Kopi Serius

Coffee Savier
Secangkir kopi kecil. © Azhar Rijal Fadlillah

Kopi tentu saja bukan sekadar caffeine, rasa, dan aroma.

Kopi telah menjadi makna dan juga arena pembentukan identitas—yang bagi kebanyakan kelas menengah tentu dianggap lebih penting dari kopi sebagai komoditas. Jadi, boleh dong saya rumuskan, bahwa kebudayaan itu bukan cuma “pameran lukisan” di galeri-galeri estetik. Perilaku mengonsumsi kopi juga kebudayaan, karena di sana bukan hanya ada rasa dan selera, melainkan juga soal pilihan dan citra diri.

Persoalannya, orang-orang update status tempat minum kopi yang cantik dan berkelas mungkin bukan urusan kita, saya agak malas untuk nyinyir soal itu, tetapi tetap saja menarik untuk diperbincangkan bahwa apapun yang terhubungkan dengan kehendak dan perilaku bisa dibaca secara ideologis.

Belakangan ini kampaye-kampanye militan dari para aktivis kopi membuat saya kagum. Mulai dari perbincangan “kopi tanpa gula” hingga “diet kopi sachet”. Hal ini memang dimungkinkan, fenomena the art of science yang baru, apa pun di bawah lensa mikroskop akan menghasilkan perumusan ketat; artinya berkualitas ilmiah dan saat ini yang begitu bukan hanya mikroba atau virus, melainkan juga kopi dan sepakbola.

Proses roasting, grinding, cupping dalam kopi dibedah seteliti mungkin, untuk menghasilkan rumusan ketat tentang kualitas, karakteristik, hingga perlakuan yang konon katanya sangat beragam, tergantung jenis kopinya.

Tidak ada yang salah, sebab seni minum kopi hanya dimungkinkan jika pengetahuan kopi telah berhasil membuka wilayah-wilayah baru. Adalah ilmu kopi yang mengembangkan seni kopi, ya setidaknya bagi saya, pengetahuan dan riwayat tentang kopi akan menambah rasa (juga sensasi) minum kopi. Demikianlah, art of coffee dan science of coffee melebur dalam coffee culture.

Baiklah, sepertinya mulai semakin rumit. Maka paling enak membahas yang rumit-rumit itu kalau diturunkan ke wilayah personal.

Coffee Savier
Coffee Savier. Kedai kopi ini terletak di kaki Gunung Lawu. © Azhar Rijal Fadlillah

Beberapa bulan yang lalu, saya melakukan perjalanan darat dari Jakarta ke Lombok. Sebagai mahasiswa yang masih suntuk di kampus sampai tahun ke 6, tentu waktu liburan yang panjang merupakan kemewahan tersendiri.

Pada hari ketiga, saya melanjutkan perjalanan dari Yogyakarta menuju Malang untuk menjemput kawan yang sudah menunggu di sana. Rute perjalanan hari itu tidak terlalu jauh, dengan tujuan akhir daerah Batu, Malang. Tapi saya sengaja mengambil rute keluar dari jalan nasional, setelah tiba di kota Solo, saya arahkan kendaraan menuju Tawangmangu karena ingin melihat kelokan jalan dan bukit-bukit yang terkenal sangat indah di kawasan Tawangmangu. Di sinilah saya menemukan surga kecil, sebuah kedai kopi bernama Coffee Savier.

Kedai kopi ini terletak di kaki Gunung Lawu, jalan Tawangmagu-Sarangan, kabupaten Magetan, Jawa Timur. Arsitekturnya menyesuaikan dengan kontur tanah yang berbukit, lengkap dengan ornamen-ornamen kayu yang membuat ambience minum kopi menjadi semakin hangat. Begitu masuk, saya langsung disuguhi lanskap deretan pegunungan yang membentang sepanjang horison.

Bisa kalian bayangkan, dalam kondisi lelah setelah berkendara beberapa jam, beristirahat dengan cuaca sejuk dan kabut, di atas meja terhidang kopi yang masih mengepulkan asap tipis, dan jendela tepat di depan meja mengantarkan saya pada pemandangan indah di sebuah kota yang asing. Jomblo pun pasti merasa bahagia duduk-duduk sambil nyeruput kopi di sini.

Coffee Savier
Lanskap deretan pegunungan yang menyegarkan mata. © Azhar Rijal Fadlillah
Coffee Savier
Dari balik jendela kaca.. © Azhar Rijal Fadlillah

Oke, pesan kopi. Saya hampir lupa memesan kopi. Ketika hendak memesan, saya bertanya ada kopi apa saja. Mbak-mbak pencatat pesanan saya agak kebingungan ketika saya bertanya begitu. Dengan sedikit kaku, dia menjawab, “Ya ada kopi hitam, kopi susu, dan kopi tubruk mas”. Wah ini tipikal, pikir saya. Kedai kopi cantik yang gagal memahami science of coffee. Tapi tidak apa-apa, bukan kali pertama saya membayar kopi agak mahal untuk jenis kopi yang agak kurang jelas, masih untung bukan “kopi jagung”.

Teman seperjalanan saya, yang agak elitis untuk soal kopi, sekonyong-konyong nyerocos panjang lebar meminta penjelasan tentang kopi yang akan dipesannya. Setelah diskusi agak alot dengan waiters, akhirnya teman saya—dengan agak ogah-ogahan—memesan “robusta long black”. Masih belum puas, ia melanjutkan gerutuan kepada saya, alamat buruk, kena apesnya juga. Dia bicara panjang lebar tentang tidak seriusnya kedai kopi ini, seperti kebanyakan kedai kopi lainnya.

“Masih jarang ya nemu coffee shop yang beneran jual kopi,” begitu katanya.

Lalu ia segera ngePath dengan nada yang kurang lebih sama seperti gerutuannya tadi. Mungkin bagi kawan saya itu, pilihan kopi menentukan derajat dan kasta dalam hirarki penikmat kopi. Demi mempertahankan citranya sebagai penikmat kopi garis keras, dia harus menulis semacam kritik di media sosial, dengan sedikit bumbu-bumbu ejekan satir tentu lebih gagah.

Saya sendiri adalah golongan penikmat kopi garis lunak. Tidak pernah bermasalah dengan kopi jenis apa. Kalau tersedia kopi specialty ya alhamdulillah, tapi kalau pun hanya kopi robusta tubruk juga gak masalah. Terlebih lagi dalam perjalanan seperti ini, kopi apapun yang terhidang di meja adalah suatu kemewahan yang pantas disyukuri.

Kami menghabiskan waktu lebih dari dua jam di sana, perbincangan yang akrab tumpang tindih dengan gerutuan kawan saya yang satu itu. Alih-alih memesan kopi kedua, robusta long black-nya masih sisa duapertiga. Kalau saya tentu saja memesan lagi, kopi tubruk dengan camilan pisang goreng. Saya memesan hingga kopi ketiga, harap maklum, kopi di sini termasuk “Kopi Kecil” (meminjam istilah Misbach Yusa Biran: 13 Kopi Kecil dan Asap Rokok, dalam buku Keajaiban di Pasar Senen).

Memang benar, di beberapa warung kopi di pulau Jawa, kita sering mendapati “kopi jagung” yang ajaib. Disuguhkan dalam gelas besar, kelewat besar saya pikir, seolah-olah kita sangat kehausan karena baru saja keluar dari padang pasir. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menikmatinya, ada 1.023 cara menikmati kopi.

Kopi sebagai komoditas yang sudah digauli oleh science of coffee membawa kita pada pengertian bahwa kopi yang baik setidaknya harus memenuhi beberapa prasyarat. Karakteristik body, accidity, rasa, aroma tentu adalah kesepakatan ilmiah yang ketat dan serius. Tapi ini hanyalah satu lapis dimensi bukan? Di hadapan pengetahuan, ada saatnya kita perlu untuk membungkukan badan, rendah hati untuk tidak menganggap yang liyan sebagai salah.

Jika perbedaan itu tidak lagi dihormati, saya kira pengetahuan pada konteks tertentu telah diperlakukan sebagai martir. Bibit-bibit fasis yang diperam jauh di dasar kesadaran.

Persoalannya kemudian, jika kopi memiliki sekian banyak dimensi dalam wacana kopi, adakah cara untuk menggalang sikap kritis atas hegemoni makna terhadap kopi? Masih mungkinkah dilakukan suatu penolakan atas klaim makna yang kadang terasa terlalu mendominasi wacana publik? Negosiasi macam apa yang bisa dilakukan atas wacana yang begitu hegemonik?

Sampai sini, klise kemudian berlanjut. Setiap penolakan, merupakan bentuk konstruksi, dan pada gilirannya akan menjadi hegemonik juga. Terlebih lagi, komoditas kopi sebagai diskursus yang “saintifik” terbilang baru di Indonesia.

Jika berpikir utara-selatan—bandul-bandul yang terus bergerak dari satu kutub ke kutub lainnya—memang tidak akan ada habisnya. Sepertinya hidup ini baginya harus selalu hitam putih, tidak boleh berada pada circa, pada antara, tidak boleh ada abu-abu. Segalanya dilihat dikotomis. Oposisi biner yang khas sekali dengan pemikiran “a la barat”.

Itulah sebabnya saya katakan jangan terlalu percaya media massa, sebab media massa mematok hegemoni makna atas dasar jurnalisme komersil yang urgensinya tentu saja adalah kepentingan bisnis. Pada banyak hal, kita memang sesekali perlu kembali menengok ke “timur”, di mana segala hal tidak melulu perlu terjelaskan dengan sempurna. Ruang-ruang abu boleh saja menempati posisinya dengan anggun dan tenang.

Ya, barangkali leher kita lelah terus menerus menengok ke barat, ada baiknya sesekali menengok ke timur sambil nyeruput kopi di sore yang cerah. Nah, biar keren dan gagah, saya tutup catatan ini dengan Joko Pinurbo:

Kurang atau lebih, setiap rezeki
perlu dirayakan dengan secangkir kopi.

Jatinangor, 24 Mei 2015

* Ditulis sambil minum Indocafe Coffeemix

Azhar Rijal Fadlillah

Pencinta Kopi Garis Lunak


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405
  • membaca artikel di atas seolah membaca ketidaktahuan. sebagai penikmat kopi kelas pak tani, saya asing dan bahkan tak tahu apa itu kopi specialty, science of coffee, art of coffee, dll. menyimak perbincangan penikmat kopi di twitter yang membahas specialty serasa Juancuk; membahas ketiadaan. karena kebiasaan kalau ke warung kopi ya, menunya Kopi Hitam Gresik, Sidomulyo, Sidomukti, Gayo, Bali, Arabica, Kopi Ijo, dan Robusta. ya beginilah kantong mahasiswi yang sesekali terisi dari orangtua petani. apapun itu, hidup kopi item.

  • paijo

    jujur saya pusing sama tulisannya :S

  • CangkirKopi

    Menbaca artikel ini menyenangkan, menambah kosa kata tentang kopi, penuturannya terbilang baik, mengalir terus dan dapat dinikmati.
    Dengar cerita ngopi di tawangmangu, sepertinya menarik tempat yang agan share *terutama viewnya* mungkin bisa dikunjungi kala senja jika saya sampai di kota solo 🙂

    Salam,
    Penikmat kopi garis lunak

  • kretekus

    kalau lelah menengok ke barat, ada baiknya sesekali menengok ke timur sambil dipijet pacar dong mas, kok sambil ini ngopi. turut prihatin 🙁

  • Tulisanmu njliment men pak dhe…
    #why so serious?

  • ya..pernah macam temennya..tapi mengingat perkenalan yang bikin sa jatuh cinta dengan kopi tu pun ternyata dari ‘espresso palsu’ ya..ya gimana lagi ya..kopi tu dinikmati aja..bikinnya, metodenya, apa pun di luar kopi berbentuk cairan coklat gelap/hitam itu silahkan diseriusin..balikin ke masing2 pribadi..tapi ketika tu kopi dah tersaji dalam cup dan diberikan pada anda..ada baiknya jika nikmati saja kopi itu..apa pun kopi nya..nikmati dan syukuri berkat kopi nya..IMHO..dengan begitu kopi akan menghantar berkat selanjutnya ke hadapan anda..

  • Bakul Kopi

    belakangan ini banyak sekali perdebatan soal kopi, disamping segala kerumitannya, sesungguhnya saya senang. Ini bukti nyata industri kopi tumbuh makin pesat di Indonesia.

    Salam sruput 🙂

    • Wah terlewat satu komentar hehe..

      Saya juga ikut senang mas Bakul Kopi. Sebagai tim hore-hore kubu pecinta kopi garis lunak, pertumbuhan industri kopi ini bikin pilihan kopi dan tempat ngopi jadi semakin variatif. Hasilnya, seperti halnya industri lain; semakin kompetitif, biasanya berdampak juga pada peningkatan kualitas dan penurunan harga. Konsumen macam saya sih tentu diuntungkan dengan kondisi pasar seperti itu. hehe salam sruput!

      ARF

  • Wah ada beberapa komentar ternyata ya. Maaf-maaf baru sempat cek email notifikasi dari minumkopi 🙂

    Ya begitulah, tulisan saya masih rumit karena konon katanya penulis yang menulis dengan rumit adalah penulis yang belum selesai dengan kerumitan sendiri di dalam kepalanya. Sepertinya saya masih di tahap itu mas Banghen dan Paijo 🙂

    Mba Nurvianti Siti, sejujurnya saya juga tidak begitu paham dengan teknis dunia kopi yang rumit bukan main itu. Ya, apa boleh buat. Sebagai peminum kopi awam yang ingin terlihat sok-keren, saya jadi nulis beginian deh. Hidup kopi item mb! 🙂

    Mampirlah mas/mba Cangkir Kopi, lumayan cukup nyaman kedai ini. Ya untuk sekadar mengusir lelah perjalanan hehe 🙂

    Mas/mba Kretekus, saya juga inginnya ya seperti itu. Tapi mau gimana lagi kalau si pacar ternyata gak suka mijet. Lebih baik ngopi saja toh, daripada “pijet” diluar :p

    Benar sekali mas Ampaskopitubruk. Ada baiknya kopi itu dinikmati saja jika sudah tersaji di meja 🙂
    —————–

    Jadi pengen nyeruput nih, salam sruput semuanya!
    ARF

  • Nice ,,thanks ya artikelnya

    • Terimakasih mas Arie Joey, sudah mampir dan baca tulisan yang tidak serius atas kopi–yang konon katanya harus diperlakukan serius 🙂

      Salam sruput.

  • wah, kapan2 kalo lewat harus mampir nih .. Tks sharingnya .
    Saya pernah lewat ketika trip Tasikmalaya-Bromo-Batu-Madiun-Magetan-Solo-Temanggung-Tasikmalaya, view-nya emang cakep ….

  • Saya suka tulisannya yg begitu renyah dibaca. Sy juga penikmat kopi. Awalnya cuma tau kopi2 instan tapi setelah mencicipi kopi specialty itu kopi2 kemasan instan “lewat” hahaha… Sekarang sy hanya meminum kopi specialty arabica & luwak specialty saja kopi2 instan sudah tdk masuk selera sy lagi. Dan alhamdulillah kini sy berbisnis kopi specialty dan sudah bisa memproduksi sendiri kopi specialty sendiri utk kalangan tertentu.

    • Terima kasih mba Ririn 🙂
      Boleh tuh saya icip-icip kopi produksinya hehe
      bisa didapat dimana ya mba?

  • Silahkan kunjungi Fan Page di FB Soenda Mountain Preanger Specialty. Kalau mau order silahkan 😉

  • Sy sepakat pisan nih sama artikel mas.., konten seperti ini sering-kali Sy ajukan k hadapan para penikmat kopi, barista & bahkan master roasted yg ada d daerah Sy.,

    Oy gpp y mas artikelnya sy share.,!?