Kopi Tidak Pernah Sederhana

Kopi itu hitam pekat. Kopi itu pahit.

Itulah yang ada di kepala saya tentang kopi selama 28 tahun. Hitam pekat dan pahitnya kopi seakan dogma. Tidak bisa dan tidak boleh saya bantah pun pertanyakan. Maka saya tidak meminumnya, karena saya tidak menyukai rasa pahitnya dan tidak menikmati warna hitam pekatnya. Saya tidak ingin menerima sesuatu yang tidak bisa saya pertanyakan.

Hingga suatu hari di bulan Februari 2017, seorang teman membongkar dogma tersebut di depan muka saya. Dia menyodorkan secangkir espresso. Warnanya masih hitam pekat, tetapi alangkah terkejutnya saya tatkala menyeruputnya. Memang ada pahit, tetapi pahit tidak menjadi rasa yang mendominasi. Saya merasakan sesuatu seperti asam jeruk yang merambat di dinding dalam pipi.

Saya hampir bertanya dengan bodohnya: Apa yang kau suguhkan ini sungguh-sungguh kopi?

“Kok enggak pahit seperti yang kubayangkan?” Itu yang akhirnya terlontar.

Sembari mendengarkan jawaban si teman, pandangan saya menyapu rak-rak di balik bar. Berjejer dengan rapi-rapi perangkat yang terlihat canggih dan asing. Saya berasumsi bahwa semua itu alat-alat untuk menyeduh kopi, tapi apa namanya dan bagaimana cara menggunakannya, saya sama sekali tak tahu. Itu kali pertama saya melihat alat seduh begitu beragam dan memiliki bentuk yang ganjil.

“Alat-alat seduh ini yang bikin petani ya?” Saya bertanya lagi.

Jawaban teman saya atas pertanyaan tersebut merupakan satu dari beberapa hal yang membuat saya kemudian mempelajari kopi secara serius.

*

Saya tidak hendak menulis tentang kedudukan kopi dalam sejarah kolonialisme di Indonesia. Namun, hal itu salah satu yang membuat saya tertarik dengan kopi. Cerita di baliknya. Kisah-kisah yang belum pernah saya dengar, dan baru saya ketahui dari seorang teman pemilik bisnis kopi, tempat kelak saya juga belajar mengoperasikan mesin espresso dan menggunakan alat-alat seduh lainnya.

Bersamaan dengan mendengar kisah-kisah masa lalu tentang kopi, saya membuat latte art—seni menggambar di atas kopi menggunakan susu—pertama saya di kedai si teman. Bagi saya, sensasinya cukup sulit dijelaskan. Saya kegirangan, merasa seperti anak kecil yang baru saja mencoba mainan baru. Kelak saya sadar, bagi saya kopi bukan hanya mainan. Kopi akan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti dari sekadar minuman.

Suatu hari seorang pemilik bisnis kopi lain datang dari Jakarta ke kedai teman kami. Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan barista mengenai teknik seduh kopi. Saya mendengar “brewing time”, “yield”, “brew ratio”, dan jargon-jargon teknis lain yang asing. Namun, bagi kepala saya, jargon-jargon ini amat menarik. Saya tidak pernah tahu ternyata kopi seilmiah ini? Sepulangnya dari pertemuan itu saya langsung membaca banyak tentang sisi-sisi saintifik kopi.

Sejarah dan sains, itu yang membuat saya tidak lagi bisa memandang kopi dengan cara yang sama. Seiring waktu, saya mulai mengetahui kopi bukan sekadar minuman dan komoditi dagang, tetapi juga seni, politik, budaya, dan bagian penting rantai perjalanan manusia.

*

Bagi saya sendiri, kopi adalah buku.

Sebelumnya, kopi hanya sesuatu yang saya minum. Kini, saya membaca apa yang saya minum. Sebiji dan sebungkus kopi adalah buku yang tebalnya tidak terkira. Pada saat awal-awal saya “tercerahkan”, hampir setiap hari pikiran saya memenuhi dirinya sendiri dengan kopi. Saya membaca teori menyeduh kopi, jenis-jenis varietas kopi, politik distribusi kopi, kompetisi kopi, dan lebih banyak sisi-sisi saintifik kopi.

Kini, secara rutin saya menyeduh kopi sendiri. Istilah di dunia kopi yang lumrah dipakai untuk orang-orang seperti saya adalah home brewer, atau penyeduh rumahan. Meskipun label ini perlu dimodifikasi sedikit jadi boarding house brewer karena saya tinggal di kos-kosan, hehe (maaf ya kalau enggak lucu). Beberapa pembaca bahkan teman saya sendiri sempat salah paham mengira saya sungguh-sungguh bekerja sebagai barista.

Jika saya pikir-pikir lagi, selain karena memang baru tahu bahwa kopi semenarik ini, saya merasa mungkin sebenarnya saya hanya bosan. Saya bosan menulis, berkutat dengan buku, dan mengikuti berita-berita dari industri buku serta kesusastraan. Sepuluh tahun sudah saya berada di dunia kesusastraan. Waktu yang tidak lebih lama dibanding penulis yang lebih tua usianya dibanding saya atau memulai karir menulisnya lebih dulu. Namun, bagi saya, cukup lama untuk membuat saya haus akan hal baru. Hal yang bukan buku dan tulisan.

Hal itu adalah kopi.

*

Suatu ketika di masa lalu, saya berbincang dengan seorang perempuan. Saya pernah mencintainya, dan ketika saya masih mencintainya saya senang menggali mimpi-mimpinya. Salah satu mimpi yang saya ingat adalah, dia ingin membuka kedai kopi di tempat saya tinggal saat ini: Yogyakarta. Kami sudah membicarakan konsep, dekorasi, dan lokasinya. Saya menawarkan diri bergabung sebagai tim pemasaran dan sudah merencanakan serangkaian kegiatan untuk kami lakukan bersama. Itu jauh sebelum saya mengenal kopi lebih dalam.

Mimpi itu hanya tinggal mimpi. Tidak pernah ada kedai kopi yang kami bangun bersama. Tidak pernah ada tempat yang kami rencanakan di Yogyakarta. Saya sudah jauh pergi dari kenangan tentang perempuan yang pernah saya sayangi itu. Dia pun sudah meniti hidupnya sendiri sekali lagi. Kami pernah berencana tetapi Tuhan pula yang menjawab.

Jauh setelah kami berpisah, saya didekatkan kepada kopi. Saya tidak bisa menghindar dari ingatan-ingatan yang pernah saya miliki. Perempuan itu memang bukan pelaku bisnis kopi dan saya pun pada saat itu hanya tahu menikmati kopi, tetapi saya tidak bisa memungkiri kami pernah bicara cukup serius tentang kopi.

Kopi menendang saya mundur ke masa lampau. Seakan menyuruh saya menghadapi perasaan-perasaan yang belum selesai dan perlu segera dituntaskan.

Maka saya meneguk kopi yang saya seduh sendiri setiap pagi. Satu cangkir demi satu cangkir adalah teman saya menghadapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang ternyata belum sepenuhnya beres. Kopi dalam cangkir saya seakan berkata bahwa saya tidak lagi boleh menghindar. Bahwa saya harus menangani dan menerimanya semua hal yang sudah terjadi.

Bagi saya, kopi tidak pernah sederhana, dan karena itu saya mencintainya.

Bernard Batubara

Bernard Batubara (Bara) adalah penulis, editor, dan penyeduh kopi rumahan. Selain menulis di blog dan bicara di kampus dan komunitas tentang penulisan kreatif, Bara juga menyediakan jasa konsultasi menulis fiksi, BNZBR Writing Consultant. Saat ini sedang menyiapkan buku barunya: Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran (2017).