Kopi Toraja dan Seperangkat Oleh-Oleh dari Bone

Kurang tahu kenapa teman saya yang berasal dari Bone, Sulawesi Selatan, tak membawa kopi asli indigenous, tempat kelahirannya. Malah, ia justru menenteng sebungkus Toraja Coffee (jenis: Toraja Ice) sebagai buah tangannya.

Ah, itu bukan soal. Yang penting ia masih bawa oleh-oleh, demikian batin saya dan teman sekosan lain.

Jadi, awal ceritanya, teman saya satu ini usai wisuda langsung pulang ke Sulawesi setelah empat tahun menempuh studi di Bandung. Sebagai teman yang belum diwisuda, saya turut bangga memiliki banyak teman kelas yang lulus sarjana tepat waktu.

Namanya Rahmat. Lengkapnya Rahmat Munawir. Ia salah satu teman-teman kelas saya yang berbaik hati membawakan oleh-oleh bahkan tanpa diminta. Barangkali karena ia sudah wisuda. Jadi, wajar bila ia ingin berbagi kebahagiaan dengan teman seperjuangan dan sepeniduran dengannya lewat kopi satu kemasan dan souvenir lain.

Mengingat teman saya itu saya jadi teringat perkataan Leo Tolstoy, “happiness only real when shared,” dalam buku Rumah Tangga Bahagia. Sudahkah kamu membacanya? Kurasa kamu perlu.

Rahmat membawakan kopi Toraja itu ke kosan saya. Kurang baik gimana coba? Sudah ngasih, nganterin pula. Kemasannya berwarna biru tua dan berbahan plastik seperti lazimnya plastik kemasan kopi sachet. Hanya berbeda kadar ketebalannya saja.

Buku Sebuah Kitab yang Tak Suci karya Puthut EA dan Sebungkus Toraja Coffee
Buku Sebuah Kitab yang Tak Suci karya Puthut EA dan Sebungkus Toraja Coffee | © Madno Wanakuncoro

Tidak buang-buang waktu lagi, saya menjerang air untuk porsi tiga orang: teman kosan saya, Rahmat dan saya. Kopi istimewa tidak layak untuk mendapatkan belaian air dispenser. Ia harus dihargai dengan air panas di puncak titik didihnya.

Bubuk kopi keluaran PT. Toarco Jaya – Toraja Utara ini relatif lebih kasar ketimbang bubuk-bubuk pasaran. Masih bisa dikremus sedikit, juga lebih lembut teksturnya. Saya rasa itu karena proses sangrai yang setengah matang—ini baru saya sok-tahu.

Ketika air sudah bergolak, tiba waktunya bagi kami menikmati kopi yang sudah naik pesawat jauh-jauh dari Bandara Sultan Hasanuddin tersebut. Berhubung saya pecinta kopi yang enggak banyak tingkah, jadi saya racik ala tubruk saja. Tiga sendok kopi tanpa gula.

Terkejut, ternyata walau air benar-benar sudah umup, tapi ada beberapa remukan biji yang masih mengambang. Beberapa sisanya mengendap. Maka saya angkat “si kambang” itu untuk kemudian disimpan di gelas lain dan berencana untuk menjadikannya masker suatu saat nanti.

Satu sruputan endhel pun terlaksana. Saya menyuruput dengan bergairah. Sensasinya memang beda dari kopi lainnya, Bung! Aromanya khas dan kental dengan kadar kepahitan kopi jenis robusta yang ideal—kesukaan saya— dan tidak meninggalkan sama sekali asam di lidah meski minyak kopi terlihat di permukaan.

Menuju sruputan kemayu kedua, kutunaikan juga akhirnya. Slluurrlprp. Ahh! Mantap! Lalu Rahmat memberikan oleh-oleh lain yang dibawanya: Sokolate dengan pusparagam varian rasa dan wedang instan Vitajahe plus aneka gantungan kunci—sebenarnya bisa juga untuk tas, sih.

Vitajahe dan Sokolate
Vitajahe dan Sokolate | © Madno Wanakuncoro
Gantungan Kunci
Gantungan Kunci | © Madno Wanakuncoro

Sokolate itu nama dari produk cokelat batang khas Sulawesi. Ada berbagai varian rasa seperti yang saya makan waktu itu; White Choco Tempe dan Dark Cocho Tempe. Yang membedakannya dari cokelat batang lain terdapat pada isinya yang berupa “tempe”. Rasanya khas dan unik. Berpadu dengan cokelat manis yang tidak neg dikonsumsi. Sangat cocok sekali sebagai teman minum kopi pahit Toraja Ice.

Kalau Vitajahe, tidak beda jauh dengan minuman jahe instan sachet-an lain. Cuma nilai kekentalan dan rasa susunya saja yang membikin beda. Waktu saya seduh, cukup menghangatkan dalaman tubuh. Ya begitulah, memang dari jahe.

Di luar ketiganya, Rahmat mengeluarkan oleh-oleh non-kuliner dari tas. Gantungan kunci berbentuk Pulau Sulawesi dan Badik, senjata tradisional sana. Disuruhnya saya dan teman kosan untuk memilih satu. Sisanya untuk teman yang lain.

Sembari mengambil gantungan berbentuk Pulau Sulawesi, saya membaca tulisan di belakang kaos Rahmat yang bagian depannya bergambarkan Arung Palakka:

Wija Tho Bone:
Rebba Sipatokkong,
Mali Siparappe,
Malilu Sipakainge.

Kemudian usai saya tanyakan padanya, ternyata itu bahasa Bugis yang arti pukul-ratanya demikian:

Pemuda Bone:
Rebah Saling Menyokong,
Saat Hanyut Saling Menolong,
Khilaf Saling Mengingatkan.

Makjleb! Asli. Betapa kaya pelajaran-pelajaran dari local-wisdom yang sebetulnya banyak tersebar di seluruh penjuru Bumi Nusantara ini. Namun, dengan lagak mengangguk-angguk sok mengerti dan kagum di depan Rahmat, saya nyeruput kopi lagi sambil tenggelam membaca buku dan menikmatinya kembali. Berangan bisa mengunjungi Rimbun Tanah Sulawesi.

Madno Wanakuncoro

Penulis yang gemar melukis, apalagi membaca. Suka kopi yang nggak banyak tingkah.