Kopi Rempah “Katong Pung Kopi”

Kopi dan pala adalah komoditas yang pernah meramaikan laut Nusantara karena perdagangan. Keduanya memiliki rantai kisah yang panjang. Tapi bagaimana jika kedua komoditas yang paling berharga dalam menentukan sejarah Indonesia ini disatukan dalam satu aroma dan rasa: kopi pala.

Seperti yang dilakukan oleh kedua pasangan suami-istri Bang Nanang dan Caca Ega. Keduanya sudah hampir dua tahun mengolah kopi secara mandiri. Mulai dari pemesanan biji kopi, pemilihan kualitas, roasted (sangrai), pengemasan, hingga pemasaran. Hanya mesin grinder yang belum mereka miliki.

Kopi yang cukup nikmat khas maluku dan dilabeli “Katong Pung Kopi” yang berarti “kopi punya kita”.
Untuk mendapat biji kopi, mereka biasanya dapat dari pulau Seram, pulau besar di bagian utara pulau Ambon. Sejauh ini, hanya Seram yang bisa memasok biji kopi untuk mereka. Varian biji kopinya adalah robusta.

Berbekal pengalaman keluar dan belajar di kampung-kampung, akhirnya memudahkan mereka mendapatkan biji-iji kopi untuk diolah. Mereka juga memiliki banyak kenalan petani-petani kopi. Meski tak begitu banyak, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan bisnis mereka.

Bagi Nanang dan Ega, berkunjung dan tinggal di kampung-kampung, selain untuk belajar dan mencari pasokan kopi juga untuk bertemu dengan petani dan mengenal proses bagaimana petani mengelola biji kopinya sebelum dan sesudah panen. Selain itu, berinteraksi dengan petani secara langsung juga dapat memudahkan proses negosiasi biji kopi sesuai harga yang mereka butuhkan.

Biasanya, mereka memesan langsung lewat petani kopi agar pasaran biji kopi yang bisa dijual dengan harga yang sesuai. Nanang dan Eca tidak melalui pihak ketiga yang kadang menerima biji kopi dari petani dengan harga yang lebih murah, namun menjual kembali dengan harga yang cenderung lebih mahal.

Untuk menjual kopi, petani harus lebih dulu tahu harga kopi di pasaran. Dengan begitu, produksi panen dan kebutuhan rumah tangga yang kadang naik turun dapat disesuaikan dan dikendalikan.

Berhubungan langsung dengan petani adalah salah satu prinsip mata rantai sistem ekonomi yang berimbang. Antara pembeli dan penjual sama-sama memiliki hak yang sama dalam penawaran sehingga harga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Tentu hal ini akan sedikit berbeda jika harga harus ditentukan lewat penadah pihak ketiga.

Tahun pertama antara bulan juni-juli 2015, kopi yang dikirim dari petani sekitar 98 kg dengan harga kopi sekitar 20-45 ribu/kg. Kopi tersebut dikirim ke kota Ambon untuk memulai proses pemilihan biji kopi (sortir) untuk selanjutnya diolah. Kadang, jika persediaan kopi banyak, biasanya proses pemilihan biji kopi dibantu oleh teman-teman mereka. Pemilihan biji kopi bisa dilakukan di rumah, bisa juga dibawa pulang. Saya pernah membantu mereka dengan melakukan pemilihan biji kopi sekitar kurang lebih 2 kg.

Setelah proses pemilihan biji kopi selesai, berikutnya adalah roasting (sangrai) biji kopi. Karena alat yang terbatas, proses roasting yang dilakukan oleh mereka biasanya juga manual. Kompor dengan api menyala stabil. Kopi yang di-roasting biasanya habis sekitar 2 kg dalam sehari, dimulai pukul 7 pagi dan selesai pukul 6 sore.

Kadang, proses roasting juga bisa menggunakan oven pemanggangan. Proses tersebut memang memiliki perbedaan tersendiri. Jika menggunakan oven pemanggang, prosesn roasting dimulai dari pukul 7 pagi dan selesainya pukul 6 malam akan menghasilkan sekitar 3-5 kg.

Proses roasting menggunakan oven pemanggang dan sangrai masing-masing memiliki keunggulan dan kualitas berbeda. Untuk sementara, mereka lebih memilih menggunakan oven pemanggang karena disamping sedikit lebih efektif, juga tidak memakan banyak tenaga. Selain itu, warna biji kopi juga lebih merata, dan hasilnya agak lebih banyak daripada sangrai sebelumnya.

Katong Pung Kopi
Katong Pung Kopi | © Chalid Bin Walid Pelu

Sejak berproduksi pada 2015, Katong Pung Kopi cukup memiliki banyak peminat. Kopi ini memiliki beberapa jenis ukuran dalam kemasan dengan harga yang berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiwa. Di kantin kampus Universitas Patimura, ada beberapa pelanggan tetap yang menyukai kopi ini. Beberapa mahasiswa adalah peminum kopi yang tekun. Biasanya sambil menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan menukar cerita, sebagai pelengkap, selalu ada kopi di atas meja.

Ada empat jenis kopi kemasan Katong Pung Kopi. Untuk 100 gr biasanya dijadikan sebagai oleh-oleh kepada mereka yang berkunjung ke Ambon. Untuk pembeli yang berasal dari Ambon, umumya membeli yang berukuran 250 gr, sementara untuk pelanggan tetap biasanya membeli 500 gr. Ada juga ukuran 1 kg yang biasanya dipesan oleh orang-orang yang berasal dari luar Ambon uuntuk bekal pulang juga oleh-oleh.

Meski masih aktif membuat kopi, agenda belajar kampung dan menemui petani-petani kopi juga masih rutin mereka lakukan. Kegiatan itu biasanya dilakukan jika ada kebutuhan mendesak dan tiba-tiba.

Hingga terakhir ditemui, mereka sedang mengurusi perizinan agar kelancaran bisnis. Ke depan, mereka berharap Katong Pung Kopi semakin disukai oleh banyak orang. Semoga.

Chalid Bin Walid Pelu

Mahasiswa tingkat akhir dan penikmat kopi apa saja.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com