Kopi yang Mempererat Kami

Suatu pagi saat membuka Facebook, saya tertarik dengan seorang kawan yang mempromosikan sebuah merek kopi krim sachet terbaru. Kebetulan, teman saya ini sama-sama suka minum kopi juga. Walau hanya kopi sachet yang dibuat di rumah, atau sesekali saja nongkrong di warung kopi.

Teman saya itu, yang sama-sama ibu rumah tangga, juga mengabari tentang potongan harga sebuah produk yang berhubungan dengan kopi. Kedekatan kami memang berawal dari kopi.

Kopi yang diminum di rumah masing-masing, terpisah jarak ratusan kilometer, tapi masih memiliki spirit yang sama. Entah sejak kapan akhirnya kami mulai sering bertukar informasi hal-hal lain, tak hanya kopi.

Kopi Tubruk
Kopi Tubruk Hitam menemani kami saat sedang bercengkrama bersama. © Nody Arizona

Saya dan beberapa teman juga kerap kali memposting sedang minum apa sambil tak lupa membuat hidangan pendampingnya. Saya punya tiga orang kawan yang sama-sama suka membuat kudapan sebagai teman minum kopi: Jeany, Wiryawati, dan Rose.

Jeany mulai mengenal kopi semenjak SMP karena sering minum kopi buatan orang tuanya. Lalu Wiryawati sudah kenal sejak kecil, pengaruh dari ibunya yang suka minum kopi. Rose sendiri minum kopi sejak iseng mencicipi kopi milik teman kerja.

Sedangkan saya sendiri mulai minum kopi susu karena saya tak suka susu sapi yang rasanya cenderung tawar. Karena itu ibu membuat susu kopi agar saya tetap mau minum susu.

Masing-masing dari kami punya kopi favorit. Tapi tentu setiap dari kami punya alasan personal kenapa suka kopi. Saya mulai mengenal kopi dari kebiasaan minum kopi susu. Lalu cappucino. Kemudian menggemari kopi hitam.

Sering pula saya memilih kopi berdasarkan suasana hati. Kalau sedang bahagia, saya cenderung membuat kopi hitam. Kalau sedang gundah, saya biasanya minum kopi yang dicampur dengan sedikit krim.

Jeany punya alasan kenapa suka kopi. Menurutnya, aroma kopi ini hangat dan membuat nyaman. Perempuan yang sering membuat roti ini sedikit bingung menentukan kopi yang pas untuknya. Di rumah, demi kesederhanaan dan keringkasan, ia sering minum kopi instan. Baik yang hitam atau mix. Kalau sedang punya waktu luang, ia minum kopi bubuk. Tapi ia lebih memilih kopi yang kadar asamnya tak terlalu kuat.

Sedangkan Wiryawati, belakangan suka kopi tubruk. Ini karena sang suami punya hobi minum kopi tubruk. Walau begitu, sesekali Wiryawati masih minum kopi 3 in 1. Menurutnya, kopi yang pas adalah kopi yang berasal dari biji kopi bagus dan tanpa campuran. Namun ia lebih suka kopi dengan aroma yang lembut, tidak menyengat. Perempuan berambut pendek ini juga tidak begitu suka kopi dengan tingkat keasaman yang kuat.

Sedangkan Rose punya sedikit masalah dengan kopi. Ternyata lambungnya bermasalah, sehingga ia tak berani menghabiskan satu cangkir kopi sendirian. Seringnya, ia hanya minum setengah cangkir saja.

Tapi itu tak membuatnya berhenti minum kopi. Ia memutar akal. Ia memilih kopi instan yang ringan dan tak membuat lambung sakit. Menurutnya, ia belum menemukan kopi instan yang pas. Lagipula ia penyuka rasa manis.

Tahu tidak? Kami berempat sama-sama belum pernah saling ketemu. Tapi kebiasaan kami ngopi membuat hubungan kami erat. Ya, kopi menyatukan kami dalam sekat dunia maya. Tak perduli di mana kami berada. Kami tetap merasa dekat berkat secangkir kopi dan aromanya.

Jadi, sudahkah anda ngopi hari ini?

Ecka Pramitha

Perempuan suka makan dan memasak, penikmat kopi dan suka menghabiskan waktu di warung kopi. Pegiat Klub masak dan salah satu kontibutor aktif situs masakanpraktis.com.