Lelaki Tua dan Kopi: Kisah Pak Ajis di Lereng Gunung Gending

Melaju dari Kabupaten Bondowoso, sejam kemudian Tim Ekspedisi Kopi Miko sudah meliuk-liuk di jalanan menanjak dan berkelok di Alas Gumitir, perbatasan Jember-Banyuwangi. Di sepanjang perjalanan itu, di kiri dan kanan, tampak pohon-pohon kopi berbuah merah.

Kami meluncur di jalanan menurun, mengarahkan motor menuju sebuah dusun di tepi terowongan kereta api di Kecamatan Kalibaru. Mengamati terowongan kereta yang unik karena tampak atap lengkung terowongan yang dibangun 1901-1910 menjadi tempat kebun pohon kopi tumbuh subur. Ujung terowongan kereta ini berada di bawah kaki Gunung Gending. Persisnya di Dusun Kedawu, Kalibaru Manis, Kalibaru, Banyuwangi.

Ketika perjalanan mengamati terowongan dan kebun kopi, tim berpapasan dan bercakap dengan salah satu warga dusun yang memiliki kebun kopi di atas terowongan itu. Pak Ajis (70) namanya. Ia menyaksikan ketertarikan kami terhadap tanaman kopi di Alas Gumitir dan membuatnya mulai berkisah. “Dulu ribuan yang datang ke hutan, semua mengambil kayu. Asalnya dari mana-mana tapi bukan orang sini. Siang dan malam, mesin gergaji tak pernah berhenti. Pohon bendo besar-besar habis, sudah tak ada lagi.” Panjang lebar ia bercerita tentang penjarahan kayu di Alas Gumitir.

Pak Ajis, petani kopi di lereng Gunung Gending
Pak Ajis, petani kopi di lereng Gunung Gending | © Ananda Firman J
Pohon kopi milik Pak Ajis. Ditanam di atas terowongan kereta api.
Pohon kopi milik Pak Ajis. Ditanam di atas terowongan kereta api. | © Ananda Firman J

Pak Ajis juga bercerita tentang awal kedatangannya di dusun ini. “Hanya ada 4 rumah ketika saya datang ke sini,” ujarnya. Semua sesepuh di dusun ini dulunya adalah buruh harian di PTPN Kali Mrawan. Pak Ajis sendiri merantau dari Jember ke dusun ini pada 1970. Seperti yang lain Pak Ajis datang sebagai buruh di perkebunan kopi.

“Hidup di sini dulu berat. Kadang hanya bisa makan jagung tiap hari, tak seperti sejak zaman Gus Dur sampai sekarang,” katanya.

Ia melanjutkan cerita, “ketika zaman Presiden Soeharto di dusun ini banyak yang sudah menanam kopi di tengah hutan tapi kemudian didatangi banyak tentara. Mereka membabat habis kopi-kopi rakyat.”

Di masa jelang berakhirnya Orba hingga pemerintahan Gus Dur itu terjadi kerusuhan, di mana banyak rakyat yang kehilangan pekerjaan dan menghadapi kenaikan harga-harga yang drastis. Banyak orang akhirnya mencari jalan pintas untuk bertahan hidup yakni dengan menjarah hujan juga buah-buah kopi yang dibudidayakan oleh perusahaan perkebunan. Tetapi pria yang bernama asli Busroh ini, trauma dengan apa yang dilakukan tentara terhadap kebun-kebun kopi. Ia absen dalam penjarahan itu.

Namun, perubahan zaman itu mengantarkannya menjadi salah satu petani kopi di lahan Perhutani. Tetapi keberanian itu muncul setelah diyakinkan oleh banyak tetangga yang mengatakan zaman sudah aman dan boleh menanam kopi di lahan Perhutani.

Sedikit-sedikit menganti lahan kopi yang ditinggalkan oleh pemilik sebelumnya, kini kebunnya lebih dari dua hektar luasnya. Sebagai sewa, ia membayar sejumlah uang senilai 2,5 kwintal glondong kopi kepada pihak Perhutani. Harga kopi gelondong tahun ini Rp 5.200 per kilogram.

Perantau dari Desa Jatian, Kalisat, Jember ini merasa puas dengan hasil yang didapatnya. Mungkin karena ia dan anaknya tak pernah mempekerjakan orang lain untuk merawat maupun memanen kebun kopi miliknya. Dengan mengolah sendiri kebunnya membuat keluarga ini mendapatkan hasil memuaskan.

Rimbunan pohon kopi di lereng Gunung Gending, Alas Gumitir
Rimbunan pohon kopi di lereng Gunung Gending, Alas Gumitir | © Ananda Firman J
Kopi robusta Kalibaru, Banyuwangi
Kopi robusta Kalibaru, Banyuwangi | © Ananda Firman J

Musim kopi yang dimulai bulan Juni akan berakhir di bulan September. Tetapi, selain kopi ada tanaman lain yang diolah masyarakat. Pada November dan Desember ia akan mulai panen avokad, kemudian panen pisang. Biasanya, dari hasil kebunnya ia membantu saudara-saudaranya di desa asalnya di Kalisat yang butuh modal tanam tembakau. Ia menyisikan penghasilan dari hasil bumi untuk menabung dalam bentuk tanah.

Pria yang terlahir pada 1946 ini sangat memahami kopi karena pernah belajar saat menjadi buruh harian PTPN XII Kali Mrawan. Ia ahli dalam teknik sambung pucuk pohon kopi hingga pernah diminta mengajar teknik itu untuk karyawan PTPN XII di Sempol, Bondowoso. Pak Ajis memang punya semangat belajar yang tinggi. Dulu, pada 1984 bersama anaknya yang ujian kelulusan SD, ia menjalani ujian Paket A.

Pria yang masih bugar ini merasa sudah cukup dengan keadaannya sekarang. Semua tanahnya telah diserahkan kepada anak lelaki satu-satunya, yang nantinya diserahkan kepada tiga cucunya. Walaupun tak terlalu aktif bekerja, tapi ia menyempatkan pergi ke kebun selepas subuh sampai matahari agak tinggi, sekitar pukul 10.00 WIB. “Kalau tak bekerja, badan terasa sakit semua,” kataya.

Kopi rakyat yang ditutup terpal agar terhindar dari guyuran hujan
Kopi rakyat yang ditutup terpal agar terhindar dari guyuran hujan | © Ananda Firman J

Pak Ajis telah banyak makan asam-garam kehidupan melalui bekerja dan berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Ia menampakkan ekspresi senang ketika bercerita tentang keadaan tetangganya yang membaik dan ada beberapa yang sukses. Pria rendah hati yang menunggu kloter haji 4 tahun lagi ini tak punya banyak keinginan. Pak Ajis tak tertarik memiliki mobil layaknya petani yang sukses di dusunnya. Sambil menghentakkan abu rokoknya ia berkata, “Pokok bisa makan dan ngerokok saya sudah cukup. Makan pun seadanya.”

Ekspedisi Kopi Miko

Ananda Firman J

Bersama Rotan menjadi Volunteer Sokola Kaki Gunung di Jember.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com