar-benar mengundang pengunjung untuk singgah begitu melihatnya, tak terkecuali saya.

Bubur ayam yang masih panas itu telah tersaji di meja-meja pengunjung. Terlihat ingar bingar pengunjung di kedai Burcik. Sanak famili, kerabat terdekat hingga orang-orang sehabis pulang kantor berkumpul untuk melahap santapan hangat itu begitu hujan turun membasahi bilangan Cikini Raya.

Tampilan burcik memang terlihat berbeda dari tampilan bubur ayam kaki lima pada umumnya. Kuah kaldu atau kari terlihat tidak menggenangi permukaan bubur. Kecap manis pun tak nampak mencorat-coret suwiran ayam, cakwe dan emping goreng. Tak ada sate jeroan dan telur puyuh yang menghiasi etalase warung. Persis layaknya racikan bubur ayam ala negeri tirai bambu. Yang membuat khas dari burcik ini ialah kuning telur ayam kampung yang dibenamkan di dalam bubur panas. Sebelum disantap, kita bisa mengatur kadar kematangan kuning telur itu. Jika didiamkan agak lama, kuning telur itu akan berubah menjadi setengah matang. Jika anda lebih menyukai makan bubur yang langsung segera diaduk, warna bubur pun berubah menjadi kekuning-kuningan.

Bubur Cikini H.R. Sulaeman
Bubur Cikini H.R. Sulaeman | © Satrio Sarwo Trengginas
Hiburan para Pengunjung Bubur Cikini
Hiburan para Pengunjung Bubur Cikini | © Satrio Sarwo Trengginas

Merasakan bubur cikini yang dicampur dengan kuning telur ayam kampung tidak membuat perut merasa enek dan mual. Uniknya, aroma amis kuning telur tak membuat hidung kita kembang kempis. Aroma wangi jahe yang teracik saat memasak bubur mengalahkan bau amis pada kuning telur yang baru dibenamkan ke dalam bubur itu. Di setiap meja-meja pembeli terdapat botol-botol kecil kecap asin dan lada. Pembeli bisa sesuka hati menambahkan kecap asin pada Burcik untuk memantapkan rasa. Bubur cikini terasa hambar apabila tidak ditambahkan kecap asin. Sembari kita menyantap seporsi burcik, alunan petikan ukulele pengamen jalanan tak lupa mengiringi para pembeli mendulang sendok demi sendok bubur ke dalam perut yang ingin dihangatkan. Lekker!

Selain itu, menu makanan lain yang disajikan di kedai HR Sulaeman tak kalah lezatnya. Setelah menikmati bubur ayam, cobalah menu martabaknya sebagai penutup. Menyantap martabak dengan dua butir telur bebek saja sudah terbilang lebar saat disajikan di meja kita. Pastinya, martabak itu memastikan rasa lapar dalam perut benar-benar terusir saat kita akan menuju singgasana peristirahatan untuk kembali berangkat kantor keesokan harinya.

Burcik H.R Sulaeman terletak di jalan Cikini raya, berseberangan dengan Stasiun Cikini atau terletak di depan Pasar Cikini. Nama kondang Burcik telah tersemat lama di kedai itu sejak dulu. Bubur ayam ini sudah lama berdiam di jalan Cikini Raya, tepatnya pada tahun 80-an. Kedai Bubur Cikini H.R Sulaeman telah melekat di benak generasi di era 80-an. Jika orang tuamu kerap menyambangi daerah Cikini, pasti tak asing mendengar tempat makan ini yang telah tersohor hingga kini. Selamat Mencoba!

Satrio Sarwo Trengginas

Penikmat Kehidupan


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405