Kubra dan Secangkir Kemewahan

Halaman Depan Kedai kopi Kubra
Halaman Depan Kedai kopi Kubra © Alfath Asmunda

Depan halamannya terparkir rapi puluhan kendaraan roda dua dan roda empat. Jalanan Beurawe yang biasanya padat, siang itu terlihat sedikit lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Mobil-mobil pick-up penawar jasa angkut barang yang biasa mangkal di pinggir jalan tersebut juga tidak tampak beroperasi. Tapi kelengangan tidak berlaku pada sebuah kedai kopi empat pintu yang terdapat di sana. Kedai kopi itu tetap ramai seperti hari-hari biasanya.

Ini akhir pekan. Warga Banda Aceh dan sekitarnya mungkin sedang beristirahat di rumah masing-masing. Atau menjatuhkan pilihan mengisi waktu luang pergi tamasya ke pantai. Di pinggiran Banda Aceh, memang terdapat banyak pantai yang asik untuk melepas penat.

“Sini parkir bang. Di sini. Lebih teduh,” seru seorang tukang parkir sambil menuntun saya memarkirkan motor tepat di bawah pohon berdaun rimbun, di halaman depan kedai kopi empat pintu itu.

Matahari di Banda Aceh cukup terik. Panas, menusuk ke dalam kulit. Saya dan tiga orang teman pada akhir pekan itu, bersepakat ngopi di sebuah kedai kopi yang telah berdiri sejak tahun 1945. Benar, jika dilihat dari tahun kelahirannya, kedai kopi ini seumuran dengan proklamasi negara Indonesia. Sekalipun belum ada data pasti semisal kajian yang berbasis penelitian tentang kedai-kedai kopi tertua di Banda Aceh, namun banyak orang yang berpendapat bahwa kedai kopi yang hendak kami tuju ini adalah yang tertua di Banda Aceh dan masih eksis hingga sekarang.

Kedai kopi Cut Zein. Begitu nama aslinya. Belakangan, sejak para penikmat kopi Cut Zein membentuk wadah perkumpulan yang diberi nama forum silaturahmi penikmat kopi Beurawe (Forsilakubra) pada tahun 2011, banyak kalangan mulai menyebut kedai kopi Cut Zein dengan sebutan Kubra saja.

“Kalau disebut Kubra, orang-orang pasti udah ngerti itu di mana. Setahuku nama warung kupi ini adalah kedai kupi Cut Zein. Tapi saat ada Forsilakubra, banyak orang menyebutnya Kubra aja,” begitu pengakuan seorang teman yang sejak 2009 sudah menjadi pelanggan tetap di sana. Nyaris setiap hari, satu hingga tiga jam, ia pasti akan mendatangi Kubra untuk ngopi. “Sehari nggak kenak kupi Kubra, nggak pas rasanya kepala, bro.” katanya. Lalu ia melanjutkan “Kalau aku harus pulang kampung, misal kayak lebaran atau libur kuliah, yang benar-benar aku rindukan dari kota ini cuma Kubra bro. Kayak ada yang kurang di tubuh ini kalau sehari nggak minum kupi Kubra,” tuturnya sambil terkekeh.

Di Aceh, terutama di Banda Aceh dan sekitarnya, orang-orang menyebut atau menulis kopi dengan kupi. Huruf ‘o’ pada kata kopi berganti menjadi ‘u’, ini pengaruh dari bahasa Aceh. Sementara itu Kubra sendiri adalah singkatan dari Kupi Beurawe. Sedangkan Beurawe, adalah sebuah kampung di pinggiran jantung kota Banda Aceh.

Kalau mendapati kalimat ajakan dari seseorang “ngopi di Kubra yok,” itu artinya anda diajak minum kopi di kedai kopi Cut Zein, di daerah Beurawe. Kedai kopi ini hanya sepelemparan batu jauhnya dari jembatan simpang Surabaya yang di bawahnya mengalir Krueng (sungai) Aceh. Dan hanya sekerlingan mata dari Hermes Mall.

Di sepanjang jalanan Beurawe memang banyak berdiri kedai kopi. Mulai dari yang biasa-biasa saja sampai kedai kopi yang sedikit bersentuhan gaya modern. Namun cuma Kubra yang tidak pernah sepi pengunjung. Sejak buka dari pukul 5 pagi sampai tutup pukul 6 sore. Kedai kopi ini sangat populer di Banda Aceh. Berbagai kalangan, tua maupun muda duduk bersebelahan meja untuk ngopi di sini. Di Aceh cuma di kedai kopi, siapa saja akan dipandang sama. Tidak berlaku pangkat atau jabatan di ruang publik yang satu itu.

Kedai kopi yang dirintis oleh Muhammad Zain Sulaiman ini, atau akrab di panggil Cut Zein, terus berkembang dan mendapat tempat di hati para pencinta kopi di Aceh. Kini nahkoda bisnis kopi Kubra, berada di bawah kendali anak beliau. Bang Makmun, begitu sang penerus dapur kopi Kubra itu sering disapa.

Kopi Kubra
Kopi Kubra © Alfath Asmunda

Pesanan kopi kami akhirnya sampai di meja. Aroma robusta yang hitam kental khas racikan Kubra, menjalar masuk ke hidung. Saya memesan kopi pancong. Kopi yang disajikan hanya setengah dari ukuran gelas penuh. Kepada pelayan kedai yang mengantar pesanan kami, saya memberanikan diri bertanya sedikit tentang seluk beluk Kubra. Namun ia berkata: “Waduh, maaf bang. Kami tidak sempat melayani. Sibuk semua soalnya nih,” ujarnya singkat. “Tapi kalau abang tanya kapan berdiri dan siapa pemiliknya sekarang, setahu saya, kedai kopi ini sudah berdiri tahun 1945, bang. Kalau yang ngurus kini anaknya,” pelayan itu memberi jawaban.

“Kalau bubuknya dari mana bang?” saya coba memaksa bertanya lagi sebelum ia berlalu. Dua orang pemuda yang baru sampai, tak jauh dari meja kami tampak mengangkat tangan memanggil pelayan tersebut.

“Kurang tahu saya bang,” keluar jawaban dari mulutnya singkat. Ia lalu beranjak meladeni pelanggan yang memanggilnya barusan.

Di meja kasir saya melihat seorang bapak dengan rambut mulai beruban dan memakai kaca mata, sedang sibuk meladeni pembeli rokok. Lazim sebagaimana kedai-kedai kopi di Aceh, pada meja kasirnya sering terdapat lemari persegi empat berbahan dasar kaca yang menjual berbagai macam rokok.

Di belakang bapak tersebut, terdapat sebuah lemari kaca berukuran besar yang berisi bubuk-bubuk kopi siap jual. Ini pasti pengelolanya, pikir saya kala itu. Namun, karena kedai sedang ramai pengunjung, saya akhirnya jadi segan menghampiri untuk bertanya sejarah kedai kopi ini kepada bapak tersebut. Saya urungkan niat untuk bertanya dan memilih mengamati saja. Kedai kopi Kubra tidak henti-hentinya didatangi orang. Hanya beberapa menit saja meja terlihat kosong, akan terisi kembali oleh orang-orang yang hendak meneguk segelas kopi Kubra serta kudapan khas Aceh yang tersaji di sana.

Di kedai kopi Kubra, sebagian besar mejanya berbentuk bundar dan berbahan dasar marmer. Kursinya, kursi plastik. Di teras depan, digelar meja plastik empat kaki untuk menampung pengunjung yang tidak kebagian meja duduk di dalam. Jangan berharap ada wifi ataupun sentuhan lembut AC. Sebab kedai kopi ini masih mempertahankan identitas tradisionalnya dengan kuat. Hanya ada kipas angin tua menggantung di langit-langit. Dan cermin-cermin besar yang menempel di sudut depan serta kiri kedai.

Sebuah foto kapal yang sedang bersandar di pelabuhan Sabang terpajang di dinding. Foto itu amat klasik, di foto pada masa penjajahan Belanda. Sejajar dengan foto tersebut, di kanannya terdapat peta persebaran tanaman kopi di seluruh dunia. Dan di sebelah kiri tampak gubahan sajak Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Indonesia Berterimakasih Kepadamu Aceh”, terbingkai rapi ikut menjadi hiasan pada dinding kedai.

Suasana di dalam kedai kubra yang tak pernah sepi pengunjung
Suasana di dalam kedai kubra yang tak pernah sepi pengunjung. © Alfath Asmunda

Kopi Kubra disajikan dengan cara disaring. Di Aceh, kopi yang disajikan dengan cara disaring memang menjadi primadona. Dan sesungguhnya, inilah ciri khas penyajian kopi di seluruh penjuru Aceh. Untuk soal rasa, karena bukan pencinta kopi tulen, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa kopi Kubra ini memiliki rasa pahit yang kuat.

Jenis kopinya adalah robusta. Sepengetahuan saya untuk jenis kopi robusta banyak terdapat di pesisir Aceh. Paling banyak ada di Lamno, Sebuah daerah di kabupaten Aceh Jaya. Lainnya, kopi robusta yang dipasok ke kedai-kedai kopi di Banda Aceh ini berasal dari Geumpang, daerah yang masuk dalam kawasan kabupaten Pidie.

Hal menarik dari kopi Kubra ini, selain rasa kopinya yang berbeda dengan kedai kopi lain, adalah segmentasi pengunjungnya. Kalau datang saat subuh hari, pemandangan yang akan anda dapati adalah banyak orang-orang tua masih mengenakan sarung dan peci menikmati segelas kopi. Jemaah subuh yang memilih minum kupi sejenak sebelum pulang dan beraktivitas. Beranjak sedikit saat matahari mulai menampakkan diri, kedai kopi Kubra diisi oleh para pejabat teras Aceh, politisi, PNS, mahasiswa, pekerja swasta, dan beragam profesi lainnya. Kebanyakan adalah laki-laki.

Jarang ditemukan kaum perempuan duduk ngopi di sini. Dan hal itu berlaku hampir diseluruh kedai kopi di Aceh. Inilah adab dan adat yang diturunkan oleh endatu kami. Bukan bermaksud ingin mengkerdilkan ruang sosial perempuan, namun untuk perempuan ketika duduk di kedai kopi adalah hal yang tabu di sini.

Ketika matahari sudah beranjak tegak lurus hingga terbenam, pengunjung kopi Kubra diisi oleh beragam macam orang. Mereka membaur dan larut menikmati kopi pada kedai kopi tertua di Banda Aceh itu. Begitu terus setiap harinya.

Bagi kami orang Aceh, kopi bukan saja hanya sekedar minuman. Ia lebih dari itu. Konon dahulu ketika konflik berkecamuk antara GAM dan TNI, kedai kopi adalah “zona putih” yang nyaris tidak pernah terjadi kekerasan. Mereka membaur dan saling akur duduk sambil menikmati wine-nya Aceh tersebut. Nyalak senjata sejenak bisu. Di kedai kopi juga, berbagai masalah kehidupan sering dipecahkan.

Duduk di kedai kopi sambil bercengkrema dengan teman, adalah kemewahan bagi orang Aceh. Betul, ia adalah kemewahan, dan itu bisa anda saksikan serta rasakan saat minum kupi di kedai Kubra.

Catatan:

  • Harga kopi di kedai kubra rata-rata di bawah Rp.10.000.
  • Kopi Kubra harganya lima ribu, Kopi Pancong; kopi setengah dari gelas penuh seharga empat ribu.
  • Kopi Sanger enam ribu. Kopi ini terbuat campuran antara kopi, susu dan gula. Populer sejak 1998, saat terjadi krisis moneter. Konon yang memberi nama sanger ini adalah kalangan mahasiswa masa itu yang ingin minum kopi susu, namun tidak cukup uang untuk membelinya. Maka kedai-kedai kopi di Banda Aceh berinisiatif menambahkan sedikit gula, biar manisnya pas terasa.
  • Alamat lengkap Kedai Kopi Kubra terletak di Jalan Teuku Iskandar, Beurawe.

Alfath Asmunda

Mencintai kopi seadanya. Namun mencintai kamu, iya kamu, sepenuhnya.