Kopinya Setengah, Keakrabannya Penuh

Papan Nama Kopi Jarod

Istilah ‘kopi setengah’ baru kali itu saya dengar. Di Kedai Kopi Jarod istilah kopi setengah bukan lagi istilah baru. Pengunjungnya sudah terbiasa memesan kopi setengah.

Awalnya, saya bingung ketika seorang kawan bercerita soal kopi setengah. Dia menjelaskan istilah kopi setengah adalah bahasa pengunjung untuk meminta dibuatkan kopi setengah gelas saja ditambah gula. Saat kopi dirasa terlalu pahit atau manis pengunjung biasanya akan meminta lagi ke pelayan agar dituangkan air hangat. Jadinya, gelas itu akan berisi penuh, namun harga yang dibayar hanya setengah saja. Sesuai namanya, kopi setengah.

Tak tahan rasa geli mendengar cerita itu, saya pun berkunjung ke sana. Seorang ibu di meja sebelah memesan kopi setengah. Begitulah saya membuktikan apa yang diceritakan kawan saya. Sambil bercanda kawan saya memberi komentar mengenai cara ini. “Akal-akalan tamu,” katanya. Dengan cara ini harga yang dibayarkan pengunjung hanya setengahnya.

Mungkin hanya di Kedai Kopi Jarod ada istilah itu. Jarod itu adalah singkatan dari Jalan Roda. Tidak akan sulit menemukan tempatnya. Kedai-kedai kopi ini berada di kawasan pasar di Jalan Roda, yang terletak di pusat Kota Manado. Ada puluhan kedai kopi di sana, menyajikan kopi lokal dan panganan lokal. Tentunya bersama kehangatan tempat bersua dan berbincang.

“Ada yang setiap hari datang ke sini dan bisa 4-5 jam nongkrong di Jarod. Ngopi dan ngobrol,” kata kawan lain yang menemani saya sore itu. Aktivitas di Kopi Jarod dimulai pukul 05.00 pagi, dan biasa tutup pukul 23.00 WITA. Kedai-kedai ini ramai dikunjungi pengunjung saat hari beranjak sore.

“Berbagai kalangan datang ke sini, pegawai kantoran, PNS, hingga anggota dewan,” lanjut kawan saya.

Apa yang diobrolkan di sana? Apa saja. Namanya juga ngopi, sebuah tradisi yang sejak jaman dahulu dibarengi dengan kegiatan mengobrol ngalor-ngidul. Namun tak jarang hal-hal serius dibicarakan di sini.

“Biasanya kalau ada isu-isu primordial, konflik horisontal diselesaikan di sini,” ujar seorang pengunjung bernama Leo. Lelaki paruh baya ini tak pernah absen datang ke Jarod. Biasanya orang-orang macam pak Leo inilah yang menjadi juru bicara dari komunitas atau kelompok untuk membicarakan permasalahan yang ada.

Rumah Kopi Omela

Kedai Kopi Jarod sudah berdiri sejak tahun 1960-an. Tak heran ia telah menjadi darah daging warga Kota Manado yang terdiri dari berbagai etnis. Etnis Minahasa, Cina, Arab, Gorontalo, Sangir ngopi-nyadi Jarod.

Berbagai panganan ringan yang menjadi teman ngopi merupakan panganan khas berbagai etnis tersebut. Ada kue apang coy di sini. Kue yang terbuat dari bahan tepung beras berbentuk mangkuk kecil. Dalam tradisi Cina, kue berwarna merah ini muncul dalam berbagai upacara. Kemudian kue nogosari, yang dibungkus daun pisang dan di dalamnya terdapat potongan pisang. Di Jawa kue ini banyak ditemukan.

Nah, yang khas Sulawesi Utara adalah pisang goroho. Ini adalah irisan pisang yang digoreng kering, kemudian disantap dengan bumbu dabu-dabu roa. Itu hanya beberapa saja panganan yang ada di Kedai Kopi Jarod.

Menikmati kopi dengan variasi panganan ringan yang begitu banyak membuat para pengunjung betah berjam-jam di tempat ini. Tak sedikit dari para pengunjung yang menggelar meja untuk bermain kartu domino, remi, bernyanyi dan sebagainya. Dari ujung ke ujung, dari kedai satu ke kedai lain, suasana ngopi terasa akrab dan hangat. Sehangat dan seharum Kopi Jarod.

Ronny Joni

Penikmat kopi dan kretek, tinggal di Jakarta.

  • Panganan ringannya bisa beli setengah juga ndak? 😀