Sold!”

Nongkrong di Lelang Kopi Spesial Indonesia (LKSI) II
Indonesia Specialty Coffee Auction
Lelang Kopi Spesial Indonesia II

Minggu, 14 Oktober 2012, adalah saat-saat mendebarkan bagi beberapa produsen, distributor, dan penikmat kopi spesial (specialty coffee). Pasalnya, hari itu adalah puncak dari gelaran acara Lelang Kopi Spesial Indonesia (LKSI) II di House of Sampoerna, Surabaya, yang diadakan oleh Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI).

Saya beruntung bisa masuk ke dalam ruang lelang. Awalnya, dua orang penjaga keamanan agak bertele-tele menanyai dan sempat melarang saya masuk. Tapi tak lama, saya bisa masuk. Setelah mengisi daftar hadir, nampak seruang yang penuh dengan makanan dan minuman namun lengang. Sepertinya acara makan siang baru berakhir. Saya terus masuk.

Ada dua ruangan lagi di dalam. Setelah saya amati, ruang yang pertama saya masuki adalah ruang lelang. Paling depan terdapat banner dan tajuk acara ini, beserta sederet sponsor yang mendukung. Di belakangnya ada kursi sofa panjang dan disusul kursi-kursi tunggal. Paling tidak ada 10 deret kursi tunggal yang disusun berjajar hingga terus ke belakang.

Ruang yang paling belakang adalah ruang pengujian dan penilaian biji kopi yang akan dilelang. Nampak di ruang belakang ada 4 buah meja yang dibentuk kotak. Di atasnya ada belasan piring berisi berbagai jenis biji kopi dan puluhan gelas yang telah berisi kopi.

Di ruang sempit di sela meja yang tersusun kotak, ada beberapa orang barista yang sibuk meracik kopi, lalu menyajikannya kepada peserta lelang dan penonton yang ingin mencicipi. Saya beruntung lagi, bisa mendapat salah satu cup varian jenis Luwak Arabika yang tak sempat saya lihat berasal dari daerah mana.

Suasana riuh sekali di ruangan ini. Orang-orang terus berseliweran keluar-masuk dari ruangan lelang ke ruangan pengujian. Ini membuat panitia kewalahan. Akhirnya, panitia membikin garis batas dan tak memperbolehkan orang masuk ke dalam ruang pengujian ketika lelang akan dimulai. Acara pun molor sekitar 40an menit dari jadwal. Mestinya jam 13.00 lelang sudah mulai dibuka.

* * *

Sebelumnya, selama dua hari berturut-turut ragam kopi yang masuk mengikuti lelang telah melewati serangkaian tahap cupping score. Yakni proses pengujian dan penilaian terhadap cita rasa kopi. Cupping score yang dilakukan itu sendiri mengikuti standar dari CQI (Coffee Quality Institute) dan SCAA (Specialty Coffee Association of America). Sedangkan penilainya adalah juri kenamaan dari berbagai negara, seperti Indonesia, Korea, Taiwan, Meksiko, dll. Salah satu yang menjadi juri adalah nama besar di soal per-kopi-an Indonesia: Surip Mawardi.

Karena beragamnya jenis kopi yang masuk, maka ada dua jenis penilaian yang dilakukan. Yakni Q Grading (untuk Arabika dan Luwak Arabika) dan R Grading (Robusta dan Luwak Robusta). Setiap penilaian juga dicek oleh para peneliti dari Pusat Penelitan Kopi dan Kakao (Puslit Koka).

Setelah menjalani serangkaian proses tersebut, maka ada 2 varian jenis Robusta, 8 varian untuk jenis Kopi Luwak (7 Luwak Arabika dan 1 Robusta), dan 13 varian untuk Arabika. Seperti namanya, kopi spesial, kesemua varian tersebut tidak ada yang mengalami cacat primer dan dipastikan memiliki kualitas prima.

Acara lelang diadakan di salah satu bagian dari kafe House of Sampoerna. Ruang berukuran sekira 3×6 meter, terlihat tak cukup mampu menampung khalayak yang ingin menyaksikan lelang. Bahkan, beberapa para calon pembeli (bidder) juga tak menemukan tempat duduk. Hingga harus berdiri di ruang pengujian yang terletak di sebelah ruang lelang.

Lelang dilakukan dalam dwi-bahasa. MC utama ditemani penerjemah yang dengan lancar ikut membangun suasana. Maka tak ayal, sekalipun harus sedikit berdesakan, lelang berlangsung sangat meriah. Applause, gelak tawa, dan ger-geran seringkali muncul dari peserta dan penonton lelang. Terutama ketika MC menggoda para bidder untuk terus menaikkan tawarannya. Lebih-lebih ketika kopi yang ditawarkan terjual.

Air Conditioner dan beberapa jenis minuman dingin yang tersedia di ruang sebelah nampaknya tidak mampu menahan ‘suhu panas’ di dalam ruang lelang. Beberapa kali para bidder tegang dan pucat ketika bidder lainnya mengangkat selembar kertas karton bertuliskan nomor urut mereka, yang artinya mereka menaikkan tawaran.

Para penonton di sisi kanan dan kiri bidder juga ikut mengompori sambil sesekali berbisik-bisik, menerka siapa yang akan berani menawarkan harga lebih tinggi. Setiap bidder membawa serta beberapa orang di sebelahnya, untuk membantu mereka mengalkulasi harga dengan cepat. Situasi di ruangan itu teraduk-aduk sedemikian rupa. Dan semua orang kembali bersama-sama tepuk tangan kencang ketika MC dengan lantang mengucapkan, “Sold!”

* * *

Robusta on Auction
Kopi Robusta di Indonesia Specialty Coffee Auction
Scoring Room
Scoring Room

Lelang berlangsung dalam dua tahap, lelang tertutup dan terbuka. Lelang tertutup dilakukan diantara para bidder beserta juri yang memberi skor pada kopi-kopi yang akan ditawarkan. Lelang tertutup ini berguna untuk mematok harga terendah yang digunakan ketika lelang terbuka.

Lelang terbuka ini menggunakan sistem top-down. Artinya, kopi dengan skor tertinggi akan ditawarkan terlebih dahulu. Alasan panitia yang dilontarkan menggunakan mekanisme ini cukup seru, “Agar kalian (bidder) tak ragu-ragu untuk mengeluarkan uang, menunggu kopi dengan kualitas terbaik ditawarkan.”

Lelang terbuka dimulai dengan kopi Robusta terlebih dahulu. Kopi Robusta terbaik yang ada di lelang waktu itu varian Robusta Malang/Blitar, dengan cupping score 80.25. Pohon kopi ini ditanam di ketinggian 700-800 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan menggunakan proses basah (wet process). Sedangkan jumlah ditawarkan sebanyak 600 kg. Terjual dengan harga $7 per kilogramnya. Dengan kurs sekitar Rp 9.500 per US$, Robusta ini laku dengan harga Rp 66.500,-/kg. Harga yang mengagumkan.

Lalu disusul dengan Robusta Jember. Tanpa mengalami perlawanan berarti, seorang bidder membawa pulang kopi ini $5.50/kg. Total, bidder tersebut membawa pulang satu ton kopi ini dengan nilai sekitar Rp 52 juta.

Akhirnya yang dinanti-nanti tiba. Lelang Kopi Luwak dimulai.

* * *

Kopi Luwak terbaik waktu itu memiliki skor sebesar 86.04. Kopi Luwak ini berasal dari Gunung Kaba, yang sebagian wilayahnya berada di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Setelah panen, diberikan kepada Luwak yang telah disangkar terlebih dahulu.

Luwak Arabika terbaik di acara ini dibuka dengan harga $20/kg. Stok yang tersedia di lelang ini hanya 25 kg saja. MC terus mengompori para peserta lelang untuk terus menaikkan tawaran. Sambil terus bercuap tentang kenikmatan kopi ini, duo MC menggenjot penonton untuk menyemangati para bidder. Proses lelang untuk kopi Luwak Bengkulu ini termasuk yang paling lama. Hanya ada dua bidder yang terus berkejaran memberi tawaran.

Nilai lelang berhenti di harga $95 untuk setiap kilogramnya. Fantastis, tapi tak mengherankan. Karena seperti biasa, untuk Kopi Luwak yang mengesankan, harga memang berada di kisaran satu juta rupiah.

Seorang bidder dari Korea Selatan akhirnya mengkhiri sesi yang seru ini ketika menaikkan tawaran sampai $100/kg. Beberapa peserta lainnya tampak menggeleng-gelengkan kepala. Tak lama, setelah 3 kali menawarkan kepada para bidder lain dan menunggu respon, MC pun dengan senyum merekah berkata lantang, “Sold!” Harga Rp 950.000,- per kilogram untuk kopi Luwak terbaik di lelang yang melalui proses pengeringan alami ini.

Before The Auction
Before The Auction
Auction Moment
Auction Moment

Lelang berlanjut. Ada tiga jenis Luwak Arabika yang laku dengan harga yang sama, $70 per kilonya. Ini dimungkinan terjadi karena cupping score ketiganya yang hanya terpaut tak lebih dari nol koma empat, yakni 84.06, 84.04, dan 84.02.

Luwak Arabika tersebut secara berurutan berasal dari Gayo yang ditanam di ketinggian 1300 mdpl. Hasil fermentasi di dalam perut Luwak liar di wilayah ini menghasilkan 25 kg yang akhirnya menjadi bernilai Rp 16 juta lebih.

Berikutnya adalah 15 kg biji kopi yang dipanen di daerah Pegasing, Aceh Tengah (1300-1500 mdpl). Terakhir adalah 15 kg yang dipetik dari pohon-pohon kopi di wilayah Sumatera Barat dengan ketinggian sekira 1400-1500 mdpl. Ada Dua yang disebut terakhir diproduksi oleh Maharaja Coffee and Tools.

Para peserta makin bersemangat setelah penawaran untuk jenis Luwak Robusta dibuka. Hanya tersedia 15 kg untuk satu-satunya varian kopi Luwak Robusta di lelang kali ini. Biji kopi yang dipanen pada Agustus tahun ini dari pepohonan di wilayah Bengkulu, yang memiliki ketinggian antara 600-700 mdpl. Setelah itu melalui proses di perut Luwak liar dan dikeringkan secara alami. Lelang dibuka dengan harga $5 dan laku $65/kg. Riuh tepuk tangan MC, peserta, dan penonton kembali terdengar di ruang tengah Kafe House of Sampoerna.

* * *

Setelah semua varian Luwak laku bersih, dimulailah jenis Arabika. Nampaknya, ini pula yang dinantikan oleh para bidder. Wajah-wajah mereka lelah, namun terlihat jelas bersemangat. Siapa pula tak ingin memiliki kopi jenis Arabika yang lahir dari tanah Indonesia?

Varian pertama sekaligus terbaik adalah Arabika dari Pulau Sulawesi. Wajar kiranya jika varian ini mendapat cupping score sebesar 86.29. Ditanam di ketinggian sekitar 1900 mdpl di tanah yang telah lama tenar sebagai penghasil kopi berkualitas, Toraja. Biji kopi ini juga telah melalui proses semi-basah (semi-wash) dan diperlakukan sedemikian rupa oleh kelompok-kelompok tani yang telah berkoordinasi sehingga menjadi biji kopi berkualitas prima.

Maka tak mengherankan ketika para bidder sudah bersaing keras di lelang tertutup. Hal ini tercermin dari penawaran harga pertama ketika lelang terbuka yang mencapai $26/kg. Bahkan, ketika pertama dibuka, Luwak Arabika Bengkulu saja tak sanggup mencapai level harga ini.

Varian kopi ini juga termasuk paling alot. Ada 3 orang peserta lelang yang terus berkejaran menawarkan harga. MC terus menggoda semua bidder untuk menaikkan tawaran. Seorang peserta asal Indonesia kemudian mematok harga $45/kg, yang tidak mampu disaingi oleh para bidder lainnya. Ketika 3 kali MC menawarkan harga di atasnya tak mendapat respon para peserta lain, Arabika Toraja ini secara resmi bernilai lebih sekitar Rp 430.000,- per kg atau di atas Rp 250 juta untuk semuanya.

Berikutnya adalah Arabika dari Aceh Tengah yang dipetik dari ketinggian 1600 mdpl. Dengan pengolahan semi-wash, didapat sebanyak 600 kg biji kopi yang menghasilkan harga dari lelang tertutup sebesar $10, dan laku dengan harga yang melesat 100%: $20.

Kemudian biji kopi dari Malabar, Jawa Barat, juga ikut tampil. Ia dihajar oleh bidder dengan harga $15/kg atau sekitar Rp 142.000,-/kg. Kopi ini juga diambil dari kelompok tani yang menanam kopi mereka di ketinggian hingga 1700an meter. Lalu diolah dengan proses basah (wet processing).

Setelah seluruh varian jenis Arabika laku, acara pun ditutup. Tampak beberapa wajah sumringah karena berhasil mendapat kopi incarannya, dan beberapa yang lain agak sendu karena tak punya cukup nyali (dan uang) untuk menggasak yang mereka inginkan.

* * *

Di penghujung acara, saya dan beberapa orang merasa gerah berada di dalam ruangan. Kami lalu keluar dan merokok di jejeran kursi yang disediakan di depan Kafe House of Sampoerna.

Kebetulan pula waktu itu saya bersama para pecinta kopi lain. Ada Willy Lennon (seorang Barista yang sebelumnya telah saya tulis di Bersatu Kita Ngopi!) dan Erwin Gayo, seorang distributor dan pemilik kedai kopi bernama Kupi Gayo di Bandung.

Tak lama setelah kami duduk, Edi Kendi, yang diutus para petani Toraja untuk pergi ke Surabaya, juga ikut duduk dan menyalakan rokoknya. Ia sendiri datang dan melihat langsung bagaimana kopi hasil panen mereka dilelang. Kami semua yang ada di situ lantas mengucapkan selamat kepada Edi karena biji kopinya laku dengan harga yang sangat baik.

Kami lalu terbawa ke pembicaraan yang asyik.

Bicara soal biji kopinya yang mendapat nilai tertinggi, Edi menuturkan bahwa yang mengolah adalah kolektif petani, jumlahnya pun tergolong raksasa. “Kami berjumlah 1539 orang, yang terhimpun dalam 39 kelompok tani,” ujarnya sambil tersenyum. Akhirnya, didapatkanlah 600 kg biji kopi Arabika Toraja spesial.

Barangkali, aspek penting lain yang bisa didapat dalam lelang kopi ini adalah terbentuknya hubungan langsung antara pembeli dan petani. Tak melulu terkait dengan aspek ekonomi. Yaitu perbaikan harga kopi seperti yang diharapkan panitia, melainkan juga aspek-aspek manusiawi lain yang tak bisa diduga. Seperti salah satu contoh yang terjadi di acara ini. Bagi saya pribadi, ini adalah momen mengharukan.

Itu terjadi karena ‘ulah’ seorang bidder asal Korea Selatan yang mendominasi lelang. Ia memeluk dan mengangkat tinggi-tinggi seorang ibu perwakilan kelompok petani kopi, setelah berhasil memenangkan kopi yang ia incar.

Ibu tersebut berasal dari wilayah penghasil kopi di Aceh Tengah. Ia memakai jilbab, bertubuh mungil, dan wajahnya teduh. Sontak saja, waktu itu MC dan seluruh penonton kaget dengan tindakan spontan bidder tersebut. Selang beberapa detik, applause dan tawa dari semua penonton mendarat ke bidder dan ibu itu.

* * *

Saat hari mulai beranjak sore, Edi pamit masuk ke dalam ruang lelang lagi. Bungkus rokok saya sudah kosong melompong. Saya berpamitan kepada orang-orang yang masih nongkrong di sana lalu beranjak pergi.

Di jalan menuju tempat parkir kendaraan, sambil terus tersenyum, masih jelas teringat kalimat penggoda yang rajin dilontarkan MC,

Setiap cerita yang ada di balik biji kopi berkualitas selalu mampu menaikkan harga kopi tersebut. Galilah kisah kopi yang akan Anda jual dan sebarkan cerita itu kepada konsumen.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.