Kopiku Agamaku, Kopimu Agamamu

“Coffee is a religion,” ungkap seorang barista bernama Muhammad Aga di akhir presentasi kala beradu di kejuaraan peracik kopi tingkat Jakarta (24/3). Tak dinyana, Aga, sang barista pecinta musik blues yang selalu membawa sisir (untuk merapikan rambut klimis, bulut ketek dan… ah sudahlah!) memperoleh nilai tertinggi dan berhak maju ke babak final nasional Indonesian Barista Championship bulan depan. Di final itu dia akan melawan jawara barista dari Bali, Surabaya, Jogjakarta dan Bandung dimana pemenangnya akan dikirim ke World Barista Championship. Entah karena kelihaian dia meracik sajian kopi atau kutipan yang menohok di awal tulisan ini, yang jelas Aga berhasil mempertahankan nilai tertingginya di ajang itu.

“Kopi adalah agama/kepercayaan” adalah sebuah kalimat yang jarang terdengar, namun layak untuk diakui. Seperti jargon “football is religion,” dimana sepakbola juga punya mazhab seperti taka tiki ala Barcelona, total football ala Belanda, dan lain sebagainya, Kopi ternyata juga punya mazhab. Tak salah Aga menyebut kopi sebagai agama.

Dimana letak agamanya? Wah, bisa dibikin buku kalau kita kupas. Lebih baik, Anda mengalami sendiri “perjalanan spritual” untuk menentukan kepercayaan masing-masing. Mending kali ini saya bercerita tentang perjalanan “ngopi” saya. Saya harus membuat disklaimer bahwa tulisan ini sangat subjektif dari sudut pandang saya sehingga bisa berbeda dengan Anda. Saya tidak mau di kemudian hari rumah saya dikepung oleh para “wahabi” fundamentalis kopi Indonesia dikarenakan terlalu neo-liberalnya cara ngopi saya. Hehe

Aga dalam Babak Eliminasi Jakarta, Indonesian Barista Competition 2013. © Syahrani Rahim

Saya ingat, sruputan kopi pertama saya terjadi kala masih TK di rumah Pak Dhe yang mungil di kota kecil bernama Lumajang. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi karena saya dilarang ngopi oleh orang tua dengan alasan masih kecil. Kopi yang tergeletak itu hampir habis airnya, bahkan sudah terlihat ampasnya. Ketika saya minum, saya tidak menyangka bahwa kopi itu pahit hingga kemudian saya enggan meminumnya lagi. Tak saya sangka, kopi yang sangat wangi itu rasanya sangat bertolak belakang dari keharumannya.

Suatu hari ketika saya sudah duduk di bangku SD, saya melihat kopi ayah yang tergeletak di meja. Saya memberanikan diri untuk menyeruputnya kembali. Dibayangi rasa ketika TK, saya mencobanya satu sesapan saja. “Ah, manis!” ungkap saya dalam hati. Kopi itu membuat saya jatuh cinta. Jatuh cinta sebenarnya. Namun pertanyaannya, apakah ini cinta semu atau benar-benar cinta kopi?

Belasan tahun kemudian saya mengalami pengalaman spritual ngopi yang sama: Kopi bubuk hitam 2 sendok makan, 3 sendok teh gula, diseduh dengan air mendidih. Saya jalani rutinitas pagi itu hingga ketika saya sedang kuliah dan kerja di Melbourne, Australia. Pada waktu itu, seperti orang yang memegang teguh mazhab fundamentalisnya, saya juga memegang teguh kopi tubruk hitam! Kopi itu harus hitam, pahit, dikasih gula, dan kental! (walaupun yang lebih “jantan” lagi, begitu katanya, tidak pakai gula sama sekali). Begitulah kurang lebih mazhab yang saya yakini, yang juga dipegang teguh oleh kebanyakan orang Indonesia.

Tahun 2010, ketika saya punya usaha sendiri dan mempunyai pegawai bule, seorang rekan kerja saya asal Indonesia membuat kopi tubruk untuk kami semua (termasuk untuk bule tersebut). Teman bule saya itu terperanjat, kopi yang ia minum tersembur dari mulutnya dan dia berkata, “What is this? This is dirty water!”

Kata-kata dia membuat saya tercengang. Mazhab ngopi yang saya yakini sekian lama, ternyata tidak disukai oleh pegawai bule saya itu. Bagaimana mungkin? Founding fathers kita selalu bangga bahwa “kopi Indonesia adalah kopi terbaik,” “kita adalah salah satu produsen kopi terbesar di dunia,” “Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, Flores, Papua adalah daerah penghasil kopi terbaik.” Familiar dengan jargon tersebut?

Saya lantas memberanikan diri untuk membuka pintu untuk kopi yang lain. Layaknya beragama, kembali lagi dari nol. Saya mencoba ikhlas untuk sekali saja membuka diri terhadap mazhab lain di dalam agama yang bernama kopi. Beruntung saya tinggal di Melbourne yang mempunyai kultur kedai kopi paling yahud sedunia. Bahkan ada yang menamakannya sebagai World’s Coffee Capital karena di kota inilah kita bisa merasakan kopi dari seluruh penjuru dunia. Saya mencoba sesuatu yang “aman” yakni berbagai macam Cappuccino, sebuah minuman yang pada awalnya saya anggap biasa-biasa saja.

Hingga akhirnya saya mencoba Cappuccino di Brother Baba Budan (BBB), salah satu kedai kopi terbaik di Melbourne. BBB sendiri adalah anak kafe dari “Seven Seeds,” sebuah usaha penyangraian kopi dan kedai kopi yang membawa mazhab specialty coffee atau sebagian orang menyebutnya third wave coffee. Pada intinya mazhab mereka adalah kopi terbaik, dengan nilai tinggi yang dinilai oleh professional cupper (Q grader), dan eksklusif Arabika. Kita tahu bahwa Arabika adalah jenis biji kopi yang lebih ningrat, lebih bagus, ditanam di ketinggian (lebih dari 1000 mdpl, lebih mahal, dan sustainable). Sedangkan Robusta (yang sebagian besar bangsa Indonesia minum) sayangnya adalah jenis kopi dengan kualitas lebih rendah, di tanam di ketinggian rendah (di bawah 1000 mdpl), dengan harga yang lebih murah.

Cappuccino yang saya rasakan di kedai kopi BBB itu tak pakai gula, bahkan tak memerlukan gula karena memang sudah manis. Manis, ada asamnya, dengan tingkat kekentalan yang sedang. Sangat beda dengan cappuccino dari kedai kopi biasa atau kopi yang biasa saya minum.

Saya terus menelusuri jalan kopi itu. Berkenalan dengan tehnik seduh kopi yang (ternyata) sangat beragam. Mereka menyebutnya manual brewing atau filter brew, seduh kopi hitam biji Arabika, dengan berbagai ragam alat yang unik. Sebut saja pourover V60, aeropress, clever coffee dripper, syphon, chemex, kalita wave, dan masih banyak lagi. Familiar? Saya rasa agak kurang familiar di telinga kita kan? Sama seperti saya kala itu.

Saya mencoba kembali ke mazhab awal saya dulu: kopi hitam. Di dunia kopi manual brewing ini kopi hitam juga diseduh dengan tehnik beragam. Saya mencoba berbagai kedai yang menyediakan filter coffee manual brew ini (tanpa ampas). Kopi tanpa ampas akan membuat saya bisa merasakan berbagai rasa yang delicate dan fragile di dalam cangkir kopi itu. Belum ada yang merubah persepsi berfikir saya hingga saya menemukan kedai bernama Proud Mary Coffee yang menjual filter coffee seharga $10/cup. Cukup mahal untuk kisaran kopi filter brew yang rata-rata $5/cup. Kalau beli bijinya, 250 gram dibanderol $35. Ah, akhirnya saya memutuskan akan mencobanya.

Nama bijinya Panama Geisha Santa Teresa. Rasanya? Seperti teh, manis, sangat clear, wangi bunga melati, begitu diminum ada rasa lemon, madu, fruity, sedikit aroma coklat, melon dan meninggalkan after taste yang clean di akhirnya. Kopi ini merubah drastis cara pandang saya terhadap kopi. Kasarannya, saya sudah murtad dari kopi mazhab hitam, pahit, kental, 3 sendok teh gula, dan tubruk.

Syahrani Rahim

Keingintahuan tentang kopi membuat saya terus belajar. Beruntung saya pernah tinggal di Melbourne karena di sana banyak specialty coffee shop yang mengadakan public cupping (uji kualitas dan cita rasa kopi sebelum dijual) secara gratis seperti Seven Seeds, Market Lane Coffee, dan Auction Rooms. Dengan cupping, saya semakin melatih sensory lidah saya. Peka terhadap pahit, suka terhadap tingkat acidity (keasaman) yang cantik, manisnya kopi yang seharusnya muncul walaupun tanpa gula, merasakan body (tingkat kekentalan), dan after taste (rasa yang ditinggalkan) di rongga mulut kita.

Di teknik seduh pun saya mulai belajar dari pouover flat bottom, V60, hingga aeropress. Di kopi ini saya merasakan perbedaan rasa ketika kopi diseduh dengan temperatur 100, 96, atau 91 derajat celcius. Rutinitas ngopi saya semakin susah. Butuh termometer untuk mengukur air yang pas agar tidak terlalu panas hingga menyebabkan “gosong” (rasa burnt yang pahit) pada biji kopi ketika diseduh, butuh timbangan untuk mengukur gramasi kopi agar terjadi rasio yang sempurna dengan jumlah air, butuh air yang bagus secara kandungan mineral, dan butuh biji kopi yang bagus. Lebih sehat tanpa gula karena kopi itu sebetulnya adalah tanaman yang sudah mempunyai rasa manis di dalamnya apabila diolah benar.

Ya beginilah cara ngopi saya sekarang, sangat susah. Dulu bikin kopi hanya 1-2 menit, sekarang butuh 5-8 menit. Hingga saya setuju pada ungkapan Adi Taroepratjeka di sebuah acara arisan kopi, dimana dia berkata “ingnorance is bliss”. Ketidaktahuan adalah sebuah anugerah. Karena semakin kita tahu akan mazhab kopi ini, semakin kita susah. Tapi, apalah artinya susah kalau kita menikmatinya apalagi cinta.

Kembali ke jargon awan tadi: sebenarnya apa sih mazhab kopi sebagian besar orang Indonesia itu? Sebetulnya saya sangat trenyuh menulis ini: Robusta, grade rendah, disangrai sangat matang (dark roast), dan pahit sekali ketika diseduh hingga perlu ditambah gula. Nyatanya, banyak orang yang jemawa kuat menahan rasa pahit itu hanya agar ia disebut jantan.

Ingatan saya kembali ke salah satu kedai kopi favorit saya bernama Omar and the Marvellous Coffee Bird. Kala itu saya bertemu dengan Andy, pemiliknya. Omar menyediakan house blend yang bijinya semua dari Sumatera (rata-rata dari Dataran Gayo). Saya ingin tahu proses roasting (penyangraian) kopi. Asal usul keingintahuan ini dipicu oleh pertanyaan: mengapa biji kopi Indonesia yang disangrai roaster luar negeri, lebih enak dari roaster lokal? Salah roaster-nya, apa salah bijinya?

Mungkin pendapat yang banyak beredar di berbagai kesempatan bahwa “biji kopi terbaik di Indonesia itu selalu diekspor, sedangkan kita hanya menikmati kopi grade rendah dan itu kita suka,” dan “untuk menikmati biji kopi Indonesia secara kaaffah, maka carilah kopi Indonesia di luar negeri” adalah benar adanya. Andy pun bercerita bahwa ketika dia berkunjung ke Sumatera dia disangraikan kopi secara tradisional dengan tungku, dan dimasak sampai gosong, hitam, dan berminyak. “And they forced me to drink that but eeewww, sorry I have to say no thanks,” ujarnya. Ironis memang tapi saya paham, Andy!

Sekali lagi tulisan ini sangat subjektif dan purely menurut “agama” dan mazhab ngopi saya dan tiada maksud memurtadkan Anda (kalau murtad juga tak apa). Aliran ngopi ini lebih cocok disebut sebagai aliran “progresif” daripada aliran “Jaringan Kopi Liberal”. Sudut pandang ini bisa sangat berbeda dengan Anda. Mungkin juga mazhab ngopi ini juga bisa berubah karena progresif. Pada akhirnya kata “enak” adalah subjektif. Yang paling penting, mazhab kopi apapun yang kita anut, asal menurut kita enak dan menyenangkan, maka minumlah! Your coffee, your way. Kalau di kitab suci: lakum diinukum, waliya diin. Terima kasih sudah mengingatkan, Aga! Selamat berjuang di level nasional!

Syahrani Rahim

Co-Founder sekaligus terus belajar kopi di Coffee Life (@CoffeeLifeID) dan @KateringKopi


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • saya selalu merasa semua kopi itu enak, hanya saja tidak semua kopi cocok untuk saya pun juga untuk orang lain. membaca tulisan ini kembali mengingatkan, betapa banyak hal yang masih tidak saya tahu, dan betapa kopi masih menjadi biji yang penuh misteri. tulisan yang bagus, pengalaman yang hebat, dan pesan yang dalam. salut!

  • I love the way you narrated your story and statement. Excellent closing and conclusion! 🙂

  • Eddy

    Good job.. Good article.

  • Tulisannya bagus! 😀

  • “…….sebenarnya apa sih mazhab kopi sebagian besar orang Indonesia itu? Sebetulnya saya sangat trenyuh menulis ini: Robusta, grade rendah, disangrai sangat matang (dark roast), dan pahit sekali ketika diseduh hingga perlu ditambah gula. Nyatanya, banyak orang yang jemawa kuat menahan rasa pahit itu hanya agar ia disebut jantan.”

    SETUJU, SANGAT SETUJU dengan paragraf ini, mas. Haha….

  • Farida

    Baca artikel njenengan berkali kali terasa tidsk menjemukan…. ijin share ya mas..

  • kopi adalah undangan termanis untuk imaginasi, kreatifitas, dan ruang untuk berjumpa dan memuji Tuhan

  • Pabit Yahya

    Selalu ada waktu untuk Secangkir Kopi Bersama Sahabat, manfaat lebih dari Secangkir Kopi pada saat di Sajikan tanpa Gula.
    Pameo Teman : Saya kalo minum Kopi tidak tidur, justeru Pecandu Kopi kalo sudah Tidur tidak bisa Ngopi,,,