Kopi Terbaik di Kota Ganjil yang Menyeruak Tiba-tiba dari Gerumbul Semak

Pengalaman yang sepadan dengan perjalanan darat 9 jam lebih.
Pengalaman yang sepadan dengan perjalanan darat 9 jam lebih. | © El Nugraheni

Ayolah, Melbourne saja, kau akan cocok di sana. Kopi! Kopi di mana-mana. Di setiap sudut jalan. Terbayang? Hem? Hem? Hem?”

Iman saya runtuh. Seorang teman memanasi saya untuk memilih Melbourne saat saya cerita padanya bahwa silabus kuliah di kampus yang pada awalnya saya inginkan di negara bagian lain terasa tidak sreg.

“Aku benci pendekatan kuantitatif. Aku pasti menderita kalau memaksa ke sana”.

Saya memilih Melbourne, akhirnya. Bukan karena persoalan kopi saja, tentu, melainkan berangkat dari banyak pertimbangan lainnya. Bahwa tak terhitung gang dan jalanan yang sungguhan beraroma kopi sepanjang hari, itu rejeki pelajar kapiran.

Benarlah, Melbourne cocok untuk saya yang punya sawan jalan sendirian mendatangi warung kopi demi warung kopi untuk kemudian duduk terkantuk-kantuk di dalamnya. Mulai dari Market Lane yang tidak menyediakan tempat duduk, ‘hanya’ menjual kopi bagus tanpa embel-embel dan menu sampingan apapun di tengah pasar Victoria (dan satu cabangnya yang lain di Faraday Street), Brother Baba Budan yang long-black-nya sedap, Captain Industry dengan latte yang pas, Brunetti yang kafe dan kudapannya terasa terlalu genit sementara kopinya biasa saja, Two Little Pigs dengan espressonya yang kuat, Balha’s Pastry, Cummulus Inc, Seven Seeds, Green Refectory, hingga Domenico dan lainnya lagi saya tidak ingat. Pada akhirnya saya lebih sering tersangkut dengan putus asa di Professor Walk, House of Cards, atau Lot 6, warung kopi encer di kampus.

Saat tidak ke kampus, saya melamun di Zaatar, kafe Lebanon yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumah yang menyediakan kopi cukup enak dan murah, baby cino cuma-cuma dan makanan Timur-Tengah yang aman di lidah. Oh ya, serba halal, tentu saja. Syukron.

Omong-omong, Melbourne diganjar predikat kota dengan kopi terbaik di dunia, mengalahkan Roma, Vienna dan Sydney dalam survey sebuah situs travel dunia. Warung-warung kopi di kota ini menawarkan getaran yang kuat dari lingkungan tempat ia didirikan. Kita akan menemukan kafe dengan suasana Fitzroy, atau warung kopi ber-atmosfer South of Yarra, selanjutnya ada kafe rasa Brunswick, Reservoir, Footscray, Collingwood dan sebagainya.

Espresso menjadi budaya di Melbourne sejak 50 tahun terakhir. Berbeda dengan espresso Italia yang umumnya berasal dari campuran Arabica dengan Robusta, espresso Melbourne menggunakan hanya biji kopi Robusta saja tanpa campuran apapun. Nekat dan mantap. The New York Times sempat melaporkan adanya invasi kafe bergaya Australia yang mengombinasikan kudapan yang sedap dan kreatif, kopi yang berani dan pelayanan yang hangat, jauh dari kualitas kafe kardus tidak berperasaan yang biasa ditemui para peminum kopi di Amerika.

Gaya dan ciri kafe di Melbourne juga menjadi inspirasi bagi kafe serupa di Brooklyn, Greenwich Village, Paris, Milan, London, bahkan Singapura. Warung kopi di Melbourne adalah yang terbaik, selalu demikian dibilang orang-orang.

Anehnya, meski tinggal di Melbourne dengan kultur kopi yang demikian hebohnya, saya menemukan kopi yang rasanya istimewa justru di Canberra. Iya, kota di negara bagian lain yang sempat saya hindari karena silabus kuliahnya itu. Kuwalat memang saya.

Saya berkereta tujuh jam lebih dan menyambung perjalanan dengan bus selama dua setengah jam untuk melunaskan sebuah kunjungan balasan ke rumah salah satu teman. Canberra barangkali adalah kota paling ganjil yang pernah saya datangi. Saya sedang terkantuk-kantuk melihat pemandangan hutan dan semak yang begitu-begitu saja di sepanjang jalan ketika tahu-tahu sudah sampai di CBD, Central Business District di Canberra.

Saya diturunkan sopir bus pukul lima sore tepat di pusat sebuah kota yang sunyi seperti makam. Nyaris tidak ada orang dan kendaraan yang melintas. Saya merasakan dorongan aneh untuk menangis sekaligus terkikik geli pada saat bersamaan. Kota ini begitu simetris, teratur, lurus. Membikin saya gugup. Canberra terasa seperti kota artifisial yang dibangun dari balok lego. Ia macam pohon cemara udang yang ditanam dalam pot, dibeli saat sudah besar lalu dipindah ke halaman seseorang. Ia tidak tumbuh, ia kota yang menyeruak tiba-tiba dari gerumbul semak-semak seperti kelinci yang melompat dari topi seorang pesulap. Pikiran saya sudah kemana-mana, untung kawan saya segera tiba dan membawa saya ke rumahnya.

Dua hari berikutnya, saya memaksa kawan saya untuk membawa saya ke warung kopi. Tidak suka kopi, kawan saya kebingungan. Ia akhirnya membawa saya ke The Cupping Room, kafe yang paling sering ia lewati (iya, hanya ia lewati karena ia tak doyan kopi) di seberang jalan kampusnya. Kafe itu konon selalu ramai sehingga kawan saya berasumsi bahwa kopinya cukup beres. Sampai sana barulah saya tahu kalau The Cupping Room ternyata milik seorang World Champion Barista 2015, Sasa Sectic. Aduh, saya jadi lemas. Sasa adalah imigran Serbia yang pindah dari zona perang Bosnia ke Canberra. Ia belajar meracik kopi dari mantan juara dunia lain, Hidenari Azaki dari Jepang. Untuk kopi di kafenya, ia banyak memakai biji kopi dari perkebunannya sendiri di Honduras. Perjalanan Sasa si kampiun dalam menghidupi minatnya pada kopi difilmkan dalam The Coffee Man yang dirilis Mei tahun lalu. Sialan. Terlalu banyak informasi membikin dengkul saya kena serangan panik.

The Cupping Room tidak menyediakan latte atau cappuccino pada menunya. Kopi yang disajikan bisa setiap hari berganti campurannya meski dasarnya sama, milk-based espresso. Pengunjung diberi dua pilihan untuk campuran espressonya, house blend atau seasonal blend. Mereka mengganti menu secara berkala, tergantung musim bahkan cuaca.

The Cupping Room tidak menerima pesanan ‘aneh-aneh’ atau yang ‘paling normal’ sekalipun dari pelanggan, benar-benar hanya membikin kopi yang tertulis di sampul depan menu harian, dengan formula dan cara seduh yang persis sama. Sangat keras kepala. Hampir fasis. Saya memesan ­milk-based espresso house blend yang dibikin dari campuran biji kopi Brazil Santa Lucia (60%), Rwanda Nkora (20%) dan Ethiopian Bonga (20%).

Milk-based espresso house blend
Milk-based espresso house blend | © El Nugraheni
Pagi berikutnya, saya memesan house blend coffee lagi dan soy confit salmon untuk sarapan
Pagi berikutnya, saya memesan house blend coffee lagi dan soy confit salmon untuk sarapan | © El Nugraheni

Setelah hampir lima belas menit, kopi saya datang. Penampilannya seperti latte biasa. Ada harum karamel yang lembut. Saya menyesap. Kaget. Menyesap ulang. Melongo menatap kawan saya. Menyesap lagi. Tertawa tidak jelas diikuti gelagat ingin menangis. Enaknya, ya Allah Tuhan YME. Saya tidak paham. Tidak butuh paham.

Hari itu Sasa ada di Cupping Room, tapi seperti yang sudah bisa diduga, banyak orang yang ingin mengobrol, salim dan membasuh muka dengan air cucian kakinya. Saya groupie baru yang punya harga diri. Saya rasional. Saya pergi ke War Memorial dengan bahagia. Menonton assembly bohongan sambil menahan kemih tanpa menggerutu. Menyeret kawan saya pukul setengah tujuh pagi yang dingin berangin keesokan harinya untuk memesan kopi yang sama sebelum naik bus tiga jam dan berkereta enam jam lamanya ke Melbourne, kota dengan kultur kopi terbaik di dunia yang tidak terbaik-terbaik amat sebab tidak punya Sasa Sectic dan biji kopi Hondurasnya.

El Nugraheni

Pelajar kapiran

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com