Kopi untuk Kelestarian Owa Jawa di Petungkriyono

Kopi Owa Jawa
Kopi Owa Jawa dalam bentuk kemasan. © Vivi Khasanatul Fitri

Berbicara soal keindahan alam yang tersimpan di bumi Indonesia memang tak ada habisnya. Petungkriyono salah satunya. Letaknya berada di ujung selatan di Kabupaten Pekalongan. Wilayah ini masih bagian dari Dataran Tinggi Kawasan Dieng (Dieng Plateu), yang sebagian besarnya daerahnya masih berupa hutan.

Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pemilik hutan hujan tropis yang masih alami di Jawa. Berbagai sebutan disematkan untuk Petungkriyono. Negeri di atas awan karena terdapat banyaknya pegunungan yang eksotis dan kawasan seribu curug karena terdapat banyak sekali curug di sana.

Kali ini saya bertandang ke Petungkriyono untuk liputan majalah Inspirasi, sebuah media yang dikolola oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Panji Sedayu, yang bertemakan wisata alam.

Di sepanjang perjalanan, pemandangan hijau alam pegunungan memanjakan mata. Udara segar bak obat mujarab yang kembali menyegarkan pikiran. Suara lengkingan satwa bertalu terdengar saat memasuki kawasan hutan Soko Kembang, sebuah dusun dan hutan pertama di Petungkriyono. Akhirnya setelah menempuh jarak kurang lebih 5 kilometer, sebuah banner bertuliskan “Selamat Datang di Soko Kembang Eco Adventure Petungkriyono-Pekalongan” menyambut. Bergegas saya berhenti, dan menyambangi tempat tersebut.

Kopi Owa Jawa
Curug bajing dengan debit air yang tak pernah surut meski kemarau. Ketinggian air terjun ini mencapai 75 meter. © Vivi Khasanatul Fitri
Kopi Owa Jawa
Tanaman kopi tumbuh liar di pinggiran hutan. Berlindung di bawah pepohonan hutan. © Vivi Khasanatul Fitri
Kopi Owa Jawa
Biji-biji kopi. © Vivi Khasanatul Fitri

Dusun Soko Kembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan merupakan dusun penghasil kopi Soko Kembang. Kopi Soko Kembang dikenal juga dengan sebutan Kopi Owa Jawa.

Owa Jawa (Hylobates moloch) adalah jenis kera kecil yang hanya ada di Jawa. Lengkingan suaranya kerap terdengar di pagi hari, mempunyai jelajah yang tetap, dan kesukaannya memakan buah-buahan hutan. Hidupnya berkelompok kecil (2-7 individu), dan tergolong satwa paling setia (monogamy) karena ia hanya hidup dengan pasangannya. Bahkan, jika pasangannya mati seekor Owa rela hidup menyendiri sepanjang hayat. Satwa ini termasuk hewan yang dilindungi, karena saat ini persebarannya terbatas akibat fragmentasi habitat, degradasi hutan, juga pemburu. Kini, Lembaga konservasi dunia (UNC) menetapkan hewan ini dalam kategori hewan yang terancam punah. Karena itu, dilakukan penanganan Rehabilitasi Hutan Lahan (RHL) dan penanaman pohon dengan Kebun Bibit Rakyat (KBR) untuk menjaga habitatnya.

Lalu, mengapa kopi ini disebut kopi Owa Jawa? Inilah sisi menariknya, yakni kopi dan kelestarian Owa Jawa. Bukan seperti kopi luwak, yang proses pembuatannya tak lepas dari peran hewan luwak sebagai perantara. Di hutan Soko Kembang, praktik budidaya kopi yang sebenarnya telah banyak berpengaruh terhadap masa depan kelestarian Owa Jawa dan secara langsung mengangkat perekonomian masyarakat sekitar hutan.

Di sini keterkaitan antara kopi, kelestarian Owa Jawa serta ekonomi kreatif benar-benar dapat saya pahami. Siklusnya seperti simbiosis mutualisme (sama-sama menguntungkan). Tanaman-tanaman kopi tumbuh liar di hutan, di bawah naungan pohon-pohon alami yang dihuni oleh satwa-satwa endemik Jawa seperti Owa Jawa. Lalu, kopi ini diproses secara tradisional oleh masyarakat sekitar hutan di Dusun Soko Kembang, yang tetap mempertahankan pohon-pohon alami sebagai konsekuensi penting bagi konservasi habitat Owa Jawa dan satwa-satwa endemik lainnya.

Di sisi lain, dilihat dari segi ekonomi, bahwa masyarakat sekitar hutan membudidayakan kopi sebagai mata pencaharian. Kopi-kopi yang telah jadi (dalam bentuk kemasan) dijual di swalayan-swalayan setempat sampai keluar kota. Harganya pun terbilang cukup mahal.

Adapula yang menjual di warung atau kediamannya sendiri. Seperti pak Tasuri yang kebetulan adalah pengelola Soko Kembang Eco Adventure. Tepat di depan rumahnya, sebuah ruangan sederhana yang disulapnya menjadi kedai dengan nama omah Owa. Omah Owa sering dijadikan tempat singgah para pengunjung dari berbagai penjuru, mulai dari mahasiswa dalam dan luar kota, pemerintah daerah, serta para peneliti primata dan hutan dari dalam dan luar negeri. Entah sekadar untuk beristirahat sambil mencicipi kopi khas Soko Kembang sebelum berpetualang mengelilingi Petungkriyono, ataupenasaran ingin bermain di Soko Kembang Eco Adventure (dengan wahana River Tubing, river Tracking, Primate Watching, Bird Watching, Junggle Tracking dan Night Safari).

Menikmati kopi khas Soko Kembang memang terasa sangat berbeda. Apalagi jika menikmatinya langsung di tempat kopi itu berasal. Di sinilah tercipta dunia kopi yang berbeda. Bukan hanya sekedar minum kopi dan berangan-angan tentang prosesnya, namun apa saja yang terlibat dalam secangkir kopi untuk kelestarian hutan yang menjadi habitat Owa Jawa.

Vivi Khasanatul Fitri

Aktivis Pers Mahasiswa Pekalongan. Suka jelajah alam dan menikmati kopi Nusantara.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • tjakep banget dah!
    menikmati keindahan curug sambil ngopi.. mantab!
    salam sruput 😀

  • ali makhrus

    hampir seminggu sekali saya melintasi hutan petungkriyono.
    hati tereasa bungah ketika mendengar ada projeck konservasi owa jawa oleh mahasiswa UGM.
    sukses untuk mahasiswa yg nyata memperhatikan lingkungan biotik.
    SALAM PECINTA MAHLUK HIDUP dan LINGKUNGAN

  • Sedikit ralat, lembaga yang dimaksud mungkin IUCN (International Union for Conservation of Nature), bukan UNC (University of North Carolina) 🙂

    Btw pengurusnya kopi owa dulu sering roasting bareng di kontrakan, tapi sekarang mesin roastingnya sudah pindah ke tempat lain…