Kopi Sembalun dan Secangkir Rindu Pada Ibu

Pintu masuk "King Coffee".
Pintu masuk “King Coffee”. | © Muammar Nur Islami

Saya baru saja sampai di kota bunga itu ketika seorang teman mengajak untuk ngopi. Tak ada alasan untuk menolaknya, hitung-hitung sambil rehat dari lelah karena perjalanan. Bukankah kopi adalah sahabat tepat untuk rehat dan melepas lelah?

Langit kota Malang masih mendung siang itu. King Coffee. Demikian nama warung kopi yang kami tandangi. Tempatnya berada persis di pinggir jalan raya. Entah jalan apa namanya. Agaknya King Coffee cukup dikenal, karena ketika kami singgah, kendaraan sudah memenuhi pelataran kedai itu.

Di dalam, terlihat beberapa anak muda tengah mengobrol. Saya melihat kepulan asap rokok membubung menemani perbincangan mereka. Di atas meja mereka tidak hanya ada kopi, beberapa gelas justru terisi oleh beberapa jenis minuman lain seperti, susu dan jus.

Kami menuju seorang pemuda penjaga warung. King Coffee menyediakan beberapa jenis kopi, baik arabika maupun robusta. Tapi, saat itu mata saya hanya tertuju pada satu kopi yang berada di urutan terakhir papan daftar menu itu: Kopi Sembalun.

Kopi sembalun adalah salah satu jenis arabika. Ia adalah kopi produk petani-petani di wilayah Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Nama sembalun merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Lombok Timur. Konon, nama itu sendiri berasal dari bahasa Sasak, Sembah Ulun yang berarti menyembah yang lebih tinggi.

Saya mengenal sembalun sebagai sebuah wilayah pegunungan lain di Indonesia yang umumnya menjadi tempat wisata. Selain tentu sja merupakan daerah subur, sehingga tidak mengherankan jika masyarakatnya berprofesi sebagai petani.

Sering orang-orang dataran rendah ke sana membawa hasil produksinya seperti barang-barang rajutan dari bambu, membawa ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan, atau pun hasil-hasil pertanian yang dirasa kurang maupun sulit didapatkan di dataran tinggi. Di sanalah masyarakat saling melengkapi kebutuhannya masing-masing. Orang dataran tiggi bertemu orang dataran rendah. Indah sekali cara Tuhan membuat kita saling terhubung, menjadikan sebagian masyarakat saling membutuhkan satu sama lain.

Saya tidak asing dengan hal ini karena nenek biasanya ke Sembalun untuk berdagang; menjual kelapa, nangka, sampai alat-alat memasak. Biasanya, nenek akan berangkat ke Sembalun hari Sabtu, menginap sehari, sebelum kemudian kembali turun di hari Senin.

Buah kopi sembalun. Kopi sembalun termasuk salah satu kopi terbaik asal NTB.
Buah kopi sembalun. Kopi sembalun termasuk salah satu kopi terbaik asal NTB. | Sumber: anakpapabandy.blogspot.co.id
Biji Kopi Sembalun
Biji Kopi Sembalun | Sumber: hadiyahhayati.wordpress

Mendengar nama Sembalun, yang muncul dalam benak saya adalah tentang puncak Rinjani; tentang daerah berhawa dingin, dan tentu saja nenek yang selalu saban Sabtu ke sana untuk menjual barang-barang yang sudah disiapkannya.

Dalam berbagai kenangan dan ingatan tentang Sembalun, tidak pernah sedikit pun kopi muncul dan hadir di dalamnya. Bukan berarti saya tidak tahu ada kopi di Sembalun. Namun kopi, dalam kehidupan kami di masyarakat sudah terlalu melekat dan menjadi pelengkap kehidupan sehari-hari.

Maka, wajar jika saya terkejut dan penasaran ketika melihat daftar menu di sebuah kafe yang bukan di Lombok tapi menyediakan “kopi sembalun”. Kopi yang saya sendiri belum pernah mencicipinya di Lombok dengan penyajian nontubruk seperti kebiasaan kami di desa.

Kopi dan sembalun tentu dua hal yang berbeda. Namun ketika telah disatukan; “kopi sembalun”, dia membentuk satu makna baru, yang akan mengasosiasikan dan menarik segala ingatan saya tentang kampung halaman, dan tentu saja memanggil kembali rindu pada Ibu. Beliau lah sosok yang pertama mengenalkanku pada segelas kopi. Ibu suka minum kopi. Dan itu ia tularkan kepada anak-anaknya.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kopi telah menjadi keseharian yang tak terpisahkan. Setiap kali bertamu ke rumah teman atau saudara, tak lengkap tanpa secangkir kopi sebagai sajian. Pun begitu dengan kegiatan keagamaan seperti tahlilan dan kenduri (slametan), tak lengkap tanpa ada kopi.

* * *

Ibu juga memiliki kebiasaan minum kopi. Tentu kopi yang kami miliki tidak sama dengan kopi Anda orang-orang kota, di mana kopi hadir dan menjadi gaya hidup. Bahkan pada level tertentu, intensitas kehadiran di warung kopi dan atau tempat ngopi dijadikan sebagai tolok ukur kelas kepantasan dan kualitas seseorang.

Di desa, ibu akan membeli biji kopi dan mengolahnya sendiri hingga menjadi bubuk kopi yang siap untuk dihidangkan. Sesekali untuk menambah rasa, kadang dalam proses penggilingan, ibu mencampurkan padanya biji kedelai atau bahkan beberapa butir beras. Untuk rasa dan aroma, ungkapnya. Pagi-pagi, kami akan diseduhi kopi, selain susu tentu saja.

Dan menjadi kebiasaan bagi kami untuk menyandingkan kopi dengan makanan tradisional lainnya. Ubi dan jagung rebus misalnya.

Di belakang rumah, di kebun nenek tepatnya, terdapat dua pohon kopi. Saya tidak tahu jenis apa, dan sudah sejak kapan. Memetik kopi sendiri walau hanya seberapa, kemudian mengolahnya, dan meracik serta menyiapkan sendiri kopi-kopi itu sudah cukup. Tidak perlu neko-neko mencari kopi jenis apa untuk dihidangkan. Bukankah sebuah ironi jika tinggal di wilayah petani kopi, tapi membeli kopi sasetan untuk dinikmati?

Momen masa kecil; mengumpulkan biji kopi dan memetiknya, kini muncul kembali melalui cangkir kopi sembalun yang telah saya pesan. Kopi sembalun bukan hanya telah memberiku berbagai pengetahuan baru tentang kehadiran kopi di daerah asal. Namun juga membawa sederet kerinduan pada kampung halaman, rumah, dan tentu saja ibu.

Muammar Nur Islami

Pemuda kelahiran Lombok yang menyenangi cerita dan film. Saat ini bermukim sementara di Malang.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405