Kopi Unthug, Kopi Setan, Insomnia

Insomnia Waroeng Koffie
Papan menu Insomnia Waroeng Koffie. © Amal Taufik

Suara pujian menjelang subuh di masjid Jami’ terdengar sampai telinga, penanda injury time bagi kami untuk bergegas pulang.

Masih ada sedikit kopi yang bisa dicecap dalam cangkir, saya tidak menyia-nyiakannya sebelum beranjak pergi meninggalkan warung ini. Hanya meja kami saja yang masih berpenghuni, 4 meja lainnya sepi, orang-orang yang duduk sudah beranjak pergi 3-4 jam yang lalu. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya dan teman-teman menjadi penghuni terakhir di warung ini.

Namanya Insomnia Waroeng Koffie. Letaknya di Jalan Kartini, tidak jauh dari alun-alun Kota Pasuruan. Sejak tahun 2012, setiap saya pulang kampung ke Pasuruan, saya tidak pernah absen untuk singgah di warung kopi satu ini.

Warung ini lahir sekitar tahun 2010. Berdiri di dalam sebuah bangunan kuno yang interiornya sederhana, tidak dipoles sebagaimana cafe-cafe yang ada di Pasuruan. Cat temboknya banyak yang mengelupas. Kaligrafi kayu nama Allah dan Nabi Muhammad yang menempel di tembok dan pelanggan yang kebanyakan ‘masyarakat bersarung’ menambah nuansa kekhusyukan khas warung ini.

Mas Ali, pemilik sekaligus barista Insomnia, tidak begitu mengunggulkan interior warung. Ia lebih fokus pada varian kopi yang disajikan. Di warung sederhana ini, pelanggan bisa memesan; kopi tubruk, espresso, cappuccino, caffe latte, syphon coffee, hingga latte art.

Selain menikmati kopi, warung ini juga menyediakan jajanan cilok. Minum kopi sambil mengudap satu mangkuk cilok daging, berbumbu kacang lengkap dengan siraman kecap rasa-rasanya bukanlah aktivitas yang buruk untuk menghabiskan malam sembari menunggu fajar tiba.

“Kalau saya buka warung kopi hanya sekedar buka, tanpa sesuatu yang diunggulkan, maka apa yang membedakan warung saya dengan warung kopi lainnya di Pasuruan?” Mas Ali mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia mengenalkan kepada masyarakat, sajian kopi metropolitan yang bisa dinikmati di warungnya yang sederhana itu. “Yang penting, saya menjual sesuatu yang terbaik bagi konsumen, dan penghasilan yang saya dapat halal untuk di makan istri dan anak saya” ujarnya.

Dulu pelanggan di warung ini hanya sebatas kolega-kolega dekatnya, dan kebanyakan orang-orang tua. Sekarang, pelanggannya lebih beragam. Ada sekelompok ABG sedang tertawa lepas di meja pojok. Pada meja yang hanya muat untuk 2 orang, ada sepasang laki-laki yang sedang membicarakan politik. Ada beberapa orang Arab berusia kira-kira 40 tahun, sibuk berdiskusi tentang bisnis di meja lain. Di belakang meja orang Arab itu ada saya dan teman-teman yang asyik gojlok-gojlokan. Jarak antara meja satu dengan meja lainnya tidaklah terlalu jauh, saking dekatnya saya sering mendapat kenalan-kenalan baru.

Kopi racikan Mas Ali masing-masing mempunyai ‘panggilan sayang’ tersendiri dari pelanggan. Misalnya, espresso di warung ini biasa disebut “kopi setan”. Jadi, kalau saya ingin memesan espresso, biasanya langsung saja bilang; “Setan Mas Ali”, lalu Mas Ali akan langsung merespon dengan jawaban “Single? Double?, maksudnya adalah menanyakan tingkat kepekatan espresso. Jika sudah tercapai kesepakatan, Mas Ali langsung mengunduh kopi yang sudah digiling dari coffee grinder. Lalu ia menyalakan mesin kopinya, dan dilanjut meracik kopi setan pesanan saya. Tidak sampai 10 menit, kopi setan yang saya pesan sudah tersaji di atas meja kayu.

Lain espresso, lain pula kopi yang diseduh dengan Vietnam Drip. Kopi yang diseduh dengan Vietnam Drip, dulu oleh pelanggan Insomnia disebut Kopi Tetes. Seiring berjalannya waktu, Kopi Tetes mempunyai ‘panggilan sayang’ baru; “Kopi Sabar”. Menikmati sajian kopi yang diseduh dengan Vietnam Drip butuh kesabaran berlebih. Biasanya setelah habis 2 batang kretek, kopi baru bisa diminum.

Ada lagi menu yang lebih berkesan, terutama bagi saya pribadi, yaitu “kopi unthug.” Sebenarnya kopi ini adalah espresso yang dicampur dengan susu yang sudah di froth. Disajikan dengan cangkir latte, espressonya mengendap di sepertiga cangkir, sisanya adalah froth milk dengan busanya yang terkesan padat. Busa yang agak padat itu tadi, jika dihias dengan coklat kental akan tetap padat, tidak larut bersama air, coklat kentalnya juga tidak tenggelam. Kurang lebih, mirip sajian cappuccino.

Kopi Untug inilah yang paling berkesan. Saya sering iseng memanfaatkan kemampuan Mas Ali melukis sajian kopi untuk kepentingan pribadi. Beberapa kali saya memesan kopi dengan ‘lukisan’ nama gebetan, lalu saya abadikan dengan kamera HP. Foto tersebut biasanya langsung saya kirim ke calon pacar. Sambil sedikit basa-basi, saya membuka obrolan chat dengan gebetan yang menjadi target;

“Kamu suka kopi nggak?”

“Suka dong, emang kenapa?”

“Oke, tunggu sebentar ya”

Kemudian foto gambar kopi dengan hiasan namanya itu tadi saya kirim. Hasilnya, jelas! Dia langsung tersipu malu, ge-er, dan mungkin geli sendiri. Malahan ada beberapa gambar langsung diunggah di akun jejaring sosialnya. Lengkap dengan caption manis. Saya langsung merasa bahagia, sebahagia jika suatu saat saya diizinkan menempeleng Benjamin Netanyahu. Eh!

Amal Taufik

Pecinta masakan kambing garis keras.

  • daim

    Saya minggu dini hari 15 maret lewat pasuruan dan sangat butuh kopi sebenarnya, sebab nyetir nonstop dari denpasar.. Andai saja postingan ini lbh awal.. Ah andai saja yaaaa…. Hahahhaa

  • Amal Taufik

    Wah sayang sekali mas daim. Tapi sekarang kan sudah tau to? brti besok2 kalau lewat lagi bisa mampir. 😀

  • Bagus Setiyo Pribadi

    Saya sih mau mampir tp kayaknya klo gk bawa pasangan hidup rasanya kurang manis deh
    Jadi ya lain waktu saja yah saya mampir eheheh

  • sun’an

    Tamba info aja mas Amal, kopi pekat apa sama kopi setan.. kalau sama, itu baik buat penyakit diabet lho.. *_*

  • Amal Taufik

    Hmm.. meskipun tdak bawa pasangan hidup, paling tidak sampean bisa bawa mantan calon pasangan hidup mas.

  • Good banget informasinya. Moga laen waktu kesampaian jejak kaki di Pasuruan Tanah Sidogiri. Tak kan saya lupa nama Insomnia Coffie utk saya nikmati sajiannya.
    “Selamatkan Generasi Muda Indonesia Dari Minuman Alkohol dengan Minum Kopi”

    salam Hangat dari Pontianak