Kulit Tanduk Kopi Minang

(Diskusi LayaRimbun: “Apa Kabar Kopi Solok?” di Rimbun Espresso & Brew Bar)
Diskusi Apa Kabar Kopi Solok di Rimbun Esspreso and Brew Bar Padang 2
Diskusi Apa Kabar Kopi Solok di Rimbun Esspreso and Brew Bar Padang | © Pinto Anugrah

“Setiap Rimbun mengadakan acara, selalu hujan.” Begitu kata Verdy, si seksi sibuk setiap agenda acara Rimbun Espresso & Brew Bar sambil berlalu mengangkat sound system ke lantai dua kedai kopi itu.

Sejak semalam petang hingga malam kini (24/08/2016) hujan memang tidak berhenti-hentinya turun di Kota Padang. Jika pun berhenti, mungkin itu hanya selama sekali seruputan kopi sampai ke kerongkongan, lalu setelah itu tanpa diberi ampun, hujan kembali mengguyur. Walau tiada henti-hentinya hujan mengguyur, pengunjung tetap berbondong datang menjadi saksi agenda Rimbun kali ini dengan tajuk: Apa Kabar Kopi Solok? Dua bangku panjang di lantai 2 kedai kopi itu sudah bertuliskan reserved.

Sebelum diskusi dimulai, pengunjung disuguhi terlebih dahulu sebuah film dokumenter yang berjudul The Coffee Man. Film yang berkisah tentang perjalanan seorang Sasa Sestic menjadi seorang barista nomer satu di dunia. Sebuah film yang sangat inspiratif menurut saya, karena bagaimana seorang imigran perang sipil yang berhasil mengubah hidupnya dengan berani mengambil keputusan meninggalkan dunianya sebelumnya (atlet bola tangan) menjadi seorang barista.

Film dokumenter itu habis dengan perasaan pengunjung yang dicampur-aduk, karena memang kebanyakan pengunjung yang hadir adalah barista-barista muda di Kota Padang. Berlanjut kemudian diskusi, tiga orang pembicara yang direncanakan untuk didatangkan, yakni Alfadriansyah, petani dari Koperasi Solok Radjo, yang berlatar sebagai seorang petani kopi, Arthur Ari sebagai seorang barista dari Lalito Coffeeshop, dan Gustav Wirmon, seorang tukang rendang kopi alias roaster. Namun pembicara yang hadir hanya dua orang, Gustav Wirmon tidak bisa hadir karena rumahnya kebanjiran dan satu hal yang wajib diselamatkan adalah pakaian pengantin pria yang sudah jauh-jauh hari ia persiapkan untuk pesta pernikahannya beberapa hari lagi. Maka tinggallah dua pembicara yang dipandu Allan Arthur, tukang rendang kopi juga dari Pandeka Roasting.

Kenapa tajuknya Apa Kabar Kopi Solok? Ini yang menjadi pertanyaan penting pada diskusi kali ini. Alfadriansyah menjelaskan bahwa Kopi Solok saat ini menjadi ikonik kopi dari Sumatera Barat. Kopi arabika yang berasal dari daratan Sumatera mempunyai karakter yang berbeda-beda satu sama lain dan Kopi Solok mengambil satu tempat untuk itu. Keunikan Kopi Solok ada pada kekurangan dan kelebihan Kopi Solok itu sendiri. Di mana kekurangan Kopi Solok terletak pada body-nya yang tipis, bahkan ketipisan body-nya itu sedikit di atas body teh, namun Kopi Solok mempunyai kelebihan pada eksiditas yang kompleks dengan karakter rasa yang kompleks pula.

Diskusi Apa Kabar Kopi Solok di Rimbun Esspreso and Brew Bar Padang 3
Diskusi Apa Kabar Kopi Solok di Rimbun Esspreso and Brew Bar Padang | © Pinto Anugrah
Diskusi Apa Kabar Kopi Solok di Rimbun Esspreso and Brew Bar Padang
Diskusi Apa Kabar Kopi Solok di Rimbun Esspreso and Brew Bar Padang | © Pinto Anugrah

Berbeda dengan Alfadriansyah, Arthur Ari memaparkan—karena berlatar sebagai seorang tukang seduh—lebih pada bagaimana seorang barista tidak hanya bisa menyeduhkan kopi dengan baik, namun juga bisa menyajikan kopi sebaik mungkin. Arthur Ari sudah berkeliling ke berbagai kedai kopi di Indonesia. Satu hal yang sangat ia pelajari dalam berkeliling itu ialah penyeduhan dan penyajian mempunyai nilai yang berimbang.

Allan Arthur, sebagai pemantik diskusi kali ini memantikkan wejangan dari gurunya, untuk menghasilkan kopi yang enak itu ada 4 hal: 1. bean, 2. grinder, 3. mesin espresso, 4. barista. Pantikan itu mujarab, kemudian diskusi berkembang ke arah proses kopi secara keseluruhan, tidak hanya sekedar kopi di belakang coffeebar saja.

Memberi kesadaran pada penikmat kopi dan yang lebih terpenting kepada penyeduh kopi adalah kopi yang nikmat itu tidak terletak hanya sebatas di belakang coffeebar saja alias pada barista saja. Barista hanya menempati porsi kecil dari total keselurahan proses sebuah kopi hingga akhirnya tersaji di coffeebar. Itulah kenapa pada tulisan ini diberi judul “kulit tanduk”. “Kulit tanduk” dianalogikan sebagai proses kopi itu sendiri mulai dari penanaman, massa panen, proses dari buah menjadi biji, merendangnya, baru kemudian menyeduh dan menyajikannya. Dari total keselurahan proses kopi itu, lebih dari setengahnya perannya dipegang petani kopi.

Jika keseluruhan proses tersebut berjalan baik dan ada pada porsinya masing-masing, maka penikmat kopi akan menemukan identitas suatu kopi. Karena identitas itu memang seperti “kulit tanduk”, sudah ada dari awalnya, kini bagaimana cara menemukan dan mengupas “kulit tanduk” itu sehingga menemukan kopi yang nikmat, karena sebagaimana kata orang-orang, kopi akan menemukan penikmatnya sendiri.

Diskusi pun kemudian ditutup walau hujan masih mengguyur dan dingin makin memagut karena malam semakin pekat. Hanya kopi, ya, sebagian pengunjung hanya ingat kopi untuk penghangat, karena di antara puluhan pengunjung itu hanya tiga orang berpasangan. Selebihnya? Allahualam. Pada akhirnya tetap kopi yang berbicara.

Pinto Anugrah

Menulis sastra, berasal dari dataran tinggi Minangkabau. Kegemarannya untuk menggali cerita masa lampau Minangkabau secara tidak sengaja telah membawanya masuk pada sempilan-sempilan cerita tentang kopi yang ikut membangun peradaban Minangkabau. Saat ini sedang bersitungkin dengan situsweb mitekopi.com.