Kopmil dan Tenda Ceper di Pantai Purus

Kopmil dan Tenda Ceper di Pantai Purus
Suasana pantai Purus malam hari. © Eko Susanto

Saya baru saja usai menyelesaikan tugas di Kota Padang ketika Niko, seorang kawan yang tinggal di kota ini, mengajak minum kopi di Pantai Purus. Pantai ini terletak di tepi jalan raya Purus. Di sepanjang jalan berdiri warung-warung yang menyediakan tenda warna-warni bagi pengunjung pantai. Kursinya dari kursi plastik, yang apabila kita duduki memaksa kita untuk bersandar malas. Kursi-kursi itu sengaja dihadapkan ke laut lepas sehingga pandangan ke depan hanya gelap dan suara debur ombak yang mendebarkan. Teman perjalanan saya, Lutfi, bahkan berkomentar, “Wah, ini namanya mengolok-olok!”

Saya paham dengan kata mengolok-olok yang dimaksud Lutfi. Laut yang ada di depan kami merupakan garis patahan Sumatra yang setiap saat bisa bergeser dan memuntahkan air bah maha dahsyat. Namun, saya perhatikan semua pengunjung warung terlihat santai dan nyaman. Suasana di pantai riuh. Ada yang berpasangan, dan ada juga yang berkelompok lelaki dan perempuan.

Warung yang kami kunjungi bernama Cimpago Group. Pemiliknya biasa dipanggil Jon (48 tahun). Jon membuka warungnya pada 2003. Awalnya, katanya mulai bercerita, sepanjang Pantai Purus masih semak belukar. Tak ada orang yang berani berkunjung dan nongkrong seperti sekarang ini. Sepanjang pantai ditumbuhi bakau dan semak yang rimbun. Jon dan kawan-kawannya kemudian membuka warung tanpa izin Pemkot Padang.

Kopmil dan Tenda Ceper di Pantai Purus
Cimpago Group © Eko Susanto

“Warung-warung di sepanjang Pantai Purus tak ada yang resmi,” katanya. Namun, pihak pemerintah daerah tidak pernah menggusur. Adanya warung-warung ini suasana Pantai Purus malah ramai. Di malam hari alunan musik di tepian pantai menambah suasana kian semarak.

Menu yang ditawarkan pun sama saja sejak dari awal berdirinya warung ini. Juga warung-warung lain yang muncul belakangan. Yakni, kopi milo, atau yang populer disebut kopmil. Selain kopmil, ada cappucino yang dihargai 8 ribu rupiah per gelasnya. Juga ada menu minuman cincau baik yang hot maupun yang dingin. Makanannya nasi goreng, mie goreng dan mie rebus. Juga pecel lele. Semua menu berkisar 8 hingga 9 ribu rupiah.

Kami memesan kopi hitam. Warung-warung kopi di pantai Purus memang tidak menyediakan secara khusus kopi original baik robusta maupun arabika. Tidak populer, Jon berkata. Anak-anak muda yang berkunjung di sini rata-rata memesan kopmil.

Kopmil dan Tenda Ceper di Pantai Purus
Dody dan Murti pengunjung setia pantai Purus. © Eko Susanto

Malam itu saya menjumpai Dody (23 tahun), seorang mahasiswa Universitas Negeri Padang yang tengah bersantai bersama kekasihnya, Murti. Menurut Dody, kebanyakan anak muda yang datang ke Pantai Purus memang bukan untuk ngopi tapi untuk bersantai menikmati malam dan debur ombak.

Menu yang dipesan Dody bila berkunjung ke pantai Purus biasanya nasi goreng, kelapa muda, dan kopmil. Dan sesekali minum bir jika datang bersama gerombolan teman-temannya.

“Di sini memang enak tempatnya buat pacaran, mas,” kata Dody kemudian tertawa. “Makanya kebanyakan anak muda di Kota Padang kalau mau nyantai ya di Pantai Purus ini.” Bahkan sampai ada olok-olok, jika ada anak muda di Kota Padang tapi belum pernah ke kopmil berarti gak gaul. “Belum jadi anak Padang,” katanya.

Pengunjung lain Yudi, 45 tahun, hampir setiap malam mengunjungi Pantai Purus untuk melepas lelah usai seharian bekerja. Yudi, pekerja swasta yang menjadi langganan warung Cimpago Group. Menu yang dipesan sama dengan yang dipesan oleh Dody dan pengunjung lainnya, yakni, kopmil, cappucino, dan nasi goreng. “Orang-orang yang datang ke sini jarang yang suka pesan kopi hitam. Kopinya ya Kopmil,” pungkasnya.

Kopmil dan Tenda Ceper di Pantai Purus
Pengunjung pantai Purus. © Eko Susanto
Kopmil dan Tenda Ceper di Pantai Purus
Berdua sahabat. © Eko Susanto

Malam itu kami menikmati suasana Pantai Purus dengan kopi instan. Di bibir pantai sekelompok perempuan duduk bercengkerama sambil merokok dan menikmati kopmil dingin, dan capucino. Dari sekian banyak pengunjung pantai hanya kami yang memesan kopi hitam.

Malam makin larut. Dan di remang pantai yang bergemuruh tenda-tenda mulai turun satu per satu. Tenda-tenda itu disebut “tenda ceper” oleh anak-anak muda Kota Padang. Karena pada siang hari hingga sore tenda-tenda itu masih berdiri tegak. Tapi bila malam semakin larut, maka pengunjung pantai mulai menurunkan tenda hingga rendah. Pasangan muda-mudi yang memesan tenda rupanya membutuhkan privasi lebih.

Jadi, jangan heran bila kita melewati Pantai Purus dan melihat banyak sepeda motor parkir ditempat yang remang, dan banyak tenda yang telah melorot. Itu tandanya di dalam tenda ada pasangan kekasih yang tengah bersantai sambil minum kopmil.

Tenda ceper dan kopmil memang menjadi ciri khas malam di Pantai Purus.

Eko Susanto

Fotografer partikelir, penikmat kopi robusta.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405