Kopi yang Meluncur di Jalur Tenggorokan Filsuf

Entah, mungkin belum ada kutipan tentang kopi sekuat narasi Honore de Balzac. Tokoh yang divisualisasikan sebagai pria tambun, berkumis, dengan pipi chubby dan rambut emo belah pinggir ini membayangkan bahwa minum kopi sama rasanya seperti keindahan gerak pasukan perang yang siap bertarung dengan siapapun. Bayangkan 300 prajurit Sparta menghadang ribuan pasukan Persia di celah tebing karang tepi laut Yunani. Ritual kopi bisa seepik itu.

This coffee falls into your stomach, and straightway there is a general commotion. Ideas begin to move like the battalions of the Grand Army of the battlefield, and the battle takes place.

165 tahun setelah kematiannya, Balzac dan kemabukkannya akan kopi masih terasa menghibur hingga saat ini. Tapi jika ia hidup di peradaban digital ini, pengamatannya atas kopi akan semakin provokatif berkat jaringan WiFi gratis, barista berteknik dan bersertifikat internasional, desain interior kafe yang mengisolasi pengunjung, dan lubang-lubang listrik unlimited sebagai magnet kuat bagi proses kelahiran karya-karya para penulis hingga pemikir bebas.

Konon, berdasarkan esai yang ditulisnya, The Pleasures and Pains of Coffee, Balzac selalu mencari tempat ngopi yang buka hingga tengah malam. Dan sebagai pencandu kopi kelas dewa, ia bisa meneguk 50 cangkir kopi dalam sehari. Jika kopi sekuat alkohol, ia adalah raja Rock N’ Roll seantero jagat!

Ia menyebut kopi sebagai kekuatan terbesar dalam hidup. Lebih brutal lagi, seperti yang diakuinya, Balzac akan memakan bubuk kopi ketika perut terasa kosong. Tapi metode brutal ini, “…hanya ditujukan kepada para pria yang memiliki semangat berlebih, pria dengan rambut hitam tebal dan kulit yang ditutupi bintik-bintik, pria dengan tangan dan kaki besar berbentuk seperti pin olahraga bowling,” tulisnya. Tipe pria yang terlalu identik dengan dirinya sendiri.

Berkat observasi yang begitu intim (hingga menciptakan dilusi akut terhadap kopi), dalam 22 tahun karirnya sebagai novelis ia mampu menciptakan 85 novel hingga ajal menjemputnya di usia 51 tahun. Ia tidak mati karena keseringan begadang di kafe hingga mengalami masuk angin kronis tak terselamatkan. Tentu saja penyebab utamanya adalah terlalu banyak bekerja dan pengaruh kafein. Spekulasi lain mengatakan bahwa Balzac terkena serangan hipertensi bahkan konon sifilis.

Saya rasa Balzac adalah contoh paling epik tentang pecandu kopi. Lengkap dengan segala hiperbola yang ia rangkai sendiri terkait kecanduannya atas olahan biji dari buah yang berasal dari Ethiopia ini.

Bolehlah dikatakan bahwa kopi adalah bahan bakar utama banyak intelektual besar baik di rating internasional hingga cendikiawan tingkat karang taruna dan atlit catur amatir pos ronda. David Lynch, sutradara nyentrik Amerika Serikat, bahkan harus mengatakan bahwa, “Even bad coffee is better than no coffee at all.” Ketimbang tak ada kopi sama sekali, boleh lah minum kopi yang tidak enak.

Tradisi ngopi juga mengakar di antara para filsuf Barat terpandang di abad ke-18. Voltaire, seorang pemikir purna-waktu, penulis, sejarawan dan ahli agitasi Prancis, dilaporkan mengonsumsi sekitar 40 cangkir kopi dengan campuran cokelat dalam satu hari. Umurnya menjelang 80 tahun ketika dokter pribadinya mengingatkan bahwa kopi dapat membunuhnya.

Cerita soal brutalitas konsumsi yang dilakukan Voltaire ini dapat dibaca di banyak kanal informasi alternatif digital. Sebelum mesin kopi dan kopi instan dalam kemasan menjadi konsumsi publik di ranah privat dan masih dalam monopoli kafe, Voltaire telah mendahuluinya. Untuk memuaskan kecanduan akan kopi, ia bahkan secara teratur membayar sejumlah uang cukup besar agar memiliki kopi impor untuk konsumsi pribadi, hal yang sangat tabu saat itu.

Maka tak heran, selain dikenal sebagai martir yang teguh menyerang kekuasaan Gereja Katolik dan mengadvokasi kebebasan berekspresi, pemisahan agama dan negara, serta kebebasan beragama, Voltaire juga dikenal sebagai advokat kopi garis keras.

Seabad kemudian, tokoh yang juga sulit melepas bayang-bayang kopi adalah Immanuel Kant. Esais asal Inggris, Thomas de Quincey, dalam esai The Last Days of Immanuel Kant, menulis bahwa Kant terbiasa membawa secangkir kopi setelah selesai makan malam. Menurut Kant, kopi harus dipastikan dituang dengan air mendidih dan disajikan dengan cepat.

Selanjutnya pada abad ke-19, Soren Kierkegaard ternyata dikenal pula sebagai peminum kopi yang militan dengan metode penyajian seeksentrik jalan pemikirannya. Menurut penelitian Joakim Garff, penulis biografi Kierkegaard asal Denmark, filsuf tampan ini biasa memasukkan gula hingga air kopi luber ke tubuh cangkir.

Sekarang—dengan peradaban yang sudah jauh berkembang—kita harus lebih sering mengingatkan diri sendiri bahwa kopi telah terbukti sebagai salah satu stimulan paling berpengaruh dalam usaha menemukan puncak intelektual seorang manusia. Terlebih, harus dicatat dan digaris-bawahi bahwa kopi adalah salah satu candu yang masih dianggap legal dan aman untuk dikonsumsi.

Sebelum kamu menuangkan kopi di cangkir berikutnya, tahukah kamu bahwa pada tahun 1675, King Charles II melarang kedai kopi beroperasi karena ia pikir tempat tersebut merupakan lokasi pertemuan musuh-musuh yang berniat menjatuhkan takhtanya?

Muhammad Meisa

Penulis konten paruh-waktu. Waktu penuh dihabiskan melamun.