Kopi, Santri, dan Doa

“Ini kopi plus doa, rek!” kata Wawan Arif.

Aku mengenal jenis kopi langka ini kala terlibat dalam even pameran buku dwi tahunan, yang diselenggarakan oleh IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti biasa, dalam kegiatan yang membutuhkan banyak persiapan semacam ini, rapat digelar secara bertubi-tubi. Dan dalam setiap rapat yang digelar itu senantiasa terhidang camilan, rokok, dan kopi.

Khusus yang terakhir disebut, ada hal yang di luar kebiasaan. Memang kopi banyak mereknya. Tetapi, merek kopi yang disuguhkan kali itu tetap saja berbeda. Kopi Mahkota Raja. Kopi ini memperpadukan kopi dan doa.

Kopi Mahkota Raja
Secangkir kopi Mahkota Raja. Semoga mendapat limpahan barokah. © Syahid IKAPI DIY

Aku mencoba tipe robusta. Bagi lidahku, rasanya mirip dengan kopi toraja atau gayo.

Di Yogyakarta belakangan ini memang sedang menjamur warung kopi, yang setiap harinya dikunjungi peminum kopi dari berbagai golongan masyarakat. Setiap meja atau lingkaran masyarakat ada saja topik yang dibincangkan. Barangkali ini bedanya, antara kopi dan ngopi. Kopi hanya kata benda, sedang ngopi adalah aktivitas bersosialisasi dengan perantara segelas kopi.

Ya, sesuai dengan filosofi itu kopi Mahkota Raja tercipta.

Berawal dari kebiasaan para santri menyeduh kopi sebelum berdoa di malam hari. Mereka percaya kopi adalah awal dari doa yang istiqomah. Begitu juga sebaliknya. Bahwa kopi yang didoakan akan memantapkan hati pelantunnya. Kemantapan hati itulah kunci terkabulnya doa.

Seperti halnya dengan penyantuman ‘blend doa’ dalam kemasan kopi racikan santri ini. Harapannya, peminum kopi Mahkota Raja mendapatkan limpahan berkah. Selain diproses secara profesional (taste dan kualitas), juga melalui proses spiritual (riyadhah, puji-pujian, dan doa-doa). Sebelum proses produksi, kopi didoakan dengan bacaan manaqib dan khatmil Quran (hafalan Al-Quran) oleh para kiai dan santri.

Sebuah nilai tambah yang menjadikan kopi menarik dicoba. Maka tak heran jika pertumbuhan produksi kopi Mahkota Raja begitu cepat. Barangkali, ada campur tangan ‘malaikat’ dalam yang melancarkan distribusi kopi doa ini.

Kopi Mahkota Raja
Biji sangrai kopi Mahkota Raja. © Syahid IKAPI DIY
Kopi Mahkota Raja
3 in 1, kopi, gula, dan doa. © Syahid IKAPI DIY

Menurut Wawan, yang turut hadir dalam peluncuran kopi Mahkota Raja di Sidoarjo, produk kopi doa ini tergolong langka di kalangan komunitas perkopian Indonesia. Bahkan, satu-satunya kopi doa yang pernah ada. Bukan hal yang mengagetkan jika penjualan produk ini mencapai 35-45 ton per bulannya. Apalagi proses itu dikerjakan oleh 300-400 santri. Volume yang cukup mengejutkan untuk pesantren yang baru memulai bisnis kopi. Rata-rata kopi dijual di pasar lokal dengan harga Rp 30 ribu (biji sangrai dan bubuk).

Total pendapatan mencapai 1 miliar tiap tahunnya. Respon masyarakat sangat bagus. Di samping karena ada unsur doa, menurut KH. M Zakki Mukmin, pengasuh pesantren tersebut, hampir semua santri yang mengerjakannya telah hafal mushaf Al-Quran.

Kemudian muncul pertanyaan dariku, ini sebuah industri apa pondok pesantren? Wawan menjawab, “Ya memang begitu, kopi ini memang terlahir di Pondok Pesantren Mukmin Mandiri, Sidoarjo, sebuah Pesantren Agrobisnis dan Agroindustri. Jadi tidak hanya ilmu rohani yang diajarkan di sana, melainkan dilatih untuk menciptakan industri kreatif juga.”

Kopi doa ini mulai dibuat sejak 2012. Dan pemasaran kopi Mahkota Raja telah mencapai luar negeri, khususnya Malaysia dan Dubai. Jika dihitung berdasarkan mata uang Indonesia, harga perkilo kopi mencapai Rp 70 ribu. Bahkan, kabarnya kopi Mahkota Raja sedang menjajaki pasar Eropa.

Rohmadie Soesanto

Suka sastra sejak kecil. Aktif di penerbitan buku indie jogja. Tidak pernah berbohong soal rasa.

  • Cara pesan kopi mahkota raja bagaimana?? Please contact me in email cahayasword@yahoo.com

  • Kalau mau pesen kopi itu dimana ya? semisal plesiran ke Sidoarjo, warung kopi mana yang menyediakan kopi do’a itu?