Kronology Coffee and Bites

Kerja
Lihat Galeri
6 Foto
Kerja
Kronology Coffee and Bites
Kerja

© Chandra Wulan

Lantai 2
Kronology Coffee and Bites
Lantai 2

© Chandra Wulan

Serba Putih
Kronology Coffee and Bites
Serba Putih

© Chandra Wulan

Sepi
Kronology Coffee and Bites
Sepi

© Chandra Wulan

Kosongan
Kronology Coffee and Bites
Kosongan

© Chandra Wulan

Hiasan Dinding Cantik
Kronology Coffee and Bites
Hiasan Dinding Cantik

© Chandra Wulan

Seorang perempuan mengenakan terusan warna kuning bunga-bunga selutut masuk ke kafe kecil di pinggir Selokan Mataram dekat Fakultas Teknik UNY. Sekejap ia berbalik memastikan skuter matiknya sudah terkunci dengan baik. Entah mengapa hari itu Yogya begitu sepi. Barangkali itu masih seminggu pasca lebaran, dan tak banyak mahasiswa yang sudah kembali ke Yogya.

Ia kesal, sebab bekerja ternyata tak sebebas yang dibayangkan: h+4 lebaran sudah harus kembali bekerja. Belum lagi, pukul sebelas sebelumnya listrik sempat padam. Ia kesal karena tak ada pemberitahuan dari PLN. Padahal, pekerjaan dari kantornya harus selesai hari itu.

Maka mau tidak mau, pekerjaanya harus ia kerjakan di luar. Teman-temannya ada yang memilih ke warnet langganan, ada yang pulang ke kos karena ada wi-fi , ada juga yang seperti dirinya, memilih tempat nyaman untuk ngopi dan menumpang fasilitas wi-fi.

Dari luar, tempat itu nampak sempit. Kronology Coffee and Bites namanya. “Mengapa akhir-akhir ini banyak sekali tempat dengan nama yang berakhiran –logi? Ah, tidak penting. Yang penting tiga artikelku selesai sore ini juga,” katanya. Ia lalu memesan kopi hitam yang dalam hitungan menit sudah ia lupa namanya.

Dan sial, ia memesan kopi mahal: Rp 30 ribu untuk segelas kopi yang diseduh dengan metode pour over. Sebetulnya ia lapar, hanya malas untuk memesan makanan berat.

Di meja dekat kasir yang menyambung dengan area bar, ada croissant yang menggoda iman. Satu croissant telur asin, ew! Dan perempuan itu memilih satunya dan tinggal satu-satunya, almond croissant.

Sejenak ia bingung hendak duduk di mana. Ia berjalan ke belakang, ternyata kafe itu tidak sesempit yang ia kira. Belum ditambah lantai duanya. Dalam keadaan penuh, Kronology mungkin bisa menampung sekitar 50 orang.

Ia jatuh cinta pada pilihan furniture-nya yang serba putih dan banyak kursi single yang empuk. Betapa menyenangkannya duduk sendiri di kursi kayu dengan bantalan putih. Rasanya ingin ngopi saja, enggak usah kerja. Setelah berkeliling, ia memutuskan untuk duduk di depan bar. Sebuah meja kecil dengan dua kursi kayu warna natural dan bantalan putih. Baristanya cukup ramah dan pelayanannya bagus. Hanya terasa agak lama. Mungkin karena metodenya manual. Padahal, di situ ada sih mesin kopi. Tapi kan kurang mantap gimana gitu kalau ngopi hitam, brewing-nya pakai mesin.

Area Bar
Area Bar | © Chandra Wulan
Almond Croissant dan Kopi Hitam
Almond Croissant dan Kopi Hitam | © Chandra Wulan

Beberapa saat kemudian ada pengunjung lain. Warga asing, perempuan, cantik. Barangkali ia sudah beberapa kali menyambangi Kronology. Begitu masuk ia disapa hangat oleh dua barista –laki-laki dan perempuan yang ada di sana. Ia memesan cappuccinno, lalu ditawari untuk membuat sendiri. Wajahnya yang putih bersih itu merona seiring langkahnya masuk ke dalam area bar. Perempuan berbaju kuning kesal.

“Giliran bule aja, ditawarin. Aku kok tadi nggak ditawarin bikin sendiri? Kan kepingin belajar manual brew. Kadang sebalnya sama orang Indonesia gitu, tuh. Kurang maksimal kepada sesama”.

Namun ia kembali menekuri layar laptopnya dan mulai mengetik. Ketika kopi sudah datang, ia bosan dan ingin ditemani, tapi ia ragu, apakah pekerjaannya akan selesai jika ada orang lain di depannya?

Tak berapa lama kemudian, seorang ojek online berhenti di depan Kronology. Laki-laki berumur sekitar 25 tahun turun dari boncengan, mengembalikan helm, lalu masuk dan melihat daftar menu yang ada di blackboard.

“Kamu tadi pesan apa?” tanyanya ke perempuan berbaju kuning. Di hari yang mendung itu, warna dress selutut yang dikenakannya jadi terlihat biasa saja, tidak menyilaukan.

Perempuan itu sudah lupa nama kopinya. Ia lalu bertanya kepada barista dan si lelaki memesan kopi yang sama, membayar dua puluh lima ribu (sungguh ini mengesalkan, tapi perempuan itu tidak protes karena sedang malas), lalu duduk di depan perempuan yang kini sudah hilang kesalnya. Ia tersenyum.

“Eh malah senyum-senyum. Dikerjain gih artikelnya”.

Perempuan itu tertawa dalam hati. Bagaimana bisa ia begitu senang hanya dengan kedatangan lelaki berkemeja biru yang lengannya digulung sampai siku ini? Dulu salah satu impiannya memang ingin punya pacar bertubuh tinggi dan suka memakai kemeja dengan lengan digulung sampai siku, persis bapaknya yang tidak begitu ia sayangi tapi tampan. Sekarang ketika mimpinya sudah menjelma persis di hadapannya, mengapa jadi lucu begini rasanya?

Barangkali semua terasa menyenangkan karena mereka baru saja berpacaran. Atau barangkali, karena dalam waktu dekat perempuan itu akan ditinggal ke Borneo, dan mereka baru akan bertemu lagi lebaran tahun depan. Bukankah hidup lebih indah ketika ada yang dinantikan? Dan tidakkah jarak kemudian mengajarkan kepada kita bahwa jauh dekat hanyalah masalah ‘selamat tinggal’ dan ‘sampai jumpa’?

Dua gelas kopi hitam, almond croissant, Kronology dan Jalan Selokan Mataram yang sepi sore itu mengantarkan ‘sampai jumpa’ ke pertengahan Juni 2018. Sampai jumpa lagi di Kronology!