Kopi susu ala Kong Djie

Warung kopi Kong Djie
Suasana warung kopi Kong Djie yang seperti menolak modernitas. © Sarani Pitor Pakan

Matahari baru saja terbenam di Tanjung Pendam, Belitung. Kemudian, suara azan maghrib berkumandang tanda waktu berbuka telah tiba. Saya menaiki motor dan melangkah keluar kawasan wisata Pantai Tanjung Pendam. “Jalanan pasti sudah sepi,” pikir saya dalam hati.

Saya mencari warung kopi untuk sekadar membasahi mulut dengan kafein. Setelah berkeliling beberapa menit, saya melintasi simpang Siburik. Di dekatnya ada sebuah warung kopi yang buka dan terbaca tulisan “Warkop Kong Djie, Sejak 1945”. Saya mengarahkan motor dan memarkirnya agak sembarang. Ternyata ada papan lain yang bertuliskan “Since 1943”. Mana yang benar? Entahlah.

Saya masuk dan memesan kopi. “Kopi siko,” kata saya kepada seorang perempuan penjaga warkop. Sambil menunggu pesanan tiba, saya duduk dan melihat-lihat. Di salah satu bagian dinding terdapat kertas-kertas yang menempel. Salah satunya membuat saya terkejut. Ada jadwal pertandingan sepak bola yang melibatkan Persibel Belitung.

Sebagai mantan reporter bola dan penggila bola sejak umur 9 tahun, saya seperti diledek. Itulah kali pertama saya mendengar nama Persibel. Bahkan, saya baru tahu ada klub bola di Belitung. Sebelumnya, saya hanya pernah dengar PS Bangka.

Di dinding tersebut juga terdapat beragam informasi selain soal sepak bola, termasuk info rumah dijual yang saya lihat sekilas. Saya membayangkan warkop ini sejak dulu adalah ruang publik dimana informasi tersebar. Tradisi itu sepertinya dipelihara oleh Warkop Kong Djie lewat selebaran-selebaran di dinding. Bahkan, di internet yang maha canggih tak mudah menemukan jadwal pertandingan Persibel. Ajaib, kan?

Warung kopi Kong Djie
Jadwal pertandingan bola Persibel yang ditempel di dinding. © Sarani Pitor Pakan
Warung kopi Kong Djie
Kopi susu ala Kong Djie © Sarani Pitor Pakan

Kemudian, kopi saya datang. Ternyata yang datang adalah segelas kopi susu, bukan kopi hitam sesuai bayangan saya ketika memesan. Belakangan saya baru tahu, jika memesan “kopi” berarti kopi susu, sedangkan jika ingin kopi hitam bilang saja “kopi O”. Saya aduk agar kopi dan susu bercampur, lalu saya seruput. Apa yang terasa di mulut adalah sesuatu yang yang berbeda dibanding kopi susu yang biasa saya nikmati di kantin atau kedai di ibukota. Saya baru tahu rasa kopi susu itu khas setelah mengunjungi beberapa warkop lain di Tanjung Pandan. Sepertinya, kopi dan susu yang digunakan memang tak dipakai di daerah-daerah lain.

Sambil menikmati kopi, saya membolak-balik majalah yang ada di meja dan sesekali memandang sekitar. Ada papan catur dan beberapa lembar koran. Ada juga sebuah kertas di pojokan dinding yang tidak saya perhatikan sebelumnya. Ada tertulis: “WiFi kopikongdjie”. Saya lalu mengecek apakah wifi itu benar adanya. Ternyata, benar. Saya terdiam sejenak. Saya tak mengira di warung kopi yang jauh dari kesan modern ini ada wifi. Di kepala saya bergelayut bermacam pikiran yang silang-sengkarut. Kira-kira demikian bila diluruskan:

“Ini warung kopi tua. Sudah ada sejak 1943 atau 1945. Desain warkop juga tidak modern, sepertinya masih asli dari dulu. Tapi, ada wifi gratis dan info soal password-nya di dinding yang kusam. Gila. Warkop tua yang nggak modern, tapi ada wifi gratis.”

Dalam sepersekian detik, saya lantas menyadari bahwa tradisi adalah tanggung jawab dan amanat yang harus diemban. Sementara, perubahan adalah sesuatu yang tak terelakkan dan tak perlu ditentang. Keduanya bisa hidup berdampingan. Seperti Warkop Kong Djie dan wifi gratisnya.

Mun Lun Ngupi Lum Sampai Manggar

Di lokasi replika sekolah Laskar Pelangi, saya mengobrol dengan seorang pemandu wisata yang kebetulan sedang mengantar tamunya ke situ.

“Pak, kalau di Manggar ada apa ya? Setelah ini saya mau ke sana,” kata saya.

“Ada warung kopi, Mas. Manggar kan punya sebutan kota 1001 warung kopi.”

Maka, setelah mengunjungi Museum Kata-kata Andrea Hirata dan rumah Ahok di Gantong, saya menuju Manggar dengan bayangan segelas kopi yang asapnya mengepul di udara. Sesampainya di ibukota Kabupaten Belitung Timur tersebut, saya berputar-putar mencari warung kopi yang buka siang itu. Maklum, karena bulan puasa, tak semua warkop buka pada siang hari. Warung kopi pertama yang saya temui dan langsung saya sambangi adalah Warkop Atet.

Saya seperti berjodoh dengan warung kopi tua di Belitung. Di Tanjung Pandan, tanpa diniatkan saya tiba di Warkop Kong Djie yang berdiri sejak 1943/45 (ada dua versi tahun di papan nama warkop). Di Manggar ini, yang disebut kota 1001 warung kopi, saya ditibakan oleh takdir di warkop yang sudah ada sejak 1949. Informasi itu saya temui di papan yang bergantung di dinding Warkop Atet. Bahkan, konon inilah warung kopi pertama di Manggar.

Pesanan saya adalah kopi O. Entah efek bulan puasa atau bukan, memesan kopi di Belitung tak perlu menunggu lama. Tidak sampai semenit, kopi sudah datang ke meja. Sebagai kudapan, saya mengambil dua kue kacang ijo. Segalanya terasa pas di lidah.

Saat mencicipi kopi di Warkop Atet itu, saya teringat kopi-kopi di berbagai tempat di Indonesia yang pernah tandas di lidah, kerongkongan, dan perut saya. Termasuk kopi Manggar ini. Konon, kopi Manggar berasal dari daratan Lampung karena tanah Belitung tak cocok ditanam kopi. Setelahnya, biji kopi diolah oleh tangan-tangan Manggar yang lihai meracik kopi.

Entah sejak kapan Manggar dijuluki kota 1001 warung kopi. Konon, dari salah satu percakapan dengan warga lokal, sebutan itu mulai muncul saat Ahok menjabat sebagai Bupati Belitung Timur. Entah benar atau tidak, yang jelas julukan itu ialah gimmick yang dinilai efektif dalam mendongkrak pariwisata di Manggar dan Beltim. Apalagi sudah ada Tugu 1001 Warung Kopi di salah satu sudut kota.

“Walaupun tak tahu juga sih apa benar ada 1001 warung kopi di Manggar. Mungkin dapur-dapur warga juga dihitung kali,” ujar salah satu anak Belitung yang saya kenal, dengan seringai di wajahnya.

Namun tetap saja, budaya ngopi memang telah mengakar di Manggar, sama seperti di Tanjung Pandan. Dari cerita yang berkembang, budaya ini diturunkan orang Tionghoa pekerja tambang timah yang terbiasa minum kopi sebelum bekerja. Lambat laun kebiasaan itu ditiru banyak orang dan menjadi budaya masyarakat Manggar. Maka, wajar ketika di dinding Warkop Atet terdapat tulisan “Mun Lun Ngupi Lum Sampai Manggar”.

Jika belum ngopi, berarti belum sampai Manggar!

Sarani Pitor Pakan

Pecinta jalan-jalan dan sepak bola. Tinggal di Jakarta.