Lebanon, Konflik, dan Kopi Hitam sebagai Neraka

Hampir tak ada wilayah semisterius Lebanon. Salah satu wilayah yang masih merupakan bagian dari Negeri Syam yang terberkati ini memiliki masyarakat yang sangat melankolis dan romantis. Kalian akan disapa, dipeluk sampai diciumi berkali-kali saban hari dalam setiap perjumpaan, entah kalian dikenal maupun tidak. Atau dari sistem politik Lebanon yang sebenarnya rada-rada aneh dengan membagi kekuasaan berdasarkan jumlah sekte-sekte di negara itu.

Saya akan membahas semua kehidupan sosial di Lebanon dan hubungannya dengan mayoritas karakter kopi-kopi di sini.

Sejak secangkir espresso pertama saya seruput di sini, saya ingat salah satu pepatah Turki, “kopi harus hitam sebagai neraka, yang kuat seperti kematian, dan manis sebagai cinta”. Secara geografis, Turki sebetulnya tak terlalu jauh dengan Lebanon, hal itu juga menyebabkan karakter kopi Lebanon tak terlalu berbeda dengan kebanyakan kopi-kopi di Turki: kopi Arabika yang hitam, pekat dan kental disajikan dengan mesin espresso bertebaran di mana-mana, entah itu dalam kafe-kafe sebagai tempat nongkrong, atau yang dijual dengan mobil van bekas dengan bagian belakang yang dijadikan tempat mesin espresso. Atau menggunakan sistem konvensional dengan menggendong termos besar ke mana-mana.

Wilayah Lebanon yang kecil juga mempengaruhi komoditas kopi mereka. Meski masyarakat Lebanon sangat hobi minum kopi atau teh, mereka sama sekali tidak mempunyai kebun kopi. Sehingga menurut survey kecil-kecilan saya, mayoritas kopi di sini diperoleh dari Brazil dan Kosta Rika. Hasilnya, adalah kopi yang seperti saya sebutkan tadi: karakter kopi yang kuat dan tingkat kepahitan yang awet di lidah hingga berjam-jam. Kopi-kopi pahit itu sepertinya juga membentuk karakter yang keras bagi masyarakat Lebanon.

Di Lebanon, kita tak akan pernah kesepian dengan cara berbicara masyarakat yang berisik dan suka berteriak. Jangan sekali-kali menyinggung kepribadian orang Lebanon, seperti menanyakan apa sekte dia atau yang lebih parah, menanyakan afiliasi politik mereka, atau kalian akan mampus diinterogasi balik selama berjam-jam gara-gara dituduh sebagai intel.

Mobil Van Penjual Kopi
Mobil Van Penjual Kopi
Perang Saudara Lebanon
Perang Saudara Lebanon

Lebanon masih bisa belum move on dari konflik perang saudara mereka. Bekas-bekas konflik masih bisa kita lihat di gedung-gedung yang penuh dengan bekas selongsong peluru, dan yang lebih nyata lagi, terdapat beberapa titik wilayah atau tempat yang dijaga para tentara militer maupun tentara sipil dengan bersenjata lengkap milik salah satu sekte di bekas wilayah konflik negara itu.

Tapi seperti pepatah itu, kopi juga “manis sebagai cinta”. Melankolisme orang Lebanon kadang bikin kita lupa dengan kerasnya karakter orang-orang di sini. Mau kenal atau tidak kenal, jangan sungkan-sungkan untuk meminta rokok pada mereka, dan jangan kaget juga ketika mereka menawarkan diri untuk menyalakan rokok kita dengan korek apinya. Momen ini saya rasa sangat romantis bagi orang awam seperti saya. Dan satu lagi, jangan pernah menolak, secara halus maupun kasar. Atau romantisme tadi akan gugur begitu saja dan terjadi hal yang sebaliknya.

Karakter mereka yang unik adalah cara berbasa-basi mereka yang enggak ada habisnya. Entah sesibuk apapun, mau lagi nyupir angkot atau stres buru-buru karena dikejar tugas yang hampir deadline, mereka akan dengan senang hati menanyakan kabar kita, kabar keluarga kita, dan hal-hal remeh temeh lainnya. Tanggapi mereka atau kalian akan dicap sebagai orang yang benar-benar tidak punya sopan santun sama sekali.

Hal-hal yang bertolak belakang 180 derajat inilah yang membuat kehidupan di sini bisa dibilang unik dan enggak bikin bosan menurut saya. Di balik kekacauan politik di Lebanon yang masih belum benar-benar pulih dari konflik perang saudara, masyarakat Lebanon masih mau untuk duduk bersama menikmati secangkir kopi yang benar-benar pahit dan berbasa-basi satu sama lain seperti tak pernah ada hal buruk yang terjadi pada mereka.

Semoga Negeri Syam ini akan selalu terberkati dan kembali ke masa kejayaannya seperti dulu. Dan orang-oranngnya tetap bisa duduk bareng menikmati kopi mereka sambil berbasa-basi dan tertawa lepas.

Cheers …

Achmad Zuhdi

Mahasiswa Undergraduate di salah satu kampus di Lebanon. Penikmat kopi jalanan.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com