Lawangwangi, Cara Lain Menikmati Seni

Menikmati Sore di Kafe
Lihat Galeri
6 Foto
Disambut Badak Samurai
Lawangwangi, Cara Lain Menikmati Seni
Disambut Badak Samurai

© Fenny T Purnamasari

Memandang 'Amnesia Cultura'
Lawangwangi, Cara Lain Menikmati Seni
Memandang 'Amnesia Cultura'

© Fenny T Purnamasari

Menikmati Sore di Kafe
Lawangwangi, Cara Lain Menikmati Seni
Menikmati Sore di Kafe

© Fenny T Purnamasari

Kafe, dari 'Jembatan Surga'
Lawangwangi, Cara Lain Menikmati Seni
Kafe, dari 'Jembatan Surga'

© Fenny T Purnamasari

Memandang Kota dari 'Jembatan Surga'
Lawangwangi, Cara Lain Menikmati Seni
Memandang Kota dari 'Jembatan Surga'

© Fenny T Purnamasari

Lapar Mata di 'TUKU Lawangwangi'
Lawangwangi, Cara Lain Menikmati Seni
Lapar Mata di 'TUKU Lawangwangi'

© Fenny T Purnamasari

Mungkin tidak sedikit di antara pembaca tahu apa itu Lawang Sewu. Tapi, saya terka, tidak banyak di antara kita tahu apa itu Lawangwangi.

Kalau Lawang Sewu berwujud bangunan historis zaman Hindia Belanda yang demikian monumental, Lawangwangi berupa bangunan di abad Indonesia modern yang bisa jadi bakal menghistoris juga sebab lanskap arsitektural dan desain artistiknya.

Lawang Sewu berdiri megah di pusat Kota Semarang dan, di suatu masa di mana seni dipahami sebagai semata komoditas, pada sendirinya telah menjadi ikon kota antik yang terus bertumbuh sejak era pra hingga pascakolonial itu.

Sementara, Lawangwangi berdiri nyempil di rerimbunan pohon di lereng perbukitan Kabupaten Bandung Barat. Dengan posisi seperti itu, pemandangan kota beserta segala kerlip lampunya tampak begitu menawan.

Dan di sinilah saya dan istri, di Lawangwangi Creative Space—nama panjang destinasi itu—untuk memungkasi hari kami yang damai, di suatu sore yang tenang dan nyaman.

Bertolak dari pusat Kota Bandung sejauh 9,9 km, kami tiba selepas tengah hari. Telah ada cukup banyak pelancong saat kami sampai di sana. Istri saya Fenny yang keranjingan fotografi segera memasang kuda-kuda. Dia setel kamera Canon D600-nya dan beringsut dari satu ruangan ke ruangan yang lain.

Patung badaklah yang kali pertama menyambut kami. Berwarna keemasan, sang badak tampak begitu gagah dengan baju zirah kebesaran seumpama samurai yang bersiap perang. Badak, menurut aktivis Bandung Heritage Society Tubagus Adi, merupakan satwa yang di masa lalu gampang ditemui di Bandung. Rawa dan kubangan di Bandung konon jadi tempat favorit fauna yang berjiwa soliter alias penyendiri itu. Kini? Mungkin patung badak saja yang dapat kita temui.

Fenny pun berpindah ke ruang pamer lukisan. Ada kira-kira selusin lukisan kontemporer di ruangan yang sangat luas itu. Satu lukisan bertajuk “Amnesia Cultura” (2008) karya Tisna Sanjaya. Dilukis di atas kain militer (military camouflage canvas), “Amnesia Cultura” menampilkan cetakan tubuh Tisna Sanjaya yang dibentuk dari abu dan bubuk arang dan disebut-sebut memuat pesan kritik atas kekerasan (militer).

Pengembaraan Fenny berlanjut ke lantai dua. Di sana telah menanti kafe merangkap ruang pamer yang sungguh artistik. Di lantai itu pulalah, tampak menjorok ke luar, terdapat “jembatan surga”, titik favorit pengunjung saat mengambil foto seraya menikmati pemandangan kota.

Menurut Dian Mardiana, Lawangwangi Creative Space pada mulanya bernama Art and Science Estate sebelum kemudian dikelola oleh ARTSociates Indonesia (http://artsociates.com) sebagai salah satu galeri seni di Bandung pada 2010. ARTSociates Indonesia berdiri pada 2007 dengan visi untuk berkontribusi mempromosikan seniman-seniman Indonesia bertalenta di tataran internasional. Selain Lawangwangi di Bandung, ARTSociates Indonesia juga mengelola Joglo Seni ARTSociates di Yogyakarta.

Sebagai sebuah destinasi, Lawangwangi jelas menarik dan lain dari yang lain. Ia memenuhi hampir semua kualitas demi menuntaskan hasrat manusia akan seni dan keindahan: Patung, lukisan, aksesori, desain interior, arsitektur, panorama alam, dan kuliner disajikan dalam satu kapsul siap telan.

Dan, ya, sehabis puas memanjakan mata, kini tiba waktunya memanjakan perut. Di kafe yang konon menjadi tempat nongkrong favorit selebritas-selebritas ibukota itu, kami menyantap spaghetti tuna, kentang goreng, cokelat mint panas, dan teh leci dingin. Sungguh cara lain menikmati seni yang menyenangkan, bukan?

AP Edi Atmaja

Pembaca buku, pendengar radio, menulis untuk senang-senang.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405