Kopi Sebagai “Koentji Eksistensi”

Kian bertambah umur, naturally orang akan kian sublim, begitulah umumnya. Apa yang dimaksud sublim di sini kiranya cukup tepat untuk diwakilkan pada klaim skeptis Nietzsche; The great intellects are skepticism. Begitu dawuh baginda Nihilisme yang juara banget kumisnya ini.

Apa hubungannya dengan kopi?

Well, sebelum ke sana, saya ingin merunutkan dulu bagaimana manusia secara alamiah berhasrat untuk lebih sublim seiring mendekatnya ia pada liang lahat.

Di dunia ini, bila ada orang idealis total, sebutlah misal menolak mentah-mentah apa pun yang tidak sesuai prinsipnya, pastilah ia masih sangat belia. Pastilah pula ia memikul istri dan anak yang butuh banyak biaya sekolah. Dan pastilah juga ia belum pernah menerima sodoran billing bertampang nol banyak.

Hanya ada satu kata, LAWAN! Pekikan Wiji Thukul ini amat disenangi sebagai grunge perlawanan kaum idealis tadi.

Ya, anak muda ya memang harus idealis. Harus lantang berteriak! Anak muda dilarang skeptis karena itu merupakan takdir generasi yang lebih berumur. Maka bila ada anak muda yang skeptis, pertanda ia keburu tua sebelum masanya. Sebaliknya, bila ada orangtua yang ndak kunjung sublim, pertanda ia telat matang.

Seiring bertambahnya usia, yang itu berarti setting dan dimensi hidupnya kian berkembang, yang bisa ditandai dengan munculnya tanggungjawab terhadap orang-orang lain, idealisme tadi akan mengencer. Bukan hilang, hanya melunak. Kata WS Rendra, inilah masa di mana tidak semua niat baik akan sanggup berlaga.

Apa pasal?

Realitas hidup. Sebuah meja perjamuan yang tak kuasa ditolak oleh siapa pun. Idealisme tadi naturally akan mensublim dengan realitas hidup. Kawah sublimasi inilah yang pada gilirannya mengantarkan kita ke peraduan skepstisisme.

Oh, tidak! Jangan kau kira saya hendak menuturkan bahwa skeptisisme yang ngelokro merupakan jalan hidup yang layak diperjuangkan. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa mengencernya idealisme tadi, yang niscaya ditandai dengan hadirnya pengertian akan pentingnya negosiasi dan kompromi, akan membuhulkan sikap-sikap rendah hati pada diri kita. Ya demi bersublim dengan realitas hidup tadi.

René Descartes dengan sokongan kaum Rasionalis macam Spinoza, Leibnitz, dan Wolf boleh saja terus memekik: “Aku berpikir maka aku ada”, tapi rokok ya tetap harus mengepul dan kopi ya tetap kudu mengebul. Kata almarhum Nardi, seorang komedian tradisional Madura, “Ideologi adalah sarung! Sehebat apa pun kamu berpikir, bila tak punya sarung, maka kamu akan kedinginan!”

Jadi, sampai di sini, terang bahwa pertambahan usia meniscayakan sublimasi diri di hadapan realitas.

Oke, clear.

Kopi dan Camilan
Kopi dan sedikit camilan mampu membuat jaringan sosial di masyarakat bertautan. © Nody Arizona

Lalu kopi. Kita tahu, dalam sebagian besar tradisi Nusantara, kopi bukan sekadar sebuah minuman, tapi way of life. Orang-orang gejet menyebutnya life style. Namanya way of life, ia menjadi sirah. Tak salah bila sebagian orang menyebut kegiatan ngopi sebagai kegiatan beragama, dengan menunjuk pada peran substantif kopi itu.

Sirah, sebagai prosesi napak tilas menandai eksistensi kita. Sudahlah, mari langgar sedikit saja petuah Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi manusia adalah imajinasinya, juga Nietzsche yang menyandarkan eksistensi sebagai nihilisasi, lalu mari kita berpikir bahwa ngopi merupakan jalan untuk menabalkan diri pada jalan leluhur, dari perkerabatan hingga persahabatan.

Ingat bahwa ndak ada manusia yang sanggup mengingkari garis leluhurnya. Ndak ada! Malin Kundang pun menyesal luar biasa karena mengingkari ibunya. Kenapa? Sebab ia adalah identitas diri, the way of existence, yang oleh Martin Heidegger disebut Sein, Being (Ada).

Itulah sebabnya kita begitu bangga menyebut diri keturunan si Fulan, dari daerah anu, berkerabat dengan anu, pernah berguru sama anu, dan seterusnya. Ini bukan tentang gaya feodialistik, tapi manifestasi bereksistensi atas dasar identitas primordial yang azali, sangkan paraning dumadi.

Dan, kopi ternyata mengambil peran sangat signifikan dalam bentangan identifikasi diri ini.

Anda tahu, sebuah perjumpaan dan obrolan, penting atau basa-basi, selalu ditemani camilan. Jangan harap Anda akan disebut beradat bila tidak menyuguhkan setidaknya minuman pada tamu. Pun jangan harap Anda akan at home bila tidak piawai memilih tempat ngobrol yang bercamilan. Di dalamnya, pasti kopi hadir.

Kopi selalu mengambil peran filosofis dan historis sebagai bagian dari eksistensi diri. Maka ndak usah heran bila Anda akan dihargai orang lain lantaran Anda punya segudang pengalaman ngopi atau pengetahuan kopi yang memukau. Dalam pertemuan tiga jam, boleh jadi obrolan penting hanya memakan jeda setengah jam, selebihnya tentang kopi, dan sederet basa-basi lainnya dengan tetap berteman kopi.

Di Madura, misal, ada istilah “ngopi attas” dan “ngopi bebheh”, di mana ngopi bebheh dianggap secara luas lebih bernilai nguwongke wong dibanding ngopi bebheh.

Ngopi attas (ngopi atas) ialah cara ngopi dengan tinggal menuangkan kopi yang sudah diseduh. Ia telah dipersiapkan sebelumnya, sebutlah dalam sebuah teko. Cara ini bersifat massif. Tidak ada nilai impersonal di sini.

Ngopi bebheh ialah cara ngopi dengan menyeduh bubuk kopi di saat tamu baru datang. Benar-benar bernilai spesial-impersonal. Di beberapa tempat, bahkan tuan rumah sengaja menyeduh kopi di depan tamunya. Biasanya, ini dilakukan hanya pada tamu yang sudah sangat dekat.

Ada nilai humanistik yang hierarkis ternyata di balik gaya ngopi atas dan ngopi bawah tadi. Ada potret eksistensial. Dan itu selalu berbasis pada sirah tadi; perkerabatan atau persahabatan. Nilai hierarkis ini sangat tidak bisa diakali, dibuat-buat, atau dibayari. Ia sehunjam nilai eksistensial yang berkelejar di dalam dada setiap personal yang terlibat di dalamnya.

Saya tiba-tiba teringat Alfred North Whitehead yang sangat populer dengan Filsafat Proses-nya. Dalam bukunya Science and the Modern World (1959), ia memfilosofikan masyarakat dalam tiga lema: Entity, Nexus, dan Society.

Whitehead mengatakan bahwa sebuah society (masyarakat) merupakan “buah pertautan” dari banyak entity (individu) yang bisa “mengumpul” berkat jalinan tali “nexus”. Entities inilah yang pada gilirannya membentuk society. Dan nexus sebagai pengikatnya.

Para entity Tarbiyah, misal, terikat kuat oleh nexus bernama “gerbong khilafah”, jadilah mereka masyarakat Tarbiyah. Maka siapa pun yang tidak memegang nexus tersebut, terpelantinglah ia dari masyarakat Tarbiyah ini. Begitu?

Demikian pula kaum penulis, seni rupa, seni film, klub motor, seniman mural, para penggila MotoGP, fans bola, dan sebagainya. Semuanya merupakan satuan entities yang diikat oleh nexus hingga membentuk sebuah society.

Dan, ternyata mayoritas (untuk tidak diklaim semua) society selalu melibatkan kopi sebagai bagian dari media nexus-nya. Ndak peduli society ideologis maupun bisnis, idealisme maupun hedonisme, semuanya melibatkan kopi. Anda tidak mungkin menemukan bir, misal, di antara society Tarbiyah sebagai minuman pemersatu mereka. Kopi benar-benar lintas society.

Begitulah eksotisme kopi menjadi media nexus di antara kita; sekali waktu ia memainkan peran material kala dijabarkan pada kelas kategorialnya, sesekali lainnya ia menjalankan peran komunal dalam bermasyarakat, dan sekali lainnya ia menahbiskan diri sebagai pemeran eksistensial dalam kesadaran personal.

Maka jangan lagi-lagi meremehkan “peradaban kopi” sebagai koentji kehidupan ini. Kopi benar-benar koentji-nya!

Kemampuan Anda ngopi akan berbanding lurus dengan kemampuan Anda bersirah, berideologi, bersosial, dan bereksistensi. Siapa pun yang mengidap mag (ganguan lambung) sehingga menjauhi kopi, sebaiknya ia bersegera cemas atas kualitas sublimasi hidupnya. Sebab itulah tanda-tanda awal ia akan menemui masalah serius dalam mensirahi eksistensi hidupnya.

Celakanya, saya bagian dari pengidap mag ini! Tolonnnggg….

Edi AH Iyubenu

Pedagang yang calon doktor Islamic Studies yang resah sama “Minyak Babi Cap Onta”.

  • Selalu ketawa kalau baca tulisan pak Edi 😀

  • Di tempat saya, pemakaian wadah kopi bahkan menjadi bagian Dari “Etika” dalam menyajikan kopi. Gelas biasa tidak elok dipakai untuk menyajikan kopi untuk (tamu)

  • Gelas biasa itu, gelas bening yg biasa ada di Warkop. Jadi, kopi untuk tamu, harus disajikan dengan cangkir porselen yang lengkap dengan lepek, dan tutupnya.